"Tuhan di mana aku" ucapku saat terbangun melihat tempat aneh ini
Namaku cila niatku menemani tanteku berlibur keluar negri tapi sayangnya kapal kami tiba tiba oleng dan terjatuh saat itu aku sangat panik dan tidak tau apa penyebab kecelakaan pesawat yg terjadi, aku sekarang berada di sini sendiri di pulau yg akupun tak tau namanya.
Niat hati akan berlibur ke Paris ibukota negara Prancis tapi sang nasib malang menimpaku entah bagaimana sekarang aku tak tau apa aku dapat bertahan hidup di tempat ini atau tidak.
kulihat sekiling batu besar di tepi laut berharap ada sesuatu yg dapat ku makan, jujur saat ini aku sangat lapar dan takut di karnakan tak ada orang satupun dan aku belum makan dari siang, bahkan sekarang awan mulai gelap.
Saat menengok ke belakang kulihat tasku berada di sebelah batu tajam, segera ku ambil aku sangat beruntung masih ada yg bisa ku gunakan sebagai alat bantu saat malam nanti dan saat aku klaparan.
"Aduh sakit sekali kakiku"ucapku pelan melihat kakiku yg memar dan berdarah mungkin bekas terombang ambing di laut dan mendarat di batu besar dan sedikit tajam, bahkan bukan hanya itu keningku juga berdarah dan menar sungguh sakit rasanya di sekujur tubuhku.
Aku terus melangkahkan kaki terseok Seok berharap ada satu atau dua orang yg dapat ku temukan apalagi hari sudah mau gelap, dan aku tipe orang yg sangat penakut, kuraih hp yg ku simpan dalam tas anti airku, aku bersyukur hpku tak basah meski tak dapat ku gunakan karna tak ada sinyal.
"Hiksss hiksssss mama cila takut" ucapku menangis bagaimana tidak gadis 18 tahun sepertiku terdampar di Pulau terpencil yg aku sendiri tak tau dimana tempatku sekarang.
Hingga malam menjelang ku ambil roti yg isinya lumayan dalam tasku aku bersyukur memasukan roti meskipun tak banyak tapi cukup untuk berberapa hari jika aku memaknya sedikit sedikit bersama botol air sedang yg aku bawa dan aku minum setengguk untuk tetap menghemat.
baru akan memasukan roti aku mendengar suara langkah kaki aku ingin mengis rasanya aku takut yg datang penunggu pulau atau dedemit apalah sejenisnya.
"Ya allah lindungi aku" batinku sambil menutup mulut agar tak bersuara hingga ku dengar suara laki laki menegurku
"Kamu siapa" ucapnya, dadaku rasanya lega sekali mendengar seseorang menyapaku
"Hy aku cila aku takut"ucapku menangis
"Aku Rendi, apa kamu juga terdampar di sini"tanyanya
"iya Rendi"ucapku menangis
"Sudah jangan takut aku akan menemanimu"jawabnya
"Terimakasih Rendi, apa kamu ada makanan" ucapku bertanya
"Tidak ada aku bahkan tak punya apa apa sekarang jika kamu lapar tungulah besok pagi aku akan mencari makanan untuk kita berdua" jawab Rendi
"Tidak ini untuk kamu"ucapku menyerahkan sepotong roti yg ku pegang
"Tidak usah makanlah aku bisa menahannya"jawabnya
"Tidak apa Rendi makanlah aku sudah makan tadi"ucapku dan ia menerima setengah roti sisa makanku tadi sore dan malam ini.
"Rendi kamu kenapa bisa terdampar di"tanyaku
"Aku akan mengunjungi nenekku di Prancis bersama saudara laki lakiku tapi justru nasib buruk menimpaku dan aku terdampar di sini"ucapnya tersenyum manis yg dapat aku lihat dari rembulan malam.
"cila trimskasi untuk makanannya"ucapnya tulus
"Rendi minumlah sedikit"ucapku menyerahkan botol sedang kepadanya dan ia pun menerima dan meminumnya setengkuk.
lama kami mengobrol dan kami pun tertidur. Hingga pagi menjelang kulihat Rendi tertidur menyandar di batu, ku lihat matahari yg begitu terik aku berinsiatif menutup wajah manisnya menggunakan serbet halus yg selalu ku gunakan untuk mengap kringatku.
Ku pandang laki laki tampan yg umurnya Mungkin 2 tahun lebih besar dariku. tak lama ia mengerjapkan matanya dan terbangun.
"Rendi kamu udah bangun" ucapku tersenyum
"Cila ini serebetmu trimakasih telah meminjamkku" ucapnya
"sama sama"jawabku. Sekarang kita harus bagaimana Rendi"tanyaku
"Cila kamu tenang saja aku akan menjagamu"ucapnya
"Trimakasi Rendi"ucapku tersenyum dan aku menyerahkan sepotong rotiku untuknya dan kita makan bersama sama .
Hingga tak lama terdengar suara wanita yg minta tolong mebdengar itu aku dan Rendi segera menolongnya.
"Rendi ayo angkat tubuhnya"ucapku melihat Rendi yg wajahnya terdapat banyak Lembam tapi masih terlihat sangat manis dan tampan.
"cila berikan di sedikit air"ucap Rendi dan aku segera memberikan gadis seumuranku itu air yg tersisa di wadahku.
Singkat cerita wanita yg aku dan Rendi tolong telah sembuh setelah tiga hari luka di kakinya kering, setiap hari aku dan Rendi bergantian menjaganya.
namanya Susi dia gadis manis dan sedikit seksi.
kulihat ia terus memandangi Rendi yg sedang membawa pisang yg ia ambil di hutan.
"Rendi sangat tampan ya"ucapnya yg aku balas dengan anggukan kepala.
"Cila sini"panggil Rendi tersenyum kearahku saat aku akan mengajak Susi dia bahkan menolakku dengan sinis entah apa yg membuatnya marah tapi aku tak memikirkan itu aku berjan menghampiri Rendi dan ia menyerahkan pisang itu kepadaku.
Selali lagi aku coba menawari Susi tapi ia menolakku ketus entah apa salahku hingga dia seperti itu aku tak tau.
Sudah satu Minggu kita berada di Pulu ini dengan makan buah seadanya hingga di suatu ketika kulihat Rendi dan Windi sedang berpelukan saat aku kembali mencari kayu bakar yg dekat dengan gua tempat kami berteduh.
baru aku akan berbalik tak ingin melihat mereka berpelukan tapi justru aku menginjak ranting kayu dan Rendi mengejarku Tampa sengaja ku lihat Susi semakin kesal mungkin karna merasa aku mengangu kesenangannya.
"cila tunggu"ucap Rendi dan aku pun berhenti dan berbalik
"ini tidak seperti yg kamu kira tadi aku mencoba menenangkan Susi"ucapnya lagi
"Tidak apa apa Rendi kenapa kamu menjelaskan kepadaku" tanyaku heran
"Tidak apa apa tapi Windi aku menyukaimu"ucapnya aku pun terkejut mendengar kata itu keluar dari mulutnya.
"Rendi aku tidak pacaran"ucapku
"Tidak apa apa aku akan menunggumu nanti jika kita terbebas di Pulau ini aku akan terus menghubungimu"ucapnya tersenyum dan aku tersenyum mendengarnya.
"Baiklah ucapku" berlalu dan dia mengikutiku
pagi sekali saat Rendi berangkat mencari buah di hutan tiba tiba Susi menghampiriku.
"cila kamu ini Sik cantik banget sih Rendi itu milku kenapa kamu mendekatinya"ucapnya mendorongku, aku yg tak terima mendorong Susi kembali bertepatan dengan kembalinya Rendi mencari kayu bakar, "Apa yg kamu lakukan cila kenapa kamu tega sekali mendorong Susi"ucapnya marah dan meneriakiku, aku yg akan memba diri ku urungkan mendengar susi menangis
"Hiks hiks Rendi tolong aku kakiku sakit"ucapnya yg ku tau hanya pura pura. dan kulihat Rendi menggendongnya masuk ke gua aku yg sakit hati melihat itu mengambil tasku dan berlari meninggalkan goa tempat biasa kami berteduh dan berlari sejauh mungkin. Hingga malam tiba ku rasakan dekapan hangat memelukku.
"Sudah jangan mengis aku tau aku salah ternyata Susi hanya memfitnahmu maafkan aku"ucap laki laki yg ternya itu Rendi.
"Kamu tau"tanyaku
"Iya Susi melakukan itu karna ia menyukaiku dan tadi dia mencoba merayuku, aku mencarimu kemana mana tapi tidak ketemu aku sangat panik dan khawatir"ucapnya memeluk semakin erat
"Besok kita kembali aku ingin memberi pelajaran untuk Susi"lanjutnya dan aku hanya mengangguk dan membalas pelukannya erat dan tertidur.
esok paginya saat kembali ke goa ku lihat Susi menangis dan menghampiriku.
"Cila maaf karna memfitnahmu"ucapnya
"Tidak apa jangan ulangi lagi"ucapku ternyum dan memeluknya. semenjak saat itu kami aku dan kami hanya bisa berharap ada seseorang yg dapat menemukan kami.
dan tepatnya satu bulan kita di sana dengan makanan seadanya dari hutan terlihat helikopter mendarat dan menjemput kami, dan setah sampai di negara kami menghirup udara kebebasan. kamu bertiga berpelukan dan kembali ke kluarga masing masing.
Tapi sebelum itu aku memberikan alamat rumahku kepada Rendi dan Susi aku harap mereka akan berkunjung. apa lagi Rendi aku harap ia menepati janjinya yg akan memperjuangkan ku.