Aku adalah rumput liar, yaaa aku sering di injak-ijak meski begitu aku memilih untuk tetap hidup.
Aku adalah daun kering, sering tertepa angin dan jatuh lantas di terbangkan lagi di jatuhkan lagi bahkan di buat menghilang entah kemana arahku pergi aku sendiri tidak tau.
Aku adalah pohon yang rapuh, terlihat menopang banyak ranting tapi aku lemah oleh musim.
Namaku Athia yang berasal dari bahasa Yunani bermakna kekuatan penyembuhan, kedua orang tuaku beralasan memberiku nama itu karena aku adalah kekuatan untuk mereka.
"Tapi nyatanya mereka tetap berpisah, benar-benar konyol, sudahlah hari ini aku harus berangkat lebih awal aku harus mendapat bunga-bunga yang cantik".
Aku ini anak pertama dari dua orang bersaudara, sejak kedua orang tuaku berpisah aku tinggal bersama dengan ibu dan adik ku. Ayahku sudah menikah lagi dan tinggal dengan keluarga barunya, bahkan sampai sekarang aku tidak pernah bertemu langsung dengan ibu tiriku itu.
Pernah dulu aku mendengar suaranya saat dia datang kerumah untuk memberitahu ibuku bahwa dia akan menikah dengan ayahku.
Aku di larang keluar kamar waktu itu,
"sudahlah aku juga tidak perduli dengan kehidupan ayahku"
Menurutku dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dia tak pernah sekalipun menjenguk aku dan adikku.
"Apa semua laki-laki seperti itu?".
Menurutku meski kai bukan suami yang baik setidaknya jadilah ayah yang baik.
"Ibu aku berangkat"
"pagi sekali apa kau tidak bisa berangkat dengan sarapan terlebih dahulu?",
lihatlah ibu ku ini dia sangat perhatian, ntah itu basa-basi atau tidak nyatanya itulah yang dia katakan setiap hari, apa ibu kalaian juga seperti itu?.
"Sudahlah aku bisa terlambat, nanti aku akan makan di jalan".
Hari ini aku ada pesanan untuk mendekorasi bunga untuk acara pernikahan, aku harus berangkat lebih awal ke pasar bunga agar mendapat bunga-bunga yang segar dan cantik.
"Pagi ini kau terlihat, bersemangat sekali tia", ibu-ibu salah satu pemilik kios bunga itu menyapaku.
"Aku harus bersemangat, karena bunga-bunga ini akan berubah menjadi uang bibi...hahaha"
kami pun bercanda, dengan begini aku berharap dia memberiku diskon yang lebih banyak, ternyata aku selicik inikah??.
Dihari acara pernikahan tiba, aku datang lebih awal seperti biasa akau harus mengecek semua nya sekali lagi karena aku tidak mau membuat pelanggan kecewa.
Setelah itu aku pulang dengan membawa pulang sisa potongan bunga, mungkin bagi orang lain itu sampah tapi bagiku ini adalah hal yang berharga.
"Maaf aku tidak sengaja" seorang pria dengan setelan jas nya menabrakku dan membuat bungaku berantakan di lantai.
"lain kali lebih berhati-hatilah",
aku tidak tau kalau itu awal ceritaku dengannya,
yaa dia laki-laki yang aku cintai.
Namanya Rasyid, dia laki-laki pertama yang buatku jatuh cinta karena sebelum nya aku belum pernah jatuh cinta. Yang mendekatiku banyak, tapi entah apa aku yang sulit membuka hati.
Setelah perpisahan kedua orang tuaku, akulah tulang punggung keluargaku, akulah tumpuan harapan dari ibu dan adik ku.
Mungkin aku juga takut gagal seperti kedua orang tuaku, tak ada pilihan lain buatku menutup hatiku rapat-rapat adalah jalan terbaik.
Tapi dia berbeda, dia membuatku nyaman, membuatku merasa bahwa kehadiranku memang berarti untuknya.
"Maukah kamu menua bersamaku tia?"
dengan menunjukan cincin dia melamarku, kata-kata itu tidak mungkin aku lupakan, yaa ini adalah babak baru di kehidupan kami.
"Aku adalah gadis dari keluarga brokenhome, apa keluargamu bisa menerimaku?terlebih lagi aku bukan dari kalanganmu"
Entah kenapa perasaan ragu ku muncul, rasanya seperti luka lama yang selama ini berusaha aku tutupi terbuka kembali.
Aku takut apa yang menimpa kedua orang tuaku terjadi padaku. Aku takut tidak di terima, apa aku salah aku mulai ragu?.
"Kamu tau, daun yang mengering itu?" dia mencoba menangkanku.
"Daun yang mengering sudah pasti akan gugur, dan pohon pun kembali bersemi dengan daun baru, begitu juga dengan kehidupan manusia masalalu mu sudah pasti akan berlalu dan harapan akan mulai muncul"
Dia menatapku dengan penuh keyakinan,
"jangan pernah kamu membawa trauma mu beriringan dengan harapanmu, jika sulit hilang biarkan dia ada tapi cukup hanya di belakang harapanmu, sayang"
-----Athia