Di pagi hari yang cerah. Seorang wanita muda yang baru beberapa hari lalu menikah sedang muntah-muntah di kamar mandi.
"Sayang...kamu baik-baik saja?." tanya sanga suami.
"Aku baik..huekk... aku...Hulk... huek..." Si wanita pun masih mual-mual dan hendak muntah namun tertahan.
Wanita itu bernama Cira, berusia 20 tahun. Dan suaminya bernama Domi, berusia 22 tahun.
Karena merasa cemas, mereka pun pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
Setelah selesai diperiksa, Cira pun duduk dengan manis di kasur pasien.
"Apa istri saya baik-baik saja?." Tanya Domi dengan wajah panik.
"Selamat pak. And akan menjadi ayah..." Ujar dokter itu dengan senyum cerah diwajahnya.
Domi pun membelalakkan matanya terkejut. Lalu ia tersenyum dan segera memeluk erat Cira.
"Terima kasih sayang.." Ujarnya pelan dengan nada terharu.
Keluarga Domi Alesa adalah keluarga berpengaruh di bidang pertanahan. Mereka memiliki tanah dimana-mana. Dan termasuk keluarga yang kaya raya.
Kabar kehamilan itu membuat sekeluarga sangat berbahagia. Demi merayakan kehamilan itu, keluarga Alesa mengadakan pesta makan khusus keluarga inti.
Tidak terasa 8 bulan telah berlalu. Dan perut Cira sudah sangat besar. Ia sungguh tidak sabar menanti kelahiran anaknya.
Dia sedang berjalan-jalan bersama Domi di sebuah pusat perbelanjaan. Dokter bilang itu bagus untuk kandungannya.
"sayang apa kamu lelah?." tanya Domi dengan wajah cemas.
"Aku tidak lelah." Ujar Cira dengan wajah riang.
"Baiklah, ehh kunciku mana?." Ujar Domi sambil memeriksa kantung baju dan celananya. Saat ia membalik tubuhnya ia melihat kuncinya jatuh di belakang sana.
"Tunggu sebentar sayang." Ujarnya lalu ia pun berbalik dan menghampiri kuncinya. Saat tangannya baru memegang kunci itu. Tiba-tiba suara yang memekakkan telinga terdengar.
"bug!!! akkhhh!!!!...." Suara pukulan keras dan jeritan keras menggelegar di dalam sana. Para pengunjung pun gadung dan berteriak histeris. Bak slomotion dengan perlahan Domi menoleh dan ia langsung berlari dan melempar kuncinya saat melihat apa yang terjadi.
Ya... Cira lah yang berteriak. Ada seseorang yang memukul perutnya dengan keras hingga Cira jatuh terjungkal. Belum lama itu terjadi darah sudah mengucur dari bawah Cira. Ia hanya bisa berteriak kesakitan dan tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Dengan cepat Domi menggendong istrinya yang sudah berteriak histeris itu.
****
Kejadian yang singkat itu merenggut segalanya dari Cira termasuk dari keluarga Alesa.
Kini Cira hanya termenung dengan pandangan kosong.
Domi yang melihat itupun menitikkan air matanya.
Ia yakin istrinya pasti sangat sakit dan hancur mentalnya. Seorang anak yang mereka tunggu-tunggu selama 8 bulan ini meninggal hanya dalam 1 menit.
"Sayang... " Gumamnya sambil menangis dengan suara yang ditahan sambil memegang tangan Cira yang sudah pasrah.
3 bulan berlalu. Keadaan Cira sudah membaik. Namun tidak dengan mental dan kepribadiannya. Dia terus melakukan berbagai kegiatan seolah ia sedang hamil. Bahkan ia mengusap-usap perutnya dan berbicara sendiri seolah berbicara Dengan bayi dalam kandungannya.
"Cira... anak kita sudah meninggal. Kamu harus menerimanya." Ujar Domi sambil memeluk Cira dan menangis di pundaknya.
"Tidak Domi. Anak kita masih hidup. Lihatlah... dia ada di perutku." Ujar Cira dengan senyum di wajahnya.
"Cira!! sadar... biarkan anak kita beristirahat dengan tenang. Dia sudah mati Cira! dia sudah mati! berhentilah menghindari kenyataan Cira! jangan menyakiti dirimu sendiri!." Teriak Domi sambil mengguncang-guncang tubuh Cira lalu mendorongnya hingga terjatuh.
"Domi!!!" Teriak ibunya dengan marah melihat apa yang terjadi.
Lalu ia berlari dan menghampiri Cira yang tengah meringkuk. Lalu Cira pun menangis.
"Anakku sudah mati.. huhu.... kenapa anakku harus mati!!.." celotehnya sambil menangis sesenggukan. Mendengar itu membuat Domi pun semakin sedih. Air mata tak henti-hentinya menetes membasahi wajah Domi.
Lalu ia berbalik dan duduk lalu memeluk Cira.
"Maafkan aku Cira... sabar ya... aku akan selalu ada di sisimu." Ujarnya sambil mengeratkan pelukannya pada Cira yang sedang menangis.
Sang ibu pun ikut memeluk keduanya. Dan kebetulan Sang ayah juga datang. Melihat momen menyedihkan itu ia jadi ikut sedih. Lantas ia ikut serta memeluk mereka.
Sungguh hari yang penuh tangis.