"Mama!!" teriak anakku yang baru berumur 5 tahun.
"Kenapa, Nak?" tanyaku sambil membersihkan rumah.
"Apa kita jadi bikin cokelat hari ini?"
"Tentu saja. Ayo, kita belanja dulu."
Aku langsung mengangkat tubuh mungil Annie ke dalam gendonganku dan melangkah menuju garasi mobil.
Beberapa saat kemudian ...
"Ma, aku mau yang ini dan ini. Nanti kita buat cokelat hitam dan pink ya, Ma?"
"Baiklah, tuan putri."
Kami berbelanja dengan penuh canda tawa. Putriku sangat menuruni kecerdasan ayahnya. Wajahnya juga sangat mirip dengan suami tampanku itu.
"Ahh, aku sungguh merindukanmu ...." ucapku lirih sambil sesekali melirik pada putriku yang sedang berceloteh ria.
Saat ini, kami sudah selesai berbelanja dan sedang dalam perjalanan menuju rumah.
"Ayo, Ma! Buruan, Papa udah nungguin kita!" teriaknya lucu.
"Hati-hati!" balasku berteriak karena Annie sudah berlari ke dalam rumah.
Rumah kami cukup luas, namun aku tak menyewa pembantu untuk membantu pekerjaan rumahku. Entahlah, rasanya aku lebih leluasa tanpa orang asing di rumahku sendiri.
Aku buru-buru mengikuti Annie yang telah menunggu dengan tak sabaran di depan pintu masuk.
"Ayo, buruan!" teriaknya lagi membuatku hanya bisa menggeleng kepala saja.
"Sabar, sayang."
Aku mengekorinya dari belakang sembari membawa beberapa cokelat yang akan kami buat karena hari ini adalah hari ulang tahun ayahnya.
Kami kemudian mulai melelehkan cokelat, mencetak, dan mendinginkan hingga membentuk cokelat yang sangat lucu.
"YEY!!" teriak Annie girang.
"Ayo, kita pergi sekarang, Ma,"
"Sekarang? Kau gak ingin mandi dulu?"
"Ah, iya. Kita harus berdandan cantik untuk bertemu papa,"
Aku hanya bisa menggeleng kepala saja melihat betapa aktifnya anak itu.
****
1 jam kemudian
Kami sedang dalam perjalan untuk bertemu ayahnya yang pasti sudah lama menunggu kedatangan kami.
Annie sejak tadi terus tersenyum cerah dan memeluk sekotak cokelat yang sudah ia buat dengan susah payah. Aku hanya tersenyum dan membelai kepalanya lembut.
Kini kami sampai di tempat tujuan. Annie yang tak sabar, buru-buru berlari ke tempat ayahnya.
"Hati-hati, Nak!!"
Aku berteriak dan mengejar langkah kecilnya hingga kami berdua sampai di depan ayahnya, suami tercintaku.
"PAPA!!" Annie memeluk nisan ayahnya dengan deraian air mata. Tak ada lagi canda tawa yang ia perlihatkan kepadaku.
Hari ini adalah 2 tahun kepergian David. Meskipun Annie masih kecil, namun dia mengenali siapa ayahnya dari foto yang sering aku tunjukkan sejak dulu.
Aku hanya bisa menepuk lembut punggung putriku yang masih memeluk erat nisan ayahnya.
"Sayang, kami datang. Selamat ulang tahun, hem?" ucapku dengan nada bergetar.
"Selamat ulang tahun, Pa," ucap Annie ikut menimpali.
"Nak, berikan cokelatnya untuk papa."
"Oh iya."
Annie buru-buru meletakkan kotak cokelat tadi di depan batu nisan itu lalu kami berdoa sejenak.
"Selesai. Ayo, makan cokelatnya, sayang."
Annie mengambil satu coklat berwarna pink dan menyuapinya padaku. Aku sungguh terharu memiliki Annie yang menjadi kekuatanku.
"Lihat sayang, putrimu semakin besar dan cantik," ucapku tersenyum sambil membersihkan sedikit debu di foto yang tertempel di batu nisan itu.
"Enak ya, Ma cokelatnya," ucap Annie yang memakan cokelat sebagai perwakilan dari ayahnya.
"Tentu saja. Bukankah itu buatan Annie, hem?"
Aku mencium pipi bulatnya hingga kami tertawa bersama berusaha saling menutupi kesedihan di dalam hati ini.
"Ya, Ma tentu saja ini enak karena ini cokelat buatanku sendiri," ucapnya penuh bangga.
"Benar. Kau sungguh hebat, Nak. Mama dan papa bangga padamu."
Cup
TAMAT
💔❤