Ini adalah pengalaman pertamaku menaiki pesawat, meskipun tubuhku bergetar dan seperti orang yang sedang sakit, tetapi aku mencoba untuk tetap santai. Aku memejamkan mataku agar tidak terlalu takut dalam penerbangan ini. Selama penerbangan aku pun tertidur dengan pulas. Tanpa tahu kejadian apa sajah di dalam pesawat. Yah, aku tidur seperti orang mati sajah. Ternyata beberapa menit yang lalu pesawat yang aku tumpangi mengalami kecelakaan dan aku terdampar di pulau tidak berpenghuni. Aku mengedarkan pandanganku kesegala arah mengamati setiap sudut pulau.
"Itu siapa?" tanyaku pada diri sendiri, ketika melihat sesosok cewek cantik tertidur diatas rerumputan.
Aku mendekat, memastikan bawa wanita itu masih hidup atau sudah mati. Aku memeriksa nadinya dan nafanya.
"Alhamdulillah masih hidup," ucap ku sembari mengusapkan kedua tanganku kewajah. "Mba,.... Mba ...bangun, wey bangun." Aku menggoncang-goncangkan tubuh wanita itu agar bangun.
Benar sajah setelah aku menggoncang-goncangkan tubuhnya ia pun bangun.
"Hay, siapa loe? Apa yang loe lakuin? loe mau memperkosa gue yah?" cecar wanita itu seperti kesetanan sajah.
"Wey, wey santai dong. Gue cuma ngecek loe, barang kali loe udah mati tadi," jawab gue asal. Yang langsung kena pukulan oleh gadis itu.
"Enak ajah loe ngomong sembarangan, loe nggak tau gue siapa? Gue itu selebriti papan atas dan paling cantik. Bisa-bisa gue tuntut loe karena udah melecehkan gue," oceh wanita itu dengan bersungut-sungut. Yah, aku ingat wanita ini adalah Bella, selebriti papan atas yang sangat cantik.
"Iya, ampun-ampun gue pengin tetap hidup bebas, tapi memang disini ada kantor polisi yah?" ledek aku, mencairkan suasana, tetapi nampaknya Bella justru makin kesan denganku.
Bella pun makin kesal dengan aku, dan aku pun mengacuhkanya. Aku ingin tau sebagaimana pertahananya. Apakah ia bisa tetap sombong dan egois. Sementara di pulau ini hanya ada aku dan dia, tentu sajah aku sudah biasa hidup di alam bebas karena aku sering mendaki gunung bersama teman-temanku.
Tidak perlu waktu lama, ternyata Bella yang datang kepadaku dan meminta maaf karena sudah marah-marah denganku. Tentu aku pun memaafkanya. Kami memulai hidup bahagia di pulau terpencil itu dengan bahan makanan seadanya sampai bantuan datang.