Hari valentine, hari kasih sayang.
Hari dimana semua perempuan memberikan coklat pada laki-laki yang mereka suka. Akhirnya hari itu tiba dan aku sudah lama menunggu hari ini untuk memberikan coklat pada orang yang aku suka juga.
"Ehehe... Akhirnya aku bisa juga memberikan coklat ini untuk Val." batinku tersenyum senang, memegang erat kotak berisi coklat buatanku sendiri dengan hati berbunga-bunga.
Tapi masalahnya, aku tak berani memberikan secara langsung, jadinya aku meminta 'bantuan' seseorang.
"Oke, semua mengantri dengan tertib, ya. Dan tulis nama orang yang kalian sukai dengan benar." ucap (seseorang yang aku maksud itu yang bernama) Vino dengan nyaring didepan antrian siswi disana.
Vino sedang menertibkan siswi-siswi, termasuk aku juga, yang ingin meminta jasanya untuk memberikan coklat-coklat kami pada siswa yang kami sukai.
Ya, Vino adalah perantara yang akan menyerahkan coklat-coklat kami itu nantinya. Karena sebagian siswi tak berani memberikan secara langsung, makanya memakai jasanya.
Entah dari mana Vino dapat ide seperti itu? Dan pastinya dia mendapat uang yang lumayan menggiurkan dari kami atas bayaran dari jasanya itu. Memang sih kami bodoh karena nggak berani memberi coklat secara langsung, tapi yang penting hati senang.
"Entin? Kamu mau kasih coklat juga?" tanya Vino kaget melihat kehadiranku dikerumunan para siswi. Aku mengangguk mengiyakan.
Vino terlihat syok mengernyitkan dahinya dan bergantian menatapku lalu kotak coklat milikku.
"Kenapa dia menatapku begitu?" batinku agak kesal.
Iya, iya, aku tahu kalau aku ini cupu dan tak terkenal di sekolah. Penampilanku kuno dengan rambut dikepang dua dan memakai kacamata tebal.
Memangnya kenapa? Nggak salah juga kan kalau aku suka dengan penampilanku yang seperti ini. Tapi, jangan begitu juga dong. Melihat seseorang hanya dari penampilannya saja, masa aku jadi nggak bisa memberikan coklat pada orang yang kusukai? itu namanya diskriminasi.
Tapi, sudahlah. Yang penting perasaanku bisa tersampaikan. Kalau seandainya diabaikan... ya sudah nggak papa juga.
"Kamu yakin mau kasih coklat buatnya? Nggak salah tulis kan?" tanya Vino masih syok tak percaya melihat tulisan di kotak coklat milikku.
"Iya, tentu saja." jawabku mantap, tapi aku agak kepikiran melihat ekspresinya Vino.
Aku, semua siswi disini ingin memberikan coklat kami untuk Valentino. Seisi sekolah ini sangat mengenal siapa itu Valentino. Kakak kelas 2 yang sangat populer, tampan, terkenal baik dan ramah pada siapa saja.
Tapi, kenapa Vino malah terlihat kaget dan menanyakan hal aneh begitu? Seharusnya dia juga tahu kalau aku ingin memberikan coklat itu untuk Valentino juga. Walaupun aku hanya menulis Valentino saja, setidaknya dia langsung tahu kan?
"B-baiklah kalau begitu." ucap Vino menelan ludahnya dengan susah payah sambil menatap kotak coklat milikku dengan tubuh gemetaran.
"Kenapa Vino begitu, ya?" batinku bingung.
Jam istirahat berikutnya...
"En-Entin... "
"Vino? Ada apa?" tanyaku bingung melihat kedatangan Vino kekelasku. Tumben-tumbennya dia kesini dan mencariku.
"I-ini ada surat untukmu." ucap Vino tergagap.
"Untukku? Dari siapa?" tanyaku bingung.
"Dari Valentino." jawab Vino.
"Eh? Dari Valentino?" tanyaku kaget tak percaya.
Seisi kelas ikut-ikutan kaget dan menatapku dengan tak senang dan iri karena hanya aku saja yang mendapat surat dari kakak kelas populer itu.
Tak kusangka, aku langsung mendapat balasan dari Valentino.
"Disini tertulis Valentino ingin menemuiku sehabis pulang sekolah nanti." ucapku tersenyum senang membaca isi surat itu.
"Kyaaa... Aku jadi nggak sabar menunggu pulang sekolah." ucapku kegirangan.
Pulang sekolahpun tiba, aku langsung bergegas mendatangi tempat janjian yang tertulis di surat itu dengan hati gembira.
"Hm... Valentino ada dimana, ya?" batinku celingukan saat sudah sampai tapi malah tak menemukan sosok Valentino disana.
"Apa kamu yang bernama Entin?" tanya seseorang tiba-tiba.
"Loh? Kenapa bukan Valentino?" batinku kaget dan bingung melihat orang didepanku.
"Oi, apa kamu yang namanya Entin?" tanyanya lagi, mulai terlihat kesal karena aku tak menjawab pertanyaannya.
"I-iya." jawabku takut-takut.
"Jadi kamu yang memberikanku coklat?"
"Hah? M-maksudnya?" tanyaku bingung dan syok.
"Kamu memberikanku coklat ini." ucapnya agak songong tapi seperti kesal sambil memperlihatkan kotak coklat pada Entin.
"I-itu kan coklat dariku. Kenapa bisa sama dia?" batinku syok.
Kenapa? Padahal aku memberikan coklat itu untuk Valentino, bukan dia. Sampai aku sangat senang dan mau (emang mau banget dong) diajak ketemuan dengannya. Tapi, kenapa yang ada dihadapanku sekarang malah kakak kelas 3 yang terkenal berandalan itu yang ada disini? Terus kenapa coklatku bisa ada sama dia?
"Kenapa kamu kasih aku coklat?" tanyanya garang.
Jangan kege-eran! Itu sebenarnya bukan untukmu!
Tapi aku nggak bisa bilang begitu, bisa-bisa aku bakalan diamuknya. Karena kakak ini siswa berandalan yang paling ditakuti di SMA ini dan tak ada seorangpun yang berani macam-macam dengannya.
"Oi, kamu dengar nggak? Aku tanya... kenapa kamu kasih aku coklat?" tanyanya lagi makin kesal dan wajahnya mulai jadi sangar.
"Gimana nih? Aku harus jawab apa...? Uh... Bodo amat dah." batinku ketar-ketir.
"K-karena aku suka sama kakak!" aku malah berteriak dengan nyaring saking frustasinya.
"Apa? KAMU.SUKA.PADAKU...???" tanyanya tak percaya.
"Hiks, habis sudah... " batinku pasrah.
"Suka? Huh! Bohong banget! Jelas-jelas sekarang dia ketakutan melihatku." batin kakak kelas itu kesal.
Dilihatnya Entin yang terdiam dengan tubuh gemetaran ketakutan, entah kenapa dia tersenyum menyeringai sepertinya ada ide menarik muncul dibenaknya.
"Kalau kamu memang suka padaku, kamu harus tunjukkan bukti keseriusanmu dong." ucapnya menyeringai.
"Tapi, kalau kamu nggak bisa membuktinya dan hanya membohongiku saja... HABIS KAMU!" ucapnya lagi memberikan 'nada penekanan mematikan' di akhir kalimatnya.
Hiks, aku hanya bisa mengangguk dan menatapnya dengan pasrah sampai berkeringat dingin.
Keesokan harinya, di sekolah...
"Vino...!!!" teriak Entin emosi.
"Kamu kenapa teriak-teriak sih?" kaget Vino melihat Entin yang mencak-mencak menghampirinya.
"Kenapa kamu nggak kasih coklatnya buat Valentino? Kamu malah kasih buat kakak yang galak itu." ucap Entin kesal, mengguncang-guncang badan Vino sampai jadi terayun-ayun.
Karena terlalu kesal, keluar deh sifat aslinya Entin.
"Sudah aku kasih kok. Buat Valentino kan?" ucap Vino apa adanya.
"Tunggu sebentar, apa jangan-jangan nama orang itu juga Valentino?" tanya Entin gemetaran. Vino mengangguk mengiyakan.
"Bukannya kamu seharusnya juga tahu kalau aku memberi coklat itu buat Valentino seperti yang lainnya juga. Kakak kelas 2 yang baik dan ramah, bukan kakak kelas 3 yang galak itu... " ucap Entin geregetan.
"Kan waktu itu sudah kubilang harus tulis namanya dengan benar. Nama kakak yang baik itu sebenarnya Vallentino, dobel L. Sebagai penggemarnya kamu seharusnya tahu itu kan?" tanya Vino tak merasa salah.
M-mana aku tahu. Kupikir Valentino ya namanya pasti Valentino. Mana kutahu kalau nama kakak yang galak itu Valentino juga.
Kenapa sih Vino harus seteliti itu juga. Nggak bisakah dia memaklumi dan mengerti kalau aku kurang jelas tulis nama.
Aaargh... Hanya gara-gara perkara kurang satu huruf L saja, hidupku langsung jadi kacau begini. Dan gara-gara kesalahpahaman ini, kakak yang bernama Valentino itu malah menyuruhku membuatkan coklat untuknya selama seminggu sekali berturut-turut sebagai bukti kalau aku benar-benar menyukainya. Padahal hari valentine kan sudah lewat. Tapi, kalau aku nggak melakukannya, aku nggak tahu bakalan seperti apa nasibku nantinya.
Hiks, coklat yang sudah susah payah aku buat sendiri sampai aku dimarahi ibu gara-gara membuat dapur berantakan, eh... yang ada coklatnya malah salah kasih ke orang lain.
Lumayan tampan sih, tapi orangnya nyeremin...
"Huweee... Balikin uangku... "
"Nggak bisa dong. Asal kamu tahu aja, gara-gara kamu, aku malah harus berhadapan dengan kakak galak itu." ucap Vino tak terima.
"Kamu pikir cuma kamu aja yang takut? Itu semua kan salahmu!" ucap Entin lebih tak terima.
"Kenapa jadi aku yang salah? Kan kamu sendiri yang salah tulis!" ucap Vino emosi.
Entah kenapa mereka jadi saling bertengkar menyalahkan.
Lalu kehidupanku yang normal dan biasa-biasa saja langsung berubah seketika. Hanya gara-gara coklat yang dikirim salah sasaran, aku malah harus membuat coklat seminggu sekali untuk Valentino yang galak itu lagi.
Gara-gara hal itu, aku jadi sering ketemu dan entah kenapa tanpa sadar lama-lama dia malah membuatku jadi babu. Suruh sana, suruh ini, suruh itu. Kalau nggak dituruti, dia bakalan memelototiku dengan tatapan sangarnya.
Seisi kelas entah kenapa jadi tahu kalau aku terlibat masalah dan berhadapan dengan Valentino karena salah kirim coklat, sekarang mereka malah jadi senang dan menertawakanku.
"Malu banget... Sudah cukup! Aku sudah nggak tahan lagi. Aku akan berterus terang saja sama Kak Val. Tapi... gimana caranya...?" batin Entin, menarik kedua rambut kepangnya dengan frustasi.
***
"A-akhirnya ketemu juga." ucap Entin ngos-ngosan, karena tak sabaran Entin malah lari menghampiri Valentino gara-gara sedari tadi tak menemukan Valentino dikelasnya.
"Ada apa mencariku?" tanya Val garang.
"Ah... Anu, itu... Glek!"
"Haduh... Aku malah kesusahan ngomong sekarang. Padahal tadi sudah semanga menggebu-gebu." batin Entin dengan tubuh gemetaran.
"Oh, tunggu, kak. Aku lap kacamataku dulu." ucap Entin mengalihkan topik dan kebetulan kacamatanya memang berembun gara-gara tadi habis lari.
Saat Entin melepas kacamatanya, tanpa Entin sadari, Val terpesona melihatnya. Mata Entin bulat dengan bulu mata yang lentik, ternyata kecantikannya tersembunyi dibalik kacamatanya selama ini.
Entin selesai melap kacamatanya dan memakainya lagi. Val terlihat salah tingkah tapi Entin tak menyadarinya.
"Ehem, jadi mau ngomong apa?" tanya Val, menetralkan wajahnya yang agak merona.
"A-anu... Itu... Selama ini aku sudah nggak tahan dengan sikap kakak yang suka menyuruh-nyuruh aku seperti babu. Aku juga takut sama kakak yang selalu suka memelototi aku. Jadi... yang aku mau... aku... " ucap Entin takut-takut.
"Loh? Loh? Loh? Aku ngomong apa tadi?" batin Entin kaget dengan ucapannya sendiri.
Bukannya terus terang kalau Vino yang salah kasih coklat, Entin malah mencurahkan isi hatinya.
Val terdiam menatap Entin.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Aku nggak akan menyuruh-nyuruh kamu lagi dan aku nggak akan memelototi kamu lagi." ucap Val agak lembut.
"Eh...?"
Sekarang malah Entin yang terpesona dengan sikap Val yang tiba-tiba berubah jadi lembut.
Memang benar, sesuai janjinya, Val bersikap lembut pada Entin. Tidak menyuruh-nyuruh lagi, tidak sangar dan tidak melotot lagi. Bahkan Val malah bisa tersenyum lembut pada Entin. Tapi, tetap saja Entin masih membuat coklat seminggu sekali untuk Val.
Yang dulunya Entin takut denga Val dan ingin selalu menghindarinya (tapi tak bisa) dan pura-pura bilang suka untuk bisa 'bertahan hidup', sekarang dirinya mulai goyah karena mulai tumbuh rasa cinta dihatinya terhadap Val.
"Kak, ini coklatnya." ucap Entin, memberikan coklat seperti biasanya pada Val.
"Kenapa kamu?" tanya Val heran melihat Entin yang malu-malu dengan wajah yang memerah.
"A-anu...A-aku mau bilang sama kakak... k-kalau aku... aku suka kakak." ucap Entin pelan dan lirih.
Val seketika terdiam dengan mata membelalak dan mulut yang sedikit menganga.
"A-aku juga menyukaimu." ucap Val malu-malu, memegangi tengkuknya.
"Dan berkat kamu, aku jadi bisa banyak berubah jadi lebih baik dibandingkan aku yang dulu. Terima kasih karena sudah sabar dan masih tetal mau bersamaku. Dan terima kasih juga untuk coklatmu. Maaf, selama ini aku selalu merepotkanmu." ucap Val tulus.
"Ehehe... nggak papa kok, kak." ucap Entin tersenyum manis.
Dan sejak itulah mereka mulai pacaran sungguhan.
Val dan Entin menjadi Valentin.
Cinta (terpaksa) yang dulunya berawal dari coklat salah sasaran, tapi sekarang menjadi cinta yang tulus karena tepat sasaran. Tepat sasaran karena cinta terbalas pada hati yang sebenarnya menjadi tumbuh karena seiringnya waktu yang mereka jalani bersama.
"Semua itu karena siapa coba?" celetuk Vino senang.
"Anda siapa, ya?" tanya Val dan Entin pura-pura tak kenal.
-TAMAT-