Hai semuanya 🤗
Perkenalkan saya Star 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan cerpen Star, atas like dan komennya Star sangat berterima kasih. 🙏😇
Tanggal pembuatan : 23 - 05 - 2022
Kini seorang gadis sedang berjalan dilorong gelap sendirian. Air matanya masih jelas terlihat menampung seandainya tempat itu banyak dipasang lampu lorong.
Frustasi! ya dia memang frustasi tapi lebih tepatnya untuk saat ini adalah patah hati.
Seorang pria yang ia cintai ternyata mempunyai wanita lain dibelakangnya.
Ketika bertemu sungguh mudah baginya untuk melontarkan kata - kata yang membuat banyak wanita tersentuh saat mendengarnya.
"Kevin!" ucapnya dengan tatapan kosong.
"Kevin kenapa kamu tega tinggalin aku setelah apa yang kuberikan untukmu?" tanyanya dan yang mendengar hanyalah hembusan angin.
"Malam itu saat kau memintaku untuk memberikan kehormatanku padamu aku langsung memberikannya," racaunya.
"Tapi setelah kau mendapatkan apa yang selama ini paling kau inginkan kenapa kau berpaling pada gadis lain?" lagi - lagi ia hanya meracau seorang diri.
Setiap perjalanan gadis yang bernama Marcaina itu hanya mampu mengeluarkan segala keluh kesahnya pada sang angin yang hanya acuh dengan keadaannya saat ini.
Karna sudah tak mampu lagi menahan rasa sesak di dadanya, ia memilih menumpahkan saja butiran kristal yang sejak tadi ditahannya.
Penglihatannya menjadi suram. Ia tidak tau harus bagaimana, hatinya masih mencintai tapi pikirannya masih membenci, apa lagi saat memori sang kekasih yang sedang bermesraan dengan kekasih barunya didepan matanya sendiri tanpa merasa takut terciduk sedikit pun.
Saat ia bertanya kenapa kamu melakukan ini padaku jawaban pria itu hanya satu.
Ia mengatakan bahwa Marcaina adalah wanita yang sangat membosankan.
Selesai ia mengucapkan itu sebuah tamparan dengan sempurna mendarat dipipi pria tersebut.
"Terus apa artinya semua perkataan manisnya itu hah? terus apa artinya semua perhatian yang kau tunjukkan padaku secara langsung atau pun secara media?" tanyanya dengan tatapan mata yang telah memerah menahan amarah bercampur tangisan.
"Itu aku lakukan agar aku cepat mendapatkanmu karna aku sangat penasaran denganmu meskipun awalnya agak sulit," ucapnya acuh dan kekasihnya yang duduk diatas pangkuannya hanya menonton perdebatan mereka.
"Kurang ajar! kau hanya berniat mencicipi saja malam itu, lalu setelah kau puas besoknya kau langsung campakkan aku? benar - benar pria berhati busuk," geramnya lalu hendak pergi dari hadapannya tapi ia sengaja mengehentikan langkahnya terlebih dahulu untuk menyampaikan sesuatu.
"Hei kamu!" tunjuknya pada wanita yang masih dipangkuan kekasihnya atau untuk saat ini lebih tepatnya mantan kekasihnya.
"Bukankah kau punya telinga?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Ya pasti aku punyalah," responnya sambil menatap mesra pria yang ada dihadapannya.
"Jika kau memiliki telinga apakah kau tidak merasa takut sedikitpun jika nanti kejadian yang aku alami terjadi juga padamu karna pria brengsek ini?" tanyanya yang sontak saja membuat wanita itu bungkam.
"Hey! jaga mulutmu! aku begitu hanya denganmu saja," ucapnya mencoba meyakinkan kekasihnya saat ini.
"Alah! dulu kau juga sering mengatakan hal itu hingga aku percaya kepadamu tapi tidak untuk sekarang Kevin! aku udah kebal dengan semua perkataanmu," ucapnya dengan tangan yang sudah mengepal kuat lalu pergi tanpa berniat berlama - lama melihat pasangan yang membuat api kemarahannya terbakar.
Tanpa ia sadari hujan turun dengan sangat deras membasahi tubuhnya yang mulai lemas lalu jatuh bertekuk lutut.
Ia hanya mampu berteriak, lalu tersedak beberapa saat saat air hujan masuk kedalam mulutnya.
Ia kembali teringat saat - saat kehormatannya ingin diambil oleh pria yang ia percaya tapi tanyanya itu hanya nafsu pria itu semata.
Pulang bekerja, Kevin. Pria yang jabatannya lebih tinggi darinya mengajaknya makan malam lagi.
Sudah dua bulan lebih mereka berpacaran tanpa melakukan hal ringan apa pun seperti saling menggenggam tangan, berciuman apa lagi sampai bercinta.
Tanpa Marcaina sadari ternyata pria itu sudah merencanakan hal buruk terhadapnya.
Ketika acara makan malam itu berlangsung ia menaruh sesuatu diminuman Marcaina dan tanpa rasa ragu Marcaina meminumnya dengan santai.
Tak berapa lama kemudian efek obatnya berkerja dan Kevin yang sudah melihat mata sayunya dengan tubuh yang hampir ambruk memilih untuk langsung membopongnya kekamar mewah yang ada di Restoran tersebut.
"Marcaina! jadilah milikku malam ini," itulah yang ia bisikkan ditelinga gadis malang itu dan ia hanya mengangguk.
Keesokan paginya Marcaina terbangun dalam kondisi yang tak wajar, hal itu membuatnya berteriak tapi ia sudah sekuat tenaga membungkam mulutnya.
Pria yang baru terbangun disampingnya dengan santainya berkata "Sudahlah... Lagian ini sudah terjadi... Tenang saja... Setelah ini aku akan bertanggung jawab sayang," ucapnya dan Marcaina merasa sedikit lega meskipun ia sangat ingin mendengar kata maaf dari bibir pria tersebut.
Tapi detik dimana langkah kaki mereka keluar dari gedung itu detik itu juga Kevin hilang kabar dan itu sukses membuat gadis itu sangat frustasi.
Karna tak ingin lagi dihantui oleh bayangan yang membuat pikirannya menggila dan rasa sakit hati yang begitu menyiksa ia pun memilih mengambil sebuah pisau didalam saku celananya.
Dengan tangan gemetar ia menusuk dirinya sendiri tepat dibagian dada lalu ambruk dengan darah yang terus mengalir dan terbawa kemana - mana oleh aliran air hujan.
Ia tau ia sudah mencoba sebisa mungkin untuk melupakan, tapi itu sangatlah sulit karna perasaanlah yang menjadi Raja penentu saat kita ingin menghindar.
🍃 THE END 🍃