“Anna Iriyama?! Selebriti cantik sejuta umat, apakah aku tidak bermimpi?!” pekikku dalam hati.
“Kenapa? Terpesona dengan kecantikanku?” tanya Anna.
Aku langsung tersadar dan menghela nafas kasar. “Siapa juga yang terpesona denganmu? Meskipun kau selebriti cantik.”
Beberapa jam lalu, aku hanya tidur di pesawat sambil mendengar musik. Entah kenapa, pesawat hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh ke laut, dan kurasa semua penumpang tewas dan hanya aku yang selamat bersama selebriti cantik papan atas ini.
Kulihat wanita itu menggambar garis, memotong areaku dan areanya. “Ini adalah wilayahku, dan itu adalah wilayahmu, jadi jangan pernah melewatinya, hanya untuk jaga-jaga, jangan sampai kau berbuat yang aneh-aneh padaku.”
Wanita ini kenapa tingkat kepedeannya sangat tinggi. Tak ingin berdebat aku memilih pergi untuk membangun rumah.
Malam pun tiba, rumah yang aku bangun sudah selesai meskipun masih rangkanya, tapi asalkan bisa ditempati tidur dulu itu tidak masalah, dan bahan makanan yang aku cari juga sudah ada, jadi aku tinggal bersantai.
Kepalaku menoleh, penasaran bagaimana nasib selebriti galak itu. Aku terkekeh melihat tingkahnya yang sangat ingin menghampiriku tapi karena harga dirinya yang tinggi, dia tidak sudi.
“Bukankah air kelapa ini sangat segar? Wah, aku juga dapat makanan untuk makan malam!” teriakku memancing.
Aku menghampirinya dan dia hanya menunduk. “Jadi, mana tempat teduhmu? Tidak ada apa-apa di sini,”
Anna hanya diam, meskipun aku tahu dia menggerutu dalam hati karena sikap menyebalkanku.
“Sepertinya tidak ada orang di sini, aku kembali saja.”
“Tunggu!”
Alisku terangkat sambil tersenyum puas. “Eh, ada suara? Jangan-jangan penunggu pulau ini?”
“Hei! Aku bukan penunggu pulau, aku ini manusia!” seru Anna.
Aku berbalik sambil mengubah reaksi wajahku. “Anna Iriyama, ya? Selebriti cantik sejuta umat itu, kan? Tapi aku tidak masuk, karena aku tidak fans denganmu.”
Sangat puas menggoda wanita ini, tapi kasihan juga melihatnya.
“Bolehkah aku berteduh di tempatmu? Jangan salah paham, aku seorang wanita, takutnya ada yang mencoba mencelakaiku, jadi aku memohon padamu.”
“Heh, bagaimana kalau orang yang mencelakaimu adalah diriku?” pancingku menahan tawa.
“Kau terdengar tidak sudi menerimaku, ya sudah, kau boleh kembali ke tempatmu!”
Begitu aku berbalik, perutnya berbunyi. Kasihan juga, sejak tadi aku menggodanya. Apalagi sudah malam, aku pun mengajaknya dan memberinya makan.
Sejak malam ini aku selalu menggodanya sambil dia membantuku membangun rumah. Tidak dirasa 1 bulan sudah berlalu kami terdampar.
Entah kenapa hubunganku dan Anna malah semakin dekat, apalagi Anna seperti terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya padaku.
“Rapmon-san, itu… aku tidak mengerti dengan diriku, tapi kau pria yang membantuku bertahan hidup sampai saat ini, jadi aku… aku…”
Ini lagi, dia selalu berkata seperti itu tapi tidak pernah menyelesaikannya. Tapi, aku seperti terdengar berharap juga.
Aku menggenggam tangannya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Bisa dilihat wajahnya merona.
“Kenapa? Kau jatuh hati denganku setelah melihat tubuhku setiap hari?” godaku.
Anna terbelalak dan spontan mendorong wajahku. “Siapa juga yang menyukaimu bodoh?!”
Aku selalu suka tingkah malunya yang lucu itu.
“Ya sudah, kalau dia belum mengaku, aku juga tidak akan mengaku,” ucapku dalam hati.
Anna menghela nafas kecewa. “Aku tidak akan mengakui perasaanku kalau bukan dia sendiri yang menyatakan perasaannya padaku,” ucapnya dalam hati.