Gayatri termenung mendengar perkataan ayahnya, walaupun terdengar sinis dan menyayat hati namun apa yang diucapkan pak Slamet ada benarnya.
"Nduk, sekali lagi fikirkan nasib anak-anakmu ke depannya. Jika pun Haidar memang tidak ada itikad baik kemari dan meluruskan hubungan kalian maka ... waktu terpisah selama 2 tahun, apa pun alasannya Haidar bisa dikatakan telah menjatuhkan talak padamu dan sebaiknya kamu mengurus perceraian kalian.
Gayatri mengangguk, "Aduh," ujar Gayatri seraya mengelus perutnya.
"Kenapa, nduk?" Pak Slamet khawatir.
"Se-sepertinya aku mau melahirkan, pak," sahut Gayatri diikuti cairan bening membasahi bagian bawah tubuhnya.
Dengan cekatan pria paruh baya itu meraup anak perempuannya menuju ke rumah bidan.
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Gayatri melahirkan anak keduanya, sekali lagi tanpa didampingi suaminya dan sekali lagi pak Slamet-lah yang mengambil tugas mengazankan cucunya. Gendhis, demikian nama diberikan pada bayi mungil nan cantik itu.
***
Rumah pak Slamet semakin semarak berkat kehadiran bayi Gendhis, si kembar Hanif dan Hana genap berusia 1 tahun sudah mulai bisa berjalan dan mas Bagas putra pertama Gayatri kini berusia 4 tahun. Merasa jika kembali bekerja memetik teh pagi hari akan sangat merepotkan mengingat ia kini punya bayi kecil dan juga sambil mengurus ke tiga anak lainnya, Gendhis memutuskan membuat kios di depan rumah pak Slamet untuk berjualan keperluan harian rumah tangga. Bu Elok tidak lagi hanya berjualan sarapan tapi juga dibuatkan tempat yang bersisian dengan kios sembako untuk menjual makanan jadi dari pagi hingga sore hari. Gayatri dan ibunya saling membantu baik saat melayani oembeli makanan jadi maupun kios. Kedua wanita generasi itu sama-sama bertanggungjawab mencukupi kebutuhan hari-hari dan juga menyisihkan dana untuk pendidikan kedua adik Gayatri yang akan masuk SMA.
"Pak, bu ... alhamdulillah, penjualan makanan dan hasil kios semakin lancar. Aku mau, kedua adikku jangan sampai putus sekolah bahkan kalau bisa sampai kuliah agar nanti bisa dapat pekerjaan yang bagus dan aku minta, bapak dan ibu mulai sekarang menabung untuk naik haji dan biaya kuliah adik-adik. Untuk keperluan hari-hari dan sekolah adik-adik kita gunakan uang dari hasil jualan dan hasil aku manggung," usul Gayatri.
"Nduk ... kapan kamu memikirkan kebahagiaanmu sendiri?" Tanya bu Elok dengam perasaan haru.
"Bu, pak ... dengan begini saja, kita semua diberi kesehatan, usaha lancar, hasil panen lumayan, aku sudah sangat bahagia," sahut Gayatri sambil tersenyum
"Bukan begitu, nduk. Maksud ibu, apa kamu tidak ada niatan menghubungi Haidar? Bagaimana pun kalian perlu membicarakan kelanjutan pernikahan kalian. Biar jelas, mau bercerai atau memperbaiki semuanya dari awal," ucap bu Elok.
"Aish ... ngapain mau memperbaiki semuanya dengan Haidar, memangnya ibu mau melihat Gayatri di madu lagi? Sanggah pak Slamet.
"Bukan begitu, pak. Maksud ibu ... kalau memang ada itikad baik dari Haidar, tidak ada salahnya memberinya kesempatan. Kita gak boleh terlalu keras apalagi turut campur dalam urusan rumah tangga anak kita. Bisa saja Haidar enggan kemari karena takut sama bapak," kata bu Elok lagi.
"Aku cuma mau Haidar meninggalkan istri mudanya dan menjadikan Gayatri sebagai istri satu-satunya saja. Sebab sudah terbukti Haidar tidak mampu menafkahi lahir batin istri-istrinya dengan adil dan seimbang. Memangnya anak kita ini kurangnya apa, tho? Bahkan walaupun punya anak 4 begini, masih ada beberapa pria yang berniat memperistrinya," sahut pak Slamet.
Benar yang dikatakan pak Slamet, beliau juga ingin kepastian akan kebahagiaan masa depan Gayatri sebab usianya yang semakin tua, tidak selamanya mampu mengayomi dan melindungi keluarganya.
***
"Dik Gayatri ..." Lelaki yang diam-diam dirindukan dan kedatangannya masih diharapkan oleh Gayatri tiba-tiba datang menyambangi kediaman mertuanya.
"Mas Haidar!" Gayatri langsung memeluk suaminya. "Mas ke mana saja? Kenapa baru ke sini sekarang, lihat putrimu Gendhis sudah lahir," ujar Gayatri seraya menyerahkan bayi berusia 6 bulan itu pada Haidar.
"Maafkan mas, dik. Maafkan bapak ya anak manis," Haidar menyambut bayinya ke dalam gendongannya.
"Oek ... oek," bayi Gendhis menangis, seolah menolak kehadiran ayahnya. "Gak boleh begitu, Gendhis. Ini bapak, sayang," ujar Haidar berusaha menenangkan bayi perempuannya.
"Masih ingat jalan ke rumahku?" Diucapkan pak Slamet saat melihat kedatangan menantunya.
"Bapak, maafkan Haidar," Haidar meraih tangan mertuanya dan mencium dengan khidmat.
"Sudah cukup. Jangan sok menghargaiku kalau kamu malah menyia-nyiakan hidup anak dan cucu-cucuku! Haidar, kita harus bicara," Pak Slamet menarik tangannya dengan kasar.
"Pak, eling ... nak Haidar datang baik-baik lho, bicaranya mbok baik-baik juga," bu Elok mengingatkan suaminya.
***
"Jadi apa tujuanmu kemari?" Tanya pak Slamet pada Haidar dengan emosi yang sudah stabil.