Terlahir dari monster, memiliki kepribadian yang sangat aneh. Menderita penyakit kegilaan lantaran sudah dikirim ke medan perang sejak berusia 13 tahun.
Baron merupakan berkat yang diberikan pada Arheen si pahlawan perang. Nama Leuracius adalah hadiah dari sang Kaisar yang bangga padanya. Tapi ... apakah itu cukup untuk pengorbanannya selama lima tahun ini?
Berkat hidup di dunia perang Arheen tak pernah bisa tidur nyenyak, setiap matanya terpejam hanya akan ada bayang-bayang prajuritnya yang gugur terbakar api penyihir. Seolah-olah memang disengaja oleh sang Kaisar, Arheen yang masih muda terprovokasi hingga membunuh ayahnya yang merupakan seorang Duke.
Sayangnya dia menolak menerima gelar sang Ayah dengan alasan jijik menempati posisi tersebut. Bertahan dengan gelar Baron dan memiliki wilayah kekuasaan hingga tambang batubara juga diamond yang merupakan fosil eksperimen ilmiah si 'penyihir agung' seratus tahun lalu.
Namun, Arheen usia 25 tahun merasa kesepian hingga dia memutuskan berkelana, meninggalkan wilayahnya untuk sementara. Menyebrang lautan hingga tiba ke Kerajaan seberang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang gadis yang hampir dinodai, Arheen semula tak peduli tapi ....
Brak!
Aku melempar novel saat melihat Mama masuk ke dalan kamar. Kuamati sekitar hingga merasa aman kemudian menatap Mama yang sedang berkacak pinggang di depan pintu.
"H-29 UTBK, Mama nggak peduli gimana caranya tapi kamu harus mau FK," tegas Mama.
Aku tahu, sejak awal setelah mendapatkan penolakan lewat jalur SNMPTN semua kebebasan yang kumiliki sudah tiada lagi. Gagal jalur langit maka aku harus menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang lagi. Tapi ... tidak bisakah Mama sedikit saja bertanya tentang pola makanku?
"Ya, Ma," jawabku.
"Mama nggak butuh jawaban, Kak. Mau bagaimana pun kalau sudah mepet begini harusnya kamu lebih berusaha lagi. Berapa kali Mama harus bilang kalau buku segitu aja nggak cukup!" murka Mama.
Beberapa buku memang sengaja kusingkirkan. Oh ayolah, kenapa harus belajar segiat itu?! Aku bukannya menolak untuk melakukan perintah Mama tetapi sekarang sudah jam dua.
Tidak bisakah aku tidur saja?
"Papa kamu besok pulang, dua hari lagi kita ada acara kumpul keluarga. Kamu tahu gimana mereka, Kak. Mama harap kali ini nggak ada yang bikin kekacauan lagi," tutur Mama dengan begitu tegasnya.
Aku hendak tertawa saat Mama menutup pintu dengan begitu kencangnya. Tapi memang dasarnya tubuh lemah jadi bukan air mata melainkan darah yang mengalir deras dari hidungku.
"Sial," umpatku.
Beberapa hari belakangan ini aku lebih sering mimisan. Dulu pun juga begini tapi hanya sebulan sekali, sekarang beda cerita. Bisa lima kali aku mengalami mimisan dalam sehari, setidaknya selama tak sampai pingsan maka tubuh ini masih bisa memaklumi.
"Meskipun begitu aku lelah," kekehku yang kembali memungut novel berjudul 'Gairah Sang Baron yang Kesepian' itu.
Sudah lebih dari lima belas kali aku membacanya sampai hapal setiap scene yang ada. Ini novel satu-satunya yang kumiliki, membelinya pun harus diam-diam. Sedari kecil Mama selalu melarangku memakai ini itu, calon dokter harus hebat, katanya.
"Hebat dari mana? Yang ada aku malah akan mati," tuturku sambil berdebat dengan hati.
Ada tumpukan buku-buku panduan dan satu novel yang telah kubaca berkali-kali. Pikiranku sedang ruwet jadi ... bukankah tak masalah jika melewatkan belajar malam ini?
Kulirik pintu lantas menghela nafas panjang dan berbaring. Mataku benar-benar terasa berat, padahal aku ingin membaca setidaknya satu scene lagi saja.
"Andai aku pemeran antagonis di novel ini, mungkin hidupku akan benar-benar menyenangkan."
Karena antagonis di novel ini ... seorang gadis yang hidup dengan kebebasan. Tiba-tiba kepalaku terasa begitu pusing, niat untuk melanjutkan pun aku urungkan sejenak. Mungkin memang sudah waktunya untukku tidur.
'Bangun.'
'Leriet? Nak, Ayah mohon bangunlah!'
Hem?
Suara burung kenari tetangga terdengar aneh, ya? Biasanya agak kemresek, sekarang sih lumayan lucu. Ah, tubuhku rasanya benar-benar ringan.
'Ayah mohon, Nak.'
Eh? Telingaku berguna, maksudku masih bekerja dengan sangat baik. Tetapi ... ada masalah apa dengan mataku? Sungguh, ini berat sekali!
Ouh aku tahu, mungkin karena sudah lama tak tidur lebih dari tiga jam aku jadi belekan. Xixi, anggap saja wajar. Toh aku memang tak berniat bang—
"Nona Lariet ... mohon maaf Tuan tapi kami tak bisa menyelamatkannya."
"Siapa yang mati?!" teriakku yang secara tiba-tiba saja mata yang semula berat dibuka menjadi begitu mudahnya.
Semua orang tampak terkejut. Ah tidak-tidak, aku yang jauh lebih terkejut saat ini baka!
Meneguk saliva, diam-diam aku mengingat ucapan Mama beberapa waktu lalu, "kalau kamu masih bertingkah seperti balita maka sang pencipta akan mengirimkan sekelompok manusia yang akan menyiksamu, Kak!"
Kembali aku terkekeh geli, mengingat ucapan Mama benar-benar lucu. Mana mungkin aku yang buruk rupa tak punya skill apa-apa justru berakhir diculik oleh mereka?
"Nak!"
Seruan lelaki berambut perak dengan mata ungu terang itu membuatku tertegun. Indonesia merupakan wilayah dengan sebagian besar penduduk berambut coklat sampai hitam, jadi ... mimpi si-a-lan macam apa ini?
"Syukurlah kamu sudah bangun. Ayah benar-benar khawatir padamu!"
Ayah?
Sejak kapan rambut ayahku —
"Istriku sudah bangun?"
Suara laki-laki asing itu membuatku makin terkejut saja. Dia mendekatiku, meminta semua orang untuk pergi bahkan sosok yang tadi menyebut dirinya 'ayah' pun dengan mudah mengalah.
Menatap laki-laki itu membuatku gemetar ketakutan, bahkan bernafas saja rasanya tak diijinkan.
"Tanda tangani ini," tuturnya.
"Hah?"
"Tck! Wanita memang menyebalkan. Kubilang segera tanda tangani ini, kau tuli atau bagaimana sih?!"
"Itu apa?" balasku, mencoba santai walaupun tak bisa.
"Surat cerai."
WHAT?!
AKU YANG BAHKAN BARU MAU UTBK DIAJAK CERAI?!
AHAHAHA, kamu pikir ini lucu, boy?
"Mohon maaf sebelumnya, kepala saya sangat pusing jadi jan—"
"Bagaimana tak pusing jika kamu melompat ke danau dan menghantam batu hanya untuk menghindariku?" potongnya yang membuatku benar-benar merasa sangat gemas.
Aku menarik nafas dalam-dalam, memutar otak dan mencoba mencerna apa yang terjadi. Masalahnya, kekasih saja tak ada, jadi mana mungkin aku mau menandatangani surat cerai. Duh, kawan, lelucon macam apa ini?
"Tuan, sebelum saya melemparkan sesuatu, harap pergi." Sungguh-sungguh aku kali ini.
"Kenapa kau terus memanggil 'Tuan' padaku? Jika ini semacam trik untuk membuatku menetap, jangan harap. Harusnya satu tahun lalu aku tak menolongmu dari sekumpulan pria brengsek itu," gumamnya.
Meskipun samar-samar aku masih bisa mendengarnya. Satu tahun lalu? Sekumpulan pria brengsek? Hah! Aku bahkan tak pernah kel—
"Tunggu," gumamku.
Lariet?
Ey ... tidak mungkin, 'kan? Haha, mana mungkin sih.
"Maaf Tuan, tapi sebelumnya bolehkah saya memastikan sesuatu?"
Laki-laki di depanku tampak mengangkat alisnya, kentara sekali bahwa dia tak memiliki rasa sedikit pun padaku. "Katakanlah, jangan buang-buang waktu, aku harus segera kembali ke kekaisaran."
Setelah dia mengucapkan kata-kata itu, aku jadi makin yakin pemikiran aneh ini.
"Eum ... Arheen Leuracius?"
Dia berdecih. "Dasar wanita aneh, kemarin kau sendiri yang merengek ingin cerai. Kenapa sekarang bersikap manis? Mau kumakan?!"
WHAT THE FU—?!
AH TIDAK-TIDAK, BAGAIMANA MUNGKIN AKU YANG TADI TIDUR MENJADI ISTRI BARON KURANG BELAIAN DAN SELALU BERTINGKAH KENAKAN INI?!
Ya Tuhan, apakah ini karma karena melawan keinginan Mama? Shit! Aku ... bagaimana bisa bertahan di dalam dunia novel genre 1821 ini kalau KTP saja baru kubuat beberapa waktu lalu.
Mama, aku tak punya teori apa-apa! Tolong selamatkan anakmu dari Arheen ini!
-TAMAT-
Halo, aku baru pertama buat ginian. Semoga suka!😍