Namaku Tegar, tapi orang-orang di sekitarku yang sering mengolokku lebih suka memanggilku 'bocah tengik' mungkin karena mereka tidak suka aroma badanku atau hal lain. Umurku 8 tahun, namun aku tidak sekolah karena kata ibu aku tidak bisa bersekolah di tempat biasa karena aku anak berkebutuhan khusus, tapi aku tidak sedih. Ibuku sendiri yang mengajariku membaca, menulis dan menghitung, jadi aku tidak bisa dikatakan bodoh seperti yang orang-orang itu katakan.
Mereka bilang aku tidak punya ayah, dan aku memang tidak pernah melihat bagaimana rupa ayahku, aku tidak pernah bertemu dengan ayahku. Tapi kata ibu, ayahku sedang bekerja di suatu tempat dan suatu saat akan kemari menjemput aku dan ibuku dari tempat yang sampit dan tidak nyaman ini.
Ibuku berjualan makanan sejak pagi hingga siang, sambil menemani ibu di warung, aku belajar dan bila bosan maka aku menggambar. Aku paling suka menggambar ayah. Iya, aku senang menggambar ayahku menurut ciri-ciri yang dikatakan ibuku. Yaitu, ayahku adalah pria berkulit coklat, bertubuh kekar, berjanggut, gemar bekerja keras dan senang merokok cerutu. Selain menggambar ayah, aku juga suka menggambar keluarga impianku dimana ada ayah, aku dan ibu bergandengan tangan. Aku menempel gambar-gambar di dinding kamarku agar aku bisa melihatnya setiap kali akan tidur.
***
"Tegar, ibu punya sesuatu untukmu," kata ibu sepulang dari berbelanja di pasar.
"Apa itu bu?" Aku penasaran melihat kotak persegi panjang dan tebal yang disodorkan ibu padaku.
"Taraaaa. Kamu suka coklat, kan? Nah ini ibu bawakan coklat, kamu bisa langsung memakannya atau membentuknya lebih dulu sesuai keinginanmu."
"Bagaimana caranya?" Aku bingung. Ibu langsung membuka bungkusan kotak itu dan mengeluarkan isinya mematah-matahkannya dan memasukkkanya ke dalam mangkok lalu menaruk mangkok berisi coklat itu ke dalam panci yang sudah berisi air mendidih. Setelah coklat mencair ibu menunggunya agak dingin lalu menuangkannya ke cetakan agar-agar aneka bentuk, aku senang sekali.
Yeiii, aku ada ide. "Ibu bolehkah Tegar belajar membentuknya sendiri?" Tanyaku.
"Tentu saja sayang, kira-kira kamu mau bikin apa?"
"Hm ... ada deh, nanti ibu liat saja. Ibu sana aja, aku mau bikin kejutan," kataku.
Aku sudah mengerti cara kerja bagaimana membentuk coklat itu, aku akan membuat rupa yang berbeda dengan yang sudah dibikin ibu dan tentu saja tanpa cetakan agar-agar.
30 menit berlalu, setelah berulang kali ditanya 'udah atau belum' sama ibu, akhirnya maha karyaku selesai juga.
"Wow ...Tegar, ini bagus banget. Bagaimana kamu membuatnya? Kamu benar-benar luar biasa, nak," puji ibuku membuatku bahagia.
"Aku memahatnya, ini coklat ayah," sahutku.
"Coklat ayah?" Dahi ibuku mengerut, minta penjelasan.
"Iya, karena aku belum pernah bertemu ayah jadi aku membuat ayah yang bisa kulihat dari bahan coklat," ujarku bangga.
Ibu memelukku dan menangis, "Doakan ayahmu baik-baik saja dan segera menjemput kita ya, nak."
Sementara aku bangga telah membuat 'ayahku' sendiri dari coklat, orang-orang menertawakan hasil coklat bentukanku yang katanya menyerupai tokoh 'hellboy'. Sejak itu mereka tidak lagi memanggilku bocah tengik tapi ganti menjadi 'bocah hellboy'.
Ah, aku tidak peduli yang penting sekarang aku punya ayah, meski beberapa bagian mulai rusak dirubung semut. Tidak mengapa, nanti aku bikin lagi ayahku yang laib dari bahan coklat. Meski dikatakan jelek, coklat bentuk lain yang kubikin malah laku dibeli dengan harga yang kata ibu cukup mahal, ibu menabung uang dari pembeli coklat yang kubentuk untuk biaya aku terapi.