Sore ini seperti biasanya aku menunggu kedatangan bus kota yang biasa lewat di halte pertigaan jalan Panglima Sudirman. Aku yang sebelumnya tidak pernah punya riwayat naik bus atau kendaraan umum lainnya, menjadi semangat sendiri saat seminggu kemarin tak sengaja berjumpa dengan seorang gadis berhijab yang menjadi penarik hatiku yang sedang mencari tambatan jiwa. Lebih tepatnya sedang mencari calon istri yang akan menjadi calon ibu buat anak-anakku kelak.
Beruntungnya setiap kali ku coba naik bus yang berbeda dari halte ini, selalu ada gadis itu juga di dalamnya. Aku semakin yakin kalau ini sudah pertanda sudah jodoh buatku. Aku yang sudah didesak oleh mama papaku untuk segera melepas masa bujangku, tak menyangka akan jatuh hati pada gadis berhijab yang belum genap seminggu ini ku jumpa. Padahal sebelumnya tak pernah ada dalam kamus hidupku untuk bersanding dengan gadis berhijab.
"Apa kelebihannya perempuan berhijab? Kenapa sih, kok kamu bisa tertarik sama perempuan berhijab?" Tanyaku kepada Bayu, asisten pribadiku di kantor, sekitar dua minggu kemarin saat memberiku undangan pernikahannya kepadaku.
"Karena aku merasa dengan menikahi perempuan yang berhijab itu akan sedikit mengurangi tanggungan dosaku kelak," jawabnya enteng.
"Maksudnya?"
"Seorang lelaki sudah pasti akan menjadi imam atau pemimpin dalam rumah tangganya. Seandainya aku tidak bisa merubah atau mengajak anak istriku menjadi lebih baik sesuai tuntunan agama, bukankah aku yang harus bertanggungjawab nanti dihadapan Tuhan? Memilih calon istri yang sudah asli berhijab dari sananya, ku rasa itu bisa sedikit mengurangi beban tanggung jawabku kelak."
"Itu berarti kamu memang cari aman saja dong? Maksudku, kamu nggak mau ribet dalam hal menuntun agamanya, trus kamu pilih yang sudah berhijab saja, gitu?"
Bayu menggeleng penuh senyum. "Bukan."
"Perempuan yang sudah berhijab itu menurutku menyejukkan mata dan hatiku setiap memandangnya. Aku bukannya cari aman dan tidak mau repot-repot untuk membimbing agamanya. Perempuan juga sama manusia seperti kita, yang juga banyak kekurangan."
"Aku masih bingung.Coba beri aku satu poin penting saja dengan pilihanmu menikah dengan dia?"
Aku pun semakin penasaran dengan pilihan calon istri dari asistenku itu. Kami memang sudah terbiasa mengobrol santai seperti ini. Meski aku memang bosnya, sama sekali aku tak pernah memberi jarak antara aku dengan bawahanku yang lain.
"Sebejat-bejatnya lelaki, pasti juga ingin dapat pendamping hidup yang baik dan soleha 'kan?"
Deg.
Rasanya pernyataan dari Bayu itu sangat menohok di jantungku. Tanpa ia jelaskan lagi alasannya memilih calon istri berhijab lebar yang hampir menutupi seluruh body, yang sebelumnya aku anggap norak sekali penampilannya, tetapi kali ini aku tertarik untuk bisa memiliki pendamping hidup sepertinya. Aku sudah paham sekarang. Memilih wanita yang sedari dini sudah pandai menutupi aurot dan batasan dirinya, adalah perempuan yang pandai menjaga martabat dan harga dirinya sebagai perempuan muslimah.
Ciiiiiiiiiiiiiitttt........
"Astaghfirullah!" pekik sebagian penumpang saat bus ini tiba-tiba berhenti mendadak.
Aku pun tak kalah kaget bin panik, cuma tatapanku langsung tertuju pada gadis berhijab warna lilac itu yang masih terlihat tenang dengan ibu jari yang tak hentinya memencet tasbih digital yang bertaut di jari telunjuknya. Aku yakin gadis itu pasti sedang berdzikir dalam hati. Ekspresinya tetap tenang. Gimana nggak merasa tambah adem lihatnya?
Rupanya bus ini berhenti mendadak karena melihat ada penumpang baru yang akan naik juga. Setelahnya ku lihat seseorang yang sedari tadi duduk disebelah gadis itu berpindah posisi maju ke depan, mungkin setelah ini gilirannya yang mau turun.
Tak mau membuang kesempatan lagi, ku beranikan diriku duduk disebelahnya, karena memang sedari tadi aku hanya berdiri saja saking penuhnya penumpang bus ini.
"Assalamualaikum, Cinta," sapaku tak mau basa-basi lagi.
Gadis itu menoleh kaget, terlihat jelas dari mimik wajahnya yang berkerut saat mendengar aku yang telah lancang menyebut namanya.
"W-wa'alaikum salam." Nadanya terdengar sedikit gugup. Bisa jadi karena sedang nervous atau mungkin karena masih heran dari mana aku bisa tahu namanya.
"Hai, namaku Al." Dengan pedenya ku ulurkan tangan kananku. Maksudku, aku ingin mengajaknya berkenalan.
Dia hanya mengulas senyum tipis sambil menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dadanya, pertanda tak mau membalas uluran tanganku.
Dari sini perasaanku sedikit tersentil lagi. Pelajaran agama yang pernah ku ayom saat remaja dulu, mendadak terngiang kembali. Bersentuhan dengan seorang yang bukan muhrim itu tidak diperkenankan. Fix! Aku semakin tertarik dengan perempuan berlabel muslimah taat seperti dia.
"Mm, apakah sebelumnya kita pernah kenal?" Tanyanya sambil mengalihkan pandangan ke depan. Suaranya lembut dan sangat menggoda iman. Uups..
Ku gelengkan kepalaku, masih dengan umpan senyuman mautku yang banyak digilai oleh wanita-wanita diluar sana. Bukan karena kelewat pede, cuma karena wajah tampanku ini memang sangat menjadi daya pikat wanita diluaran sana yang sering menggodaku. Sayangnya rata-rata dari wanita yang menggodaku itu berpenampilan terbuka. Apalagi kalau mau melihat penampilan sekretarisku di kantor, beeh... Seksinya minta ampun daah!
"Dari mana kamu tahu namaku?" Tanyanya lagi.
"Dari seragam yang minggu kemarin kamu pakai."
Yah, gadis disampingku ini memang baru saja lulus dari jenjang SMA minggu kemarin.
Dia mengerutkan keningnya, pertanda heran bin aneh dengan ucapanku yang gamblang.
"Maaf, sebenarnya sudah dari seminggu kemarin aku diam-diam memperhatikanmu."
"Memperhatikan? Buat apa?"
"Mm... Untuk--,"
Duh, bilang nggak ya?
Ia memalingkan wajahnya menatap ke luar kaca jendela, menghindari kontak mata denganku yang terus memaksa untuk bisa saling bertatapan.
"Mm, Cinta. Aku boleh tahu alamat rumahmu?"
Seketika ia menoleh lagi padaku. "Untuk apa?"
"Aku ingin menemui orangtuamu."
Ia terdiam seketika.
"Maaf, sepertinya aku sudah sampai," ucapnya tiba-tiba.
Ia beranjak berdiri dari tempatnya. Ku lirik ke arah depan rupanya memang sudah sampai di halte tempat biasa ia turun. Aku berdiri juga, membiarkannya melangkah lebih dulu, setelah itu ku susul ia dari belakangnya.
"Kamu?!"
Ia terhenyak kaget saat menjumpaiku turut turun dan langsung berdiri bersejajar disampingnya.
"Yang aku bilang tadi, aku serius. Ijinkan aku menemui kedua orangtuamu untuk melamarmu menjadi calon istriku."
Ia terdiam lagi dalam waktu yang tidak sebentar. Pasti sedang berpikir bingung. Atau bisa jadi ia sedang mengataiku lelaki tak waras atau apalah itu. Aku tak peduli itu. Aku hanya sudah tak sabar menunggu jawaban darinya. Semoga saja dia tidak marah atau menolakku.
Sebuah motor usang tetiba berhenti tepat didepan kami berdiri. Sesaat setelah itu, lelaki paruh baya pengemudi motor tua itu turun dan bergantian memandangi kami.
"Abah," sapa Cinta padanya diikuti uluran tangannya yang kemudian menciumi punggung tangan seorang lelaki tua yang ia panggil abah.
Lirikan mata tua itu mengarah tajam kepadaku lagi. Ku beranikan diri turut menyalaminya. Ia menyambutku ramah, tapi masih dengan tatapan penuh tanya tentang siapa aku.
"Aku--"
"Al!" Tiba-tiba seruan suara mamaku memanggilku dari arah belakang.
Ku tengok ke asal suara itu, ku dapati kedua orangtuaku melangkah semakin mendekat kepadaku dengan senyum begitu ceria. Karena sebelumnya aku sudah bercerita kepada mereka bahwa hari ini aku ingin mengenalkannya kepada gadis calon menantunya.
"Dia yang namanya Cinta, Ma."
Mama langsung tersenyum merekah saat ku perkenalkan sosok calon pilihanku.
"Assalamualaikum, Cinta."
"Wa'alaikum salam."
Ia menyahut ramah, meski sebelumnya tiada pernah saling mengenal.
"Tunggu, kalian ini siapa?" Abahnya Cinta kembali bertanya.
"Kami orangtuanya Ali. Mm... Apakah anda orangtuanya Cinta?" Papaku turut mengambil peran.
Lelaki berpeci putih itu hanya mengangguk. Sesekali ia menoleh ke arahku, bergantian melirik ke arah Cinta. Bingung, mungkin itu yang jadi pikirannya saat ini.
"Sebenarnya kurang pantas dibicarakan di sini. Cuma berhubung sudah bertemu di sini, tidak salah kan kalau kami ingin menyampaikan niat baik kami di sini." Papaku mengambil peran lagi.
"Niat baik?"
"Ali pasti sudah bicara ini sama nak Cinta 'kan?"
Cinta tertunduk dengan wajah yang bersemu merah. Si abah seperti langsung paham dengan kode dari anak gadisnya itu. Tak lama setelah itu, abahnya Cinta turut mengulas senyum ramah kepada kedua orangtuaku.
"Kami tidak berhak menolak dengan kedatangan seseorang yang telah berniat baik kepada kami. Jika berkenan, datanglah ke rumah sederhana milik kami besok," ucapnya, pertanda lampu hijau telah menyala.
"Bukankah begitu, Cinta?"
Gadis itu hanya mengangguk patuh dengan ucapan dari abahnya.
"Baiklah. Kalau begitu besok siang sekitar jam sepuluh, insyaAllah kami akan berkunjung ke rumah anda." Ucapan papaku menjadi bukti keseriusan niat baik ini kepada gadis yang sedari tadi hanya tertunduk malu.
Tak lama setelah papa dan abahnya Cinta saling berjabat tangan, kami pun terpaksa harus mengakhiri pertemuan kali ini. Cinta yang langsung naik dibonceng abahnya, sedangkan aku harus kembali lagi dari penyamaranku yang menjadi lelaki sederhana menjadi aku yang sebenarnya, seorang bos dari pemimpin perusahaan cukup ternama di kota ini.
"Assalamualaikum, Cinta," sapaku sebelum akhirnya kami benar-benar terpisah kembali.
"Wa'alaikum salam," sahutnya sangat ramah.
#The End