Ini tahun pertama Hifza memasuki sekolah Perguruan tinggi, dirinya mengambil jurusan teknik informatika. Hifza kembali dipertemukan dengan Alvaro, sedangkan Daren dia mengambil jurusan kedokteran.
Dan apakah selama beberapa tahun belakangan Hifza mengambil langkah terhadap pendekatan pada keduanya? jawabannya adalah tidak, dirinya terlalu gengsi.
“Kemana hati ku akan berlabuh? apa pada Alvaro?” batinnya sembari memegang dadanya seolah bertanya
“Apakah aku bisa? dia terlalu ramah kepada semua orang, aku jadi tidak bisa menafsirkan ketertarikan nya pada siapa” gumamku sembari terus menatap Alvaro yang tengah berbicara dengan para siswi yang sama ambisius nya dengan Alvaro tentunya.
“Sedangkan Daren, aku bahkan tak begitu dekat dengannya padahal sudah 3 tahun berlalu... dan dia menyukai Nidy, rasanya kecil kemungkinan Nidy akan menolak Daren suatu hari jika Daren siap” batinku gundah.
“Apa aku tidak ditakdirkan untuk mereka berdua?” kalimat terakhir ku pasrah.
⊱❁⊰
Hari ini adalah hari pernikahan kakaknya Alvaro, dan dia mengundang banyak teman temannya kesana termasuk Aku, Nidy dan Daren.
Kami pun berkumpul berempat, sembari bernostalgia kenangan SMA. Hingga Nidy berpamitan untuk pulang terlebih dahulu karena kepalanya terasa pusing, Daren pun menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.
“Kenapa rasanya sakit, apa aku mencintai Daren... tapi Alvaro?” aku menatap ke arah Alvaro yang tengah sibuk berbicara dengan keluarga nya.
kemudian seorang pelayan mendekat kearahku sembari membawa segelas minuman, dan langsung menawarkan nya kepadaku... Akupun menerimanya dan langsung meminumnya.
“Astaga, apa itu minuman beralkohol”gumamku ketika menyadari rasa dan baunya sayang aku sudah langsung meneguk nya.
Tidak lama kemudian, aku merasa ada yang aneh di dalam tubuhku... hawa tubuhku terasa panas, kepala ku pusing, aku merasa kehilangan kendali pada kesadaran ku seperti orang mabuk.
“Alvaro... ” panggilku ingin berpamitan ketika aku melihat Alvaro mendekat kearahku dengan wajah bingung, namun langkah Alvaro langsung terputar berbalik ketika ibunya menarik lengan Alvaro menuju kerumunan keluarga yang akan ber foto.
Aku yang sudah tidak tahan pun langsung bergegas keluar
“Aku harus pulang, taxi taxi!” racauku tak karuan sembari terus melangkah menyusuri jalan yang tengah sepi lalu lintas.
Hingga sebuah cahaya seperti mengarah tepat ke padaku, aku hanya bisa berteriak kemudian merasa tubuhku melayang dan jatuh ke tanah.
tidak aku tidak tertabrak, ada yang menarikku dan jatuh bersama ke tanah.
Aku seperti mengenali nya, tidak entahlah pandanganku benar benar samar aku benar benar lepas kendali dan langsung memagut bibirnya tanpa ampun. Dia memasukkanku dengan paksa ke dalam mobilnya, setelah berhasil memutuskan ciuman paksa ku tadi.
“Dimana ini, ayo kita bersenang-senang” racauku tak karuan, padahal ini di rumah ku sendiri.
Dia mendorong ku ke arah ranjangku, dan berjalan menuju keluar kamar. Aku yang sudah mabuk ditambah hawa panas yang entah karena apa langsung menariknya dan membuat hal yang tidak seharusnya menjadi terjadi tanpa dapat kami kendalikan.
⊱❁⊰
Keesokan harinya akun terbangun dengan pusing yang sangat amat terasa, aku mendapati tubuhku menggunakan baju tidur tentu ini bukan baju yang tadi malam ku pakai ke pesta.
Aku dilanda kebingungan serta rasa takut ketika aku merasakan sakit di area sensitif dan menemukan sebuah bercak merah di seprai, tanpa mengingat apapun aku menangis.
“Ya tuhan, apa yang terjadi padaku”lirihku terisak.
Aku melihat secarik kertas di atas nakas dan mulai membaca goresan tangan disana...
𖣊𖣊𖣊
Aku sangat meminta maaf kepadamu atas kejadian tadi malam, ini salahku karena tidak bisa mengendalikan diri. Maaf aku pergi tanpa berbicara padamu terlebih dahulu, aku akan menemui mu ketika aku siap.
𖣊𖣊𖣊
“Aku hanya berharap kamu orang baik, tidak masalah jika kita tidak bertemu lagi... ini terlalu memalukan untukku”gumamku dengan isak tangis yang tak dapat ku hentikan.
“Semoga ini Hanya Sebatas One Night Stand, aku tidak sanggup jika harus bertemu dengan nya lagi”
END.
(Cerpen bersambung dari Day8 - Day14)