(1)
Pada malam hari yang gelap. Didalam sebuah kamar yang megah cahaya remang-remang menerangi seorang wanita muda yang sedang berbaring sambil membaca sebuah buku novel yang berjudul "Cinta yang menekuk lutut"
Wanita itu bernama Anindya.Seorang wanita berusia 30 tahun yang masih singel. Umur yang semakin bertambah tidka membuatnya gundah dan buru-buru ingin menikah.
Hal itu disebabkan karena saat berusia 25 tahun ia hendak menikah dengan seorang tuan muda. Namun sehari sebelum pernikahan si pria tertangkap sedang bersetubuh dengan teman Anindya. Akhirnya Anindya membatalkan pernikahannya dan beginilah akhirnya.
Sekarang pria bukanlah prioritasnya. Uang, kekuasaan, popularitas, semua dimilikinya. Pekerjaan yang dibanggakannya adalah seorang CEO wanita yang genius dan memiliki perusahaan teknologi yang cabangnya tersebar di berbagai negara. Namun dibalik pekerjaannya sebagai CEO, dia adalah seorang pembunuh bayaran yang terkenal dengan sebutan Red Star.
"Aih...pemeran wanitanya kenapa sialan begini. Kasian itu Leonanya difitnah. Kenapa gak ada yang percaya sama dia sih. Sial alurnya terlalu monoton." Kesalnya sambil melempar buku itu. Setelah itu ia pun terlelap dengan emosi yang meluap di kepalanya.
********
(2)
"huahemm..." Anindya menguap saat baru terbangun. Namun ia merasa aneh karena tubuhnya terasa sakit. Kemudian ia menoleh ke sekelilingnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat sekitar 10 orang pria seram berbadan besar menatapnya dengan mata penuh nafsu.
"Sial...apa yang terjadi. Apa aku diculik saat tidur." gumamnya dengan kesal.
"Seperti yang di katakannya. Nona Renan benar-benar cantik dan menggoda. Sepertinya aku akan puas malam ini." Celoteh seorang pria dengan kekehan mesumnya.
"Renan?!." Gumam Anindya dengan mata terbelalak.
"eh...ini pasti hanya ilusi semata. Pasti hanya mimpi." Gumamnya lagi sambil tersenyum kecut. Lalu ia pun memukul pipinya.
"plak" Yang dilakukan Anindya membuat para pria itu kebingungan.
"Apa dia sudah gila?." Celoteh seorangnya.
"Sial bukan mimpi!." Ujarnya dengan marah. Lalu ia pun memaksakan dirinya untuk berdiri. Dengan tubuh yang lemah ia pun menatap tajam para pria itu.
"'Ohh?!...masih bisa berdiri." Ujar salah seorang diantara mereka sambil menyeringai mengejek.
Anindya menarik nafas panjang dan segera menendang salah satunya dengan tendangan doublenya hingga terpental.
"Apa?! Serang dia..." Ujar yang lainnya.
"Maju sini!!! Aku tidak mau menjadi cacat karena kalian!!!..." Teriak Anindya sambil memukuli mereka dengan gesitnya. Dan akhirnya ia berhasil. Tak ada satupun dari pria itu yang masih bertahan nyawanya.
Tentu saja Anindya harus melakukan itu. Jika ia tidka memaksakan tubuhnya kali ini maka dirinya akan dilecehkan dan di buat cacat. Lalu ia akan dinikahkan dengan pangeran yang cacat juga. Pangeran itu tidak bisa berbicara dan tidak bisa berjalan.
"Tunggu...bukankah pangeran itu sesungguhnya sangat kuat dan berhasil memberontak?. Bukankah dia pada dasarnya bisa berjalan dan berbicara?. Haha... aku harus memanfaatkannya..." celotehnya sendirian sambil tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu.
Di dunia novel ini. Sihir itu ada. Akan tetapi hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Contohnya adalah si tokoh utama wanita. Ia memiliki sihir cahaya yang banyak manfaatnya. Di kekaisaran ini hanya ada 3 orang yang memiliki sihir cahaya. Oleh karena itu ia sangat disegani.
Dan tubuh yang Anindya tempati sekarang adalah putri Duke yang mencintai pemeran utama pria bernama Adelino yang pada akhirnya membatalkan pertunangannya karena Renan yang sudah cacat dan mengalami kelainan mental.
'pertama-Tama aku harus membatalkan pernikahan. Kedua aku harus berusaha agar bisa dekat dengan Pangeran ketiga yaitu Worley. Ketiga aku harus terus bisa keluar dari tempat ini.' Batinnya sambil melihat tempat luas itu.
Saat ini siang hari. Tempat Renan sekarang adalah kediaman terbengkalai milik keluarga Duke. Milik keluarga Renan. Ia sangat berterima kasih pada penulis karena membuat adegannya disini. Dengan begitu ia bisa menutupinya dengan mudah.
Anindya sudah membaca keseluruhan isi novelnya. Dan itu juga dalam waktu 30 menit membuat ia mengingat dengan jelas semua kejadian penting yang terjadi. Setelah kejadian ini... 3 hari kemudian pangeran pertama yaitu Adelino sang pemeran pertama datang ke kediaman Duke. Kemudian setelah melihat keadaan Anindya dia pun membatalkan pertunangannya secara sepihak dengan alasan Anindya akan mempermalukan kerajaan.
Dalam buku Anindya ingat dengan jelas kalau saat Renan mati. Worley menemukan kebenaran kalau Renan memiliki kekuatan kegelapan yang lebih Lanka dari kekuatan cahaya milik pemeran utama wanita yaitu Anastasya.
Anindya pun menyeringai licik memikirkan banyak rencana kejam yang sangat ingin diperbuatnya pada tokoh utama pria dan wanita. Meski Renan hanya figuran belaka, tetapi Anindya bertekad membangkitkan peran antagonis dalam diri Renan.
****
(3)
Kini tubuh Renan sudah segar bugar akibat kekuatan gelapnya yang diaktifkan oleh Anindya.
Tidak ada hal istimewa yang terjadi pada Renan selama tiga hari itu. Dengan bantuan ingatan milik Renan, Anindya bisa berperilaku seperti biasa.
Saat ini pula ia tahu ternyata dirinya sangatlah disayangi oleh keluarganya. Ia memiliki 3 kakak laki-laki yang salah satunya adalah anak kembar. Ia juga memiliki 3 adik lelaki. Karena ia perempuan sendiri membuat ia diperlakukan bak seorang putri. Oleh karena itu ia menentang perintah ayahnya untuk tidak mendekati putra mahkota.
Saat Renan sedang bersantai. Tiba-tiba ada pelayan yang memanggilnya.
"Nona...Tuan Duke meminta anda untuk keruang tamu. Ada yang mulia putra mahkota." Ujar pelayan itu. Tanpa menjawab Anindya, kita panggil Renan mulai sekarang.
Renan berjalan melewati pelayan itu dengan wajah datar. Ya... para pelayan yang ada di dekat Renan selama ini adalah anak buah Anastasya yang sudah mengabdi padanya.
Dengan santai Renan menuruni tangga. Ia melihat ayahnya sedang berbincang dengan putra mahkota.
"Salam yang mulia." Hormat Renan dengan sopan. Kemudian ia duduk di samping ayahnya.
Adelino yang melihat itupun mengernyitkan alisnya. Biasanya Renan akan selalu menempel padanya dimana pun ia berada. Namun ia mengabaikannya.
Setelah menarik nafas... Adelino mengeluarkan sebuah surat titah kekaisaran.
"Saya sungguh menyesal. Akan tetapi ayah saya yang mulia kaisar menitahkan saya dan putri anda untuk membatalkan pertunangan. Dikarenakan saya dijodohkan dengan nona Anastasya yang memiliki kekuatan cahaya. Saya sungguh minta maaf." Ujar Putra mahkota dengan wajah menyesal.
"Apa?! kenapa dia begitu sewenang-wenang. Pernikahan kalian adalah titah kaisar terdahulu. Mengapa dia berani membatalkannya!." Teriak Duke dengan marah.
"Ayah... tenang..." Ujar Renan sambil memegang tangan ayahnya.
Duke pun berusaha menahan emosinya dan mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Jika itu memang titah kaisar. Saya akan menerimanya. Lagipula saya juga berencana untuk membatalkan pertunangan. Saya merasa kaisar akan menjodohkan kalian berdua dan ternyata itu benar. Haha... santai saya yang mulia. Anggaplah saya sebagai teman anda. Biarkan hubungan terdahulu berlalu. Mari menjalani hidup kita masing-masing." Sahut Renan membuat kedua pria itu melongo terheran-heran.
Seorang Renan mengatakan itu? sangat tidka bisa dipercaya.
"Terima kasih atas kerjasama nona Renan. Mari kita berteman. Semoga kamu bisa menemukan pasangan yang lebih baik dari saya." Ujar Adelino sambil tersenyum manis.
"Iya. HM... untuk terkahir kalinya mari kita berjabat tangan." Ujar Renan sambil mengulurkan tangannya.
Adelino pun menerima uluran tangannya dengan senang hati.
"Putriku?! apa kamu sungguh baik-baik saja?!." Tanya Duke dengan wajah cemas.
"Tenang saja ayah... Aku baik-baik saja. Aku pasti menemukan pasangan yang lebih baik darimu." Ujar Renan sambil menunjuk Adelino.
Adelino pun tersenyum sambil menggeleng.
"Kamu benar... pasti kamu akan mendapat pria yang sangat mencintaimu dan jauh lebih baik dari dia." Tunjuk Duke pada Adelino juga dengan wajah merajuk.
Sungguh ayah dan anak sama saja tingkahnya. Sesungguhnya Adelino tidak ada niatan untuk membatalkan pertunangannya. Sejak beberapa waktu lalu ia berpikir keras dan akhirnya sadar kalau ia sangat nyaman bersama dengan Renan meski sikap Renan sangat manja.
Pada dasarnya itulah yang membuatnya senang. Renan hanya manja pada keluarganya dan dirinya. Sedangkan pada orang lain ia sangat dingin dan tegas. Adelino sangat menyukai sikap itu.
***
(4)
Kabar pembatalan pertunangan itupun menggemparkan seluruh kekaisaran. Bagaimana tidak? pertunangan pangeran pertama dan Anindya adalah titah kaisar sejak mereka dalam kandungan yang diketahui seluruh rakyat kekaisaran.
"Kamu baik-baik saja nak?." Tanya Duke dengan wajah cemas sambil melihat Anindya yang sedang menyeruput tehnya.
"Santai saja ayah... Aku baik-baik saja. Semua itu perintah kaisar meski aku tidak menyukai caranya. Tapi aku yakin jika ini benar semua akan baik-baik saja dan jika ini salah maka dialah yang akan menanggungnya." Ujar Anindya dengan anggun.
"Anakku." Ujar Duke dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Anindya pun menggeleng melihatnya. Di kehidupannya dahulu ia memiliki orang tua yang mengabaikannya. Sekarang malah sebaliknya yang membuatnya merasa agak aneh.
Saat mereka sedang asik berbicara. Tiba-tiba utusan kaisar datang ke dalam ruangan membawa titah kaisar. Anindya dan Duke sangat terkejut dan penasaran. Akan tetapi Anindya mengetahui apa isi titahnya.
"Perhatian pada Duke dan putri Duke. Yang mulia kaisar memberikan titah pada putri Duke. Mengingat putri Duke baru saja mengalami pembatalan pertunangan karena suatu kondisi. Maka kaisar menitahkan anda untuk menikah dengan pangeran ketiga yaitu pangeran Worley." Ujar utusan itu.
"Apa??!!! Mengapa dia melakukan itu?!" Teriak Duke dengan marah. Anindya pun menghentikan ayahnya.
"Ayah tenang. Mari kita bicarakan nanti." Ujar Anindya dengan mata penuh harap. Duke pun menghembuskan nafas kasar dan duduk kembali.
Utusan itupun menghela nafas lega karena Duke bisa dikendalikan oleh putrinya.
"Kami menerima titah kaisar." Sahut Duke dan Anindya bersamaan.
Lalu utusan kaisar pun pergi dari sana.
"Jelaskan alasanmu tidak marah diberi titah itu?." Tanya Duke menatap Anindya tajam.
"Sebenarnya..." Ucap Anindya berbisik. Ia menceritakan semua kebenaran tentang pangeran ketiga yang ia ketahui.
"Apa?!... Bagaimana mungkin. Bagaimana kamu tahu?." Tanya Duke terkejut.
"Santailah ayah... aku mencari informasi sendiri. Kaisar tidak mengetahui ini. Aku akan memanfaatkan situasi ini untuk membalas kaisar. Bagaimana menurutmu ayah?." Tanya Anindya dengan senyum licik.
"Wah... haha... aku menyukai taktikmu putriku. Ayah akan selalu mendukungmu dan merahasiakan semuanya hingga kamu memberi izin untuk mengungkapkannya." ujar Duke dengan senyum licik juga.
Anindya senang Duke atau ayahnya ini ternyata sangat bisa diajak bekerja sama. Bagus bagus... dengan begini semuanya akan berjalan lancar.
***
(5)