Malam itu aku baru saja mengalami patah hati, patah hati terberat. Karena pria itu adalah satu-satunya pria yang benar-benar berhasil merebut hatiku, pun berhasil menjadi satu-satunya yang meninggalkan luka tidak kasat mata di hatiku. Aku melihatnya berselingkuh dengan seorang wanita yang selama ini diakuinya hanya sebagai seorang sahabat. Namun, nyatanya aku melihat mereka tidur bersama, saling melenguhkan nama masing-masing kala menikmati penyatuan mereka.
Perasaanku campur aduk malam itu. Marah, sedih, kecewa. Aku tidak tahu emosi mana yang lebih mendominasi malam itu hingga membawa langkah kakiku pada sebuah klub malam. Entah berapa gelas yang aku habiskan malam itu hingga begitu mabuk dan membiarkan tubuhku dijamah oleh seorang pria tidak dikenal. Malam panjang kami habiskan bersama, dalam kehangatan tubuh yang saling membalut dan kenikmatan yang seakan membawa diri ke nirwana.
Ya, malam yang samar-samar masih membekas di ingatanku sampai saat ini, sambil memegang sebuah testpack yang menunjukkan tanda positif.
Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya dan mengumpat hingga aku puas. Dasar wanita ceroboh! Seharusnya aku langsung membeli obat pencegah kehamilan setelah hari itu, tetapi dengan bodohnya malah menganggap hubungan semalam itu tidak berarti apa-apa.
Sekarang lihatlah!
Seumur hidup aku akan bersama peninggalan dari pria tidak dikenal itu. Aish, sial! Wajahnya pun aku tidak tahu, jadi tidak mungkin meminta pertanggungjawabannya. Kenikmatan sesaat memang seringnya membutakan.
Meninggalkan toilet umum yang aku jadikan tempat dadakan untuk memakai testpack, kemudian memasuki mobil dan melaju pergi.