Novel adalah duniaku sekarang, saya berbetah-betah dirumah sendiri hanya ditemani oleh novel. Tidak kuduga, setelah terjun didunia
novel, hidupku banyak berubah. Biasanya suka ngumpul-ngumpul, sekarang lebih suka menghalu.
Pada suatu hari saya lagi sendiri juga didalam rumah, sayapun memanjakan diri masuk ke bak mandi untuk menyegarkan tubuh sembari menghidupkan kran air. Dibawah kran air itu,
saya mendinginkan kepala dan pikiran saya yang capek selalu menghalu. Tidak puas disitu saja, sayapun membuka satu persatu pakaian saya hingga tubuh saya polos tanpa busana.
Perasaan saya sangat adem, tubuh saya sangat segar dan pemikiran sayapun jadi ringan dan segar.
Tetapi hal miris datang menimpaku, dimana pada saat saya mandi ternyata pintu rumah lupa menguncinya. Kebetulan rumah dilingkungan kami, berjarak-jarak dan tetangga jauh-jauh, jadi sudah bisa dibayangkan situasi dilingkungan kami sangatlah sepi.
Dengan asyiknya saya memanjakan diri di bak mandi, tiba-tiba ada sosok pria kekar berdiri di pintu kamar mandi. Sumpah sayapun sontak kaget
dan shock. Saya benar-benar takut dan berfikir
hidupku selesai disitu.
Sayapun dengan nada gemetar, mempertanyakan
sosok pria itu siapa dan dari mana jalanya bisa
masuk kerumah. Sehingga dirinya menontonkon berapa detik tentang saya yang lagi asyik
memanjakan diri di bak mandi tersebut tanpa sehelai pakaian apapun.
Sungguh menakutkan, pria itu tanpa berbicara mendekatiku semakin dekat. Sayapun hanya bisa
menjerit histeris dan bermohon supaya pria itu
tidak melakukan hal buruk padaku.
Pria itu menyuruhku diam dan menunjukkan sebuah pisau tajam. Jika sekali lagi saya menjerit
akan mati ditanganya, dan memberitahukanku bahwa pintu tidak saya kunci, sudah dikuncinya dari dalam dan kunci itupun ada ditangan pria itu.
Saya hanya diam membisu, sesekali menghela
nafasku pelan-pelan. Tiba-tiba pria itu masuk kedalam bak juga dan memulai menyentuh bagian
tubuhku. Saya hanya bisa pasrah dan sesekali saya
menjauhkan tubuhku dari dia. Tetapi pria itu bukan
malah menjauh melainkan menarik rambutku sekuat mungkin hingga wajahku dan wajahnya berdekatan. Saya sungguh takut dan pasrah, detik itu juga akan menjadi nasib terburukku yang mendekati kehancuran dan kematian.
Tiba-tiba terfikir olehku, untuk mengikuti alur mainya dari pada harus mati ditanganya. Pria itupun semakin terbakar hasratnya dan menikmati
sentuhan jemariku yang menyentuh lembut belahan wajahnya. Pria kekar itupun memeramkan matanya.
Plakk...plakkk!
saya kesempatan menendang bagian perkasanya sekuat mungkin.
Augh...aughh!
pria itupun meraung-raung kesakitan sembari memegang perkasanya itu. Sayapun dengan sigap
berdiri dari bak mandi, lalu memaikkan satu kakiku
untuk keluar dari bak mandi tersebut.
Tubuhku pun terhempas kembali ke bak mandi,
setelah pria itu menarik tanganku dengan kasar.
Sayapun berusaha mendorong tubuh pria tersebut,
naas pria itu mendekab tubuhku dari belakang dan
mengancamkan pisau melingkar di leherku.
Saya benar-benar kehabisan akal dan pasrah darah
yang segar akan memenuhi bak mandi tersebut.
Sesekali saya menelan air silverku diakibatkan oleh
rasa takut dan gemetaran. Semakin saya tidak bisa
berkutik, semakin pisau tajam itu dipermainkan beberapa kali dileherku. Dengan refleks sayapun
menendang dari belakang bagian perkasanya dengan membengkukkan kaki kananku.
Pria itupun tersungkur ketembok bak mandi, dan pisaupun jatuh tepat didekatku.
Sayapun meraih sebilah pisau itu dan menatap tajam pria bengis itu. Ingin rasanya kutanjapkan
pisau itu ke dalam perutnya, tetapi saya sedikit berfikir waras akan mendapat resiko besar ketika
melakukan hal keji itu. Kesempatan saya menganjam pria itu dengan pisau tersebut, pria itupun diam tetapi sepertinya mencari startegi untuk melawanku kembali. Sayapun menyadari,
jika dirinya berontak dan menyerang sudah pasti
saya wanita lemah yang akan kalah.
Tidak ada pilihan lain, sayapun menendang berulang kali bagian perkasanya, saya bayangkan
saya menendang bola biar gol. Tanpa kusadari, pria itupun lemas dan tak berdaya, hingga menghentikan tindakanku. Saya juga tetap waspada untuk keluar dari bak mandi, barang kali itu salah satu strateginya untuk menangkapku kembali disaat diriku tidak lihai.
Tiba-tiba saya melompat dari bak mandi untuk keluar dan meraih kunci dari saku celanya yang digantung dipaku. Dengan buru-buru sembari mata ini tidak lepas memandangnya, saya takut hanya sekali mata ini mengedip, dirinya langsung sigap bangun dan menyerangku kembali. Sayapun mengunci kamar mandi dari luar dan mengurungnya didalam kamar mandi itu.
Setelah itu, saya buru-buru masuk kamar untuk mengenakan pakaianku dengan lengkap.
Saat saya hendak keluar kamar menuju pintu keluar, pria itupun manjat dari atas tembok kamar
mandi yang kebetulan tidak semua sampai keatas tertembok. Dirinya melompat dengan cepat hingga berlari menghampiriku, sayapun buru-buru berlari
kepintu keluar tersebut. Naas, pintunya tidak mudah dibuka dan pria itu langsung menarik tanganku dengan kencang dan mencampak rambutku sekuat tenaganya, lalu membenturkan jidatku ditembok rumah tersebut berulang kali.
"Kamu akan mati sekarang juga ditanganku", ujar pria itu sembari menampari wajahku hingga memar dan mulutku mengeluarkan sedikit darah.
Sayapun hampir tidak berdaya dan dihempaskanya
tubuh lemasku hingga tersungkkur dilantai. Pria tersebutpun mendekati tubuhku dengan jongkok
sembari memegang pisau yang ingin ditanjapkan
dileherku. Tanpa pikir panjang, saya menendang
keperkasaan pria itu sekuat tenagaku, hingga pria itu tersungkur lemas.
Lagi-lagi tendangan itu berulang kali kulakukan tanpan ampun mengingat geram dan sakitnya
perasaanku hingga membuatku benar-benar trauma. Pria itupun lemas dan akhirnya pingsan.
Saya langsung ambil kesempatan keluar dari rumah dan berhasil membuka pintunya. Dengan sempoyongan, lemas, lelah dan gemetaran, saya
menjerit minta tolong sekencang-kencangnya bagi
warga yang ada disekitaran lingkungan kami.
Suara seruan dan jeritankupun berhasil didengar oleh salah satu sosok pria umur 12 tahun yang
termasuk golongan anak remaja. Anak itupun
hadir menghampiriku dan berkata:
"Mama, mama, mama!" ada apa dengan mama?
"Mama, sadarlah ma, mama mimpi buruk!" ujar anak sulungku sembari menepuk-nepuk wajah
dan jidatku bergantian dan berulang kali.
Akhinya, sayapun duduk terbangun dan menghela
nafasku dalam-dalam sembari melihat jam dinding
ditembok rumah yang menepal, sudah
pkl.16.00 wib. Saya terbawa mimpi karena kebanyakan menghalu, hingga berperang dalam mimpi selama beberapa jam. Sayapun kebayang
dengan mimpi buruk itu, lalu menghempaskan
tubuhku kembali dikasur tempat tidurku.
Sambil rebahan dari bangun tidurku, sayapun kembali membaca dan menulis di sebuah noveltoon, tidak disangka saya masuk dalam tokoh
pemeran didalam sebuah novel tersebut.