Pak Bagus mengakhiri presentasinya dan berdiri di tengah-tengah kelas. Teman-teman sekelasku tampak ceria karena akhirnya kuliah hari ini usai sudah.
“Baik, jangan lupa dikumpulkan minggu depan saat kelas saya lagi, ya!” Pak Bagus kemudian menutup mata kuliah bahasa Indonesia ini dan keluar kelas, diikuti beberapa mahasiswa yang bersegera untuk pulang. Kupandangi lagi tulisan di bukuku tentang tugas yang barusan diberikan oleh beliau. Puisi dengan tema ‘cinta’? Uh, memuakkan. Aku benci. Mata kuliah ini adalah mata kuliah wajib. Andaikan ini mata kuliah pilihan dan aku tahu ada tugas ini, aku tak akan mengambilnya.
“Lil, lu kenapa mukanya begitu, deh? Kok kesel banget gitu?” Anita yang duduk di sebelahku bertanya sambil mengemasi barangnya.
“Nggak kenapa-kenapa. Lupakan aja,” kututup bukuku dan mulai memasukkan satu per satu barangku ke tas.
“Bingung mau ngebayangin siapa buat bikin puisinya, yaa? Eh tapi emang nggak ada seseorang yang spesial di hati kamu, Lil? Hayo siapa kalau adaa?” Anita tersenyum menggoda.
“Ada,” kataku sambil memandangnya dan menyilangkan tangan.
“Wow! Siapa itu? Penasaran banget gue, siapa yang ada di hati manusia cuek kayak lu,”
“Orang tua gue,” aku menaikkan salah satu alisku.
“Yah, itu mah gue juga, sih. Lu mau bikin puisinya tertuju buat mereka?”
“Nggak tau. Beneran gue males banget sama temanya. Kayak nggak ada tema lain aja,”
“Emang kenapa kalau temanya cint..”
“STOP! GUE NGGAK MAU DENGER LU NYEBUT KATA ITU!” kugendong tas ransel biruku dan segera keluar kelas. Meninggalkan Anita yang terkejut. Aku tak pernah suka kata itu. Bahkan benci. Aku tak ingin kata itu muncul lagi di hidupku. Kalau bisa semua memori di kepalaku yang berkaitan dengan lima huruf itu biarlah hilang saja.
“Hah, gue mau ke pasar aja, nemenin Emak jualan. Gue butuh ngademin hati,” kukayuh sepedaku dari tempat parkir kampus ke arah pasar yang tak terlalu jauh.
* * *
Emak sedang melayani pembeli saat aku sampai di kios sederhananya. Berbagai alat tulis, seragam sekolah, tas, dan sepatu berjajar rapi di rak dan gantungan masing-masing. Kios ini terletak di ujung dekat pintu masuk pasar. Saat sepedaku sudah terparkir rapi dan aku berjalan mendekati kios, pembeli tadi keluar dan pergi bersama tentengan belanjanya.
“Assalamu’alaykum, Mak,” aku melepas sepatu dan mendekati Emak untuk menyalaminya.
“Eh, Lila. Wa’alaykumussalam. Kok tumben ke sini? Nggak ada rapat atau tugas kelompok kayak biasanya?” tanya Emak sambil menyambut uluran tanganku.Aku hanya menggeleng dan meletakkan tasku di kursi yang biasanya dipakai calon pembeli untuk mencoba sepatu.
“Udah makan, Lil?” Emak mengusap puncak kepalaku yang dibalut jilbab dengan lembut.
“Tadi sebelum kelas terakhir udah ke kantin, kok, Mak,” aku tersenyum kecil. “Mak udah makan?”
“Emak tadi beli nasi pecelnya Bu Minah yang di seberang itu. Udah kenyang, Alhamdulillah.” Emak dengan jilbab hijau tuanya nampak teduh sekali dengan senyum tersemat di wajahnya yang mulai keriput. Hal sekecil apapun yang Emak dapat, beliau selalu memuji Allah dan bersyukur.
“Lil, tadi ada pembeli yang bikin Emak lebih bersyukur dengan kondisi kita saat ini.” Emak mengambil satu kursi plastik dan mendekatkannya padaku. Inilah momen yang aku tunggu. Menyimak dengan baik cerita-cerita Emak yang bisa membuat aku lebih memaknai kehidupan ini dan mengambil hikmah dari kejadian apapun. Hal ini menjadi kegiatan favoritku selama setahun terakhir. Sejak aku menyadari dunia ini sangatlah keras dan bisa sangat menyakitkan, …bersambung ~