"Jadi, sampai jumpa besok?"
"Ya, sampai jumpa besok, Ar!" Tangannya melambai pada seorang laki-laki yang yang duduk di atas motor besarnya, siap melaju meninggalkan depan sebuah rumah sederhana. Lalu, ketika laki-laki yang berstatus kekasihnya itu telah meninggalkan rumahnya, dia langsung berbalik untuk memasuki rumah.
Langkahnya ringan, senyuman tidak meninggalkan wajahnya hingga dia masuk. "Anya pulang!" Dia berseru untuk memberitahukan kepulangannya. Tidak lama setelahnya seorang wanita paruh baya muncul dengan celemek yang menutupi pakaian depannya.
"Gimana tadi kencannya sama Arvin? Kalian ke mana aja?"
"Mama jangan nanya kayak gitu, ah. Anya maluu!" Gadis itu menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan.
"Kan, Mama cuma penasaran." Wanita paruh baya itu melontarkan argumen untuk membela diri. "Kalau waktu Papa sama Mama masih muda, Mama diajak nonton terus nonton sunset di pantai. Mama mau bandingin aja, kencan siapa yang lebih romantis," ucap wanita itu dengan tatapan jahil.
"Udah, deh, Ma. Lagian beda zaman, ya, beda juga dong kesan waktu kencannya. Mama gak usah nanya-nanya lagi, deh."
"Ih, kamu! Mama cuma pengen tahu aja."
"Udah, Ma. Mendingan Mama lanjut masak aja, nanti ada yang gosong lagi kayak waktu itu." Anya membalik tubuh sang mama dan mendorongnya lembut untuk kembali ke dapur. "Kalau gitu Anya mau mandi dulu."
"Iyaa, mandi aja kamu biar Arvin gak kabur waktu sama kamu yang bau."
"Dih, apaan si Mama! Anya gak bau, ya, walaupun gak mandi." Dia memberikan protesan yang disertai tawa kecil yang bahagia. "Udah, ah, nanti Anya malah gak jadi mandi kalau ladenin Mama terus. Bye! Jangan kangen sama Anya!" Gadis itu segera berlalu dari dapur untuk menuju kamarnya.
Selang hampir dua puluh menit kemudian dia sudah selesai dengan kegiatan membersihkan diri. Kemudian Anya memiliki sebuah kaus oversize berwarna hitam dan celana pendek yang terasa nyaman di tubuhnya. Melihat jam yang tertempel di dinding kamarnya, Anya memutuskan untuk bersantai sejenak sampai sang papa pulang dan makan malam bersama.
Dia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang yang empuk, mengambil posisi setengah berbaring dengan kepala yang bersandar pada headboard. Sambil bersantai, Anya memainkan ponselnya, membalas pesan yang dikirim oleh Arvin dan teman-temannya. Lama seperti itu membuat kelopak matanya terasa berat, hingga tanpa sadar dia jatuh terlelap.
***
Kriiingg... Kriiingg...
Suara jam alarm yang terdengar memekakkan telinga membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Dia memang tertidur lebih awal semalam, tetapi rasa lelah masih menyelimuti tubuhnya kala tersadar jika dirinya telah terbangun dari mimpinya.
Dengan cepat dia bersiap untuk berangkat sekolah. Setelah seragam membalut rapi tubuhnya, dia langsung keluar dari kamar.
Praangg!
Pyaarr!
Bunyi benda-benda yang dibanting ke lantai, serta bunyi pecahnya sesuatu menyambut gadis itu kala dia berdiri di ujung tangga.
Selalu seperti itu.
Menarik napa panjang, kemudian Anya melanjutkan langkahnya untuk menuruni tangga. Dia sudah terbiasa dengan itu. Sudah terbiasa sejak empat tahun lalu, kala semua kekacauan di keluarganya bermula. Papa dan mamanya akan saling meneriaki satu sama lain, tidak menghiraukan suara mereka yang bisa saja mengganggu penghuni lain di rumah itu—dirinya.
"Pa, Ma, Anya berangkat sekolah."
Meskipun tahu dirinya lagi-lagi tidak akan dihiraukan, Anya tetap menyempatkan diri untuk pamit pada kedua orang tuanya yang masih terlibat pertengkaran. Bahkan ketika dia sudah benar-benar meninggalkan rumah, tidak ada satu pun dari mereka yang menghiraukannya. Rasanya sungguh sakit, tetapi entah bagaimana Anya akhirnya terbiasa dengan sakit dan sesak yang menderu dadanya.
Di sekolah pun sama. Tidak ada yang menghiraukannya, bahkan jika ada yang tahu keberadaannya di sekolah, rasanya sangat mustahil. Tubuhnya bak kasat mata.
Itu semualah yang menjadi alasan Anya lebih suka menghabiskan waktu di dunia mimpi. Di sana dia mendapatkan keluarga yang harmonis, papa dan mamanya tidak akan bertengkar dan meneriaki satu sama lain. Pun dirinya memiliki banyak teman di sana, tidak seperti ketika dia menjalani kehidupan di dunia nyata.
Tidak peduli apa kata orang. Baginya, melarikan diri dari kenyataan yang memuakkan memang terasa seindah itu.