Bekerja di belgia, menjadi pengusaha muda yang merintis karir dari nol. lalu berniat kembali ke kampung halaman saat esok hari.
Paspor siap, Visa siap dan yang lainnya siap. tinggal menyiapkan mental yang matang.
Di bandara, saya berpisah dengan istri dan anak. mereka memilih menetap di belgia, karena tidak mendapat izin dari sanak mertua.
Saya duduk di kursi pesawat bertujuan ke jepang. sebenarnya saya dulunya adalah penduduk indonesia, saya berpindah menjadi penduduk jepang saat mulai merintis karir.
Karirku meningkat hingga ke belgia. uang berkumpul banyak, saya memindahkan keluargaku untuk tinggal di daerah chiba.
Pesawat terbang mengudara setelah lama berada di bandara, saya bisa melihat awan-awan lewat jendela pesawat.
Namun pada malam hari, cuaca berubah drastis. terjadi hujan besar ditambah kilat yang seakan menambah suasana mencekam.
Para pilot berusaha melewati cuaca ekstrim, namun sebuah kilat menyambar bagian belakang pesawat dan membuat pesawat dalam keadaan mendarat mendadak.
Pesawat tidak mendarat dengan sempurna, seharusnya sebelum kerusakan semakin parah, pesawat sudah mendarat di atas air. akan tetapi, pesawat mendarat di atas laut dengan keadaan sudah terbakar.
Entah bagaimana, saya selamat dari kecelakaan. sewaktu saya membuka mata, saya melihat air yang begitu dekat dengan saya.
Saya tercebur ke dalam laut, lalu saya mengambang menggunakan jas pelampung dan pelampung penyelamatan darurat. saat mencoba keluar dari badan pesawat, sebuah ombak menerjang ke dalam badan pesawat.
Membuat hantaman keras yang membuat tubuh saya terguling sejauh 12 meter, lalu saya pingsan.
Di saat saya terbangun, saya sudah tergeletak di atas pesisir daratan bersama seorang wanita... Wanita?! udah begitu, wanita itu sangat cantik!!
"Saya dimana?" wanita itu bangun dari pingsannya.
Tunggu dulu, saya familiar dengan wajahnya. Oh iya, dia adalah selebritis, idol dan aktris yang karirnya tengah naik daun, Yena.
"Siapa anda?"
"Saya Mikado."
Mikado dan Yena.
Pulau ini sepertinya besar. aku tidak bisa berkeliling seorang diri, Yena juga tidak bisa. sepertinya kami harus membangun tempat di sini.
Mikado mengambil beberapa serat pohon dan dahan yang sudah jatuh, aku pun harus berjuang, namun aku tak mau riasanku kotor. karena aku harus menghadiri sebuah acara penting.
Bajingan! kakiku tergelincir dan jari-jarinya menghantam batu besar. Sialan besar..!!
Yena tidak berbuat apapun, padahal aku sedang berjuang mengambil sesuatu. tapi biarkan saja, dia kan seorang perempuan.
Akan tetapi, jari-jemariku tidak sanggup melangkah lagi. setidaknya, aku harus memperbaiki tulang jari-jemariku yang membengkok.
Mikado sudah kelalahan sepertinya. padahal ada kelapa segar di atasku, kenapa aku tidak mengambilnya? namun aku tidak berbakat tuk memanjat, jadi biarkan saja.
Bajingan! baru satu jari saja, aku sudah berteriak seakan mau merenggek. masih ada dua lagi dan jari ketiga dari kiri, kondisinya terlihat sangat buruk.
Anjing..!! Sialan...!!! ah!! sial!! akhirnya, aku berhasil. sekarang, saatnya kembali bekerja.
Matahari masih belum menandakan mau terbit, namun perutku sudah berbunyi hingga tiga kali. mau dilihat berapa kalipun, kelapa² itu terlihat segar.
Namun... aku tidak bisa meraihnya.
Batu besar itu ada di sana, aku bisa melompatinya jika melompat ke kiri. lalu ada sebuah dahan di sana, dahan yang kuat untuk fondasi sebuah tempat tinggal darurat.
Yena sama sekali tidak bergerak dari sana, sedari tadi hanya menatap hpnya yang mati akibat terendam air.
Tempat tinggal belakangan, aku membuat sebuah tombak dari kayu untuk memburu ikan. namun sama sekali tidak membuahkan hasil. padahal sudah kubidik dengan betul, namun ikan itu mudah untuk melarikan diri.
Mikado tengah berjuang lagi, aku hanya melihatnya lagi.
Sialan..!! mau berapa kalipun mencoba, hasilnya akan sama saja. Sial, aku menyerah!
Loh Mikado tidak berjuang lagi, apa dia menunggu kelapa segar dariku? namun aku sama sekali tidak bisa meraihnya, bagaimana caranya aku memberitahunya?
Yena bertingkah aneh, apa dia cacingan?
Meskipun tidak dapat ikan, namun aku mendapatkan tiga ekor kepiting dari pesisir daratan. sekarang hanya tinggal membuat api unggun.
Mikado tidak menyadarinya. apa jangan-jangan dia memang menunggu kelapa segar, sehingga tak peduli dengan apa yang kukeluhkan?
Padahal dulu saat pramuka, aku bisa membuat api unggun. namun kenapa saat kucoba lagi, rasanya sungguh sulit.
Bajingan!! tanganku keslusuban..!!
Bajingan!! tanganku berdarah akibat kayunya patah, aku harus mencucinya.
Mikado berjuang lagi, aku bingung harus berbuat apa. apa aku mati saja?
Sudah lama kugosokkan hingga kuhantam ke pohon kelapa, api unggun ini tidak kunjung jadi. kepiting yang kutangkap menjadi sia-sia. maaf kepiting yang kutangkap, semoga kalian memaafkanku di akhirat kelak.
Mikado duduk di sebelahku, apa dia memang tak sabar menunggu kelapa segar dariku?
Duduk di sebelah Yena, selebritis cantik dan imut. sudah begitu, baunya sangat enak. bau parfum ternama.
Ah.. hari sudah menjelang pagi, mungkin...
Maaf Mikado, aku tidak bisa mengambilkanmu kelapa segar, walau kamu sudah tak sabaran.
"Hei, bagaimana kalau kita mati saja?"