"Aku benci Kamu!", teriak seorang gadis sambil menggebrak meja.
Aku yang sedang asik menikmati makan mie ayam kesukaanku, hampir saja lompat dari tempat dudukku, mukaku pucat, baru saja hendak memasukkan sesuap mie, sudah disuguhi adegan seperti di sinetron-sinetron.
Teman-teman sekolahku yang juga sedang makan semuanya berhenti, ketika mereka melihat mukaku semuanya tertawa terbahak-bahak, mie ayam yang tidak pakai permisi nempel di hidungku.
Sepasang kekasih yang tadi jadi pusat perhatian segera berlalu dari tempat itu, tentunya setelah membayar makanan mereka yang tidak dihabiskan.
"Jangan-jangan yang cowoknya selingkuh deh", kata Mia membuka obrolan.
Mulai deh, kataku dalam hati. Aku hanya heran mengapa sih mereka tidak ribut di tempat lain saja, kan sekarang mereka jadi bahan ghibah teman-temanku. Rasa mie ayamnya jadi aneh, batinku lagi.
"Iya, biasanya begitu", sambung Nur, "Kakakku juga pernah marahin cowoknya didepan umum, gara-gara cowoknya lupa membawa apa yang kakakku inginkan", ceritanya lagi.
"Apa tidak bisa ditahan dulu marahnya, nunggu ditempat sepi dulu kek, baru diomongin, misalnya kuburan gitu", jawabku asal.
Tak!, keningku disentil sama Rita, "Aduh!, tolong!, ada KDRT disini, akan aku bawa masalah ini ke Komnas HAM!", ancam ku sembari mengelus kening dan melotot ke arah Rita.
"Naomi, bisa serius dikit ga sih?", jawab Rita dengan wajah serius.
Dina tertawa melihat wajahku yang cemberut, ia lalu berkata," kamu juga akan benci ke pacarmu kalau dia selingkuh atau berulang kali melakukan kesalahan yang sama didepan matamu".
Aku melirik ke arah Dina dan berkata," ya, mentang-mentang punya pacar banyak, memang beda omongannya".
Aku melanjutkan omonganku lagi," Walau aku belum pernah merasakan pacaran yang sesungguhnya, tapi bisa ga sih segala sesuatunya dibicarakan baik-baik, apa tidak mikir, marah-marah seperti itu bisa membuat mood orang sekitarnya jadi kacau, tahu ga".
"Nih contohnya, aku lapar dan aku kangen sama mie ayam kesukaanku, aku tadi semangat banget pada saat mau makan, eh, baru juga satu suap sudah ada adegan tadi, kan jadinya aku malas makan, padahal aku lapar, siapa hayo yang mau tanggung jawab, sementara pasangan drama tadi sudah pergi", aku menjelaskan dengan nada sedikit sewot.
"Naomi, jadi dari tadi yang kamu pikirin itu cuma mie ayam saja", teriak teman-temanku serempak.
" Hehehe, iya. Kalian mau ikutan main drama juga?, tuh mereka melihat ke arah kita semua", jawabku dengan entengnya.
Aku lalu melanjutkan omonganku dengan tidak memperdulikan pandangan mengerikan teman-temanku," Kakakku pernah berkata kalau kita sudah menerima rasa suka seseorang ke kita, atau kita sudah berani mengungkapkan rasa suka kita ke orang, kita harus sudah siap menerima segala resikonya, resiko di selingkuhi, resiko perbedaan kesukaan, hobi, cara berpikir dan banyak lagi".
"Jangan berpikir yang manis-manis dulu, pikirkan juga yang pahitnya, biar tidak ada kata-kata aku benci kamu, ngerti ga?", lanjut ku lagi.
Teman-temanku menarik nafas panjang, Rita lalu bertanya padaku," boleh tidak Kakakmu itu jadi pacar aku?".
"Hah?", temanku yang lain paduan suara lagi.
"Tentu tidak, kasihan Kakakku kalau punya pacar seperti kamu", jawabku dengan wajah serius.
"Kenapa?", tanya Rita.
"Kamu galak", jawabku lagi.
Rita terdiam sambil melirikku tajam, sementara teman yang lain menahan tawanya.
Aku diam sejenak dan berpikir, perasaan tidak bisa dipaksakan, tiap orang berasal dari lingkungan yang berbeda, didikan yang berbeda pula, kita tidak bisa mengatur segala sesuatunya sesuai dengan apa yang kita mau.
Yang jelas aku benci orang-orang yang suka melakukan kekerasan, aku juga benci dengan orang yang suka merendahkan orang lain dengan perkataan yang menyakitkan, aku benci dengan tindakan yang semena-mena. Aku benci dengan ketidakadilan. Aku benci segala sesuatu yang membuatku tidak nyaman.
TAMAT