Aku terbangun dari pingsanku, yang ku ingat sebelumnya, aku habis mengalami kecelakaan bus saat akan pulang sekolah.
Namun saatku terbangun dari pingsanku, bukanlah rumah sakit yang aku liat ini, melainkan sebuah tenda, aku bingung kenapa aku berada di tenda ini, ini tenda apa?, dan dimana teman temanku lainnya? apakah sesuatu terjadi saatku pingsan?
Aku pun keluar dari tenda tersebut dengan berjalan sempoyongan, melihat kesana kemari orang berlalu lalang, berlarian panik. Apa yang sedang terjadi sebenarnya?
"Nak, jangan keluar. Pakai masker ini, debu berterbaran karena abu vulkanik dari gunung Jaya ini..." ucap seorang lelaki paruh baya yang memperingati aku.
Aku pun menurutinya, memakai masker yang diberi lelaki tadi. Aku sempat bingung dimana aku berada, dan tentang gunung Jaya? padahal disekitar kotaku tidak ada gunung bernama gunung Jaya?
Ayah dan ibuku kemana? teman temanku kemana? dan kenapa orang orang disini terasa asing bagiku?
Aku terlonjak kaget saat seorang anak laki laki memanggilku dengan nama Leli.
"Leli!!! ohh kamu sudah bangun, kamu belum makan dari kemarin, yuk kita makan ditenda konsumsi" ajaknya sembari meraih tanganku.
'leli? dia siapa? apa aku masuk cerita dalam novel itu? apa dia awan?' batinku penuh tanda tanya.
Aku masih belum tau alur dari kisah novel itu, karena aku baru membacanya diawal bab, novel itu berjudul 'Pergi' yang baru ku beli dua hari yang lalu sebelum aku kecelakaan bus.
'apa alur akan berubah saatku menjadi Leli?' batinnya.
"Leli?" lelaki tersebut melambaikan tangannya didepan wajahku, mungkin karena aku melamun terus.
Awan mengambilkan sepiring makanan untuk Leli, begitu juga dengan dirinya yang kemudian ikut mengambil sepiring lagi untuk dimakannya.
"Ayo makan!" serunya dengan tersenyum.
Aku mengangguk, dan memakan makanan yang diambilkan oleh awan, makanannya sederhana cuma mie instan dengan telur goreng saja, tidak seperti dirumah yang biasanya makan daging, ayam dan juga sayur sayuran.
Aku terdiam sejenak, rasanya tidak enak makan. Aku merindukan ayah dan ibuku, bagaimana aku yang disana? dan bagiamana keadaan teman temanku yang juga dalam kecelakaan bus tersebut.
"Leli?" Awan menggoyangkan lenganku, lagi lagi aku melamun.
Aku menatap Awan, "ayo makan, nanti aku ajak kamu ke terowongan itu!" ucap Awan.
Untuk apa aku diajak kesana? kan sekarang lagi erupsi gunung mengapa dia mengajakku berkeliaran diluar tenda pengungsian?
Entahlah, perutku tiba tiba terasa lapar lalu aku memakan makanan tersebut. Sekarang ini aku menjadi gadis kecil dengan pakaian lusuh, namun parasnya cantik, sepertinya Leli berumur 13 tahun tetapi umur asliku 17 tahun sama seperti umur awan sekarang ini.
Bagaimana keadaan diriku yang asli? aku Vivi bukan Leli, bagaimana caranya agar aku kembali menjadi Vivi?
Setelah makanan habis, Awan dan aku mencuci piring tersebut, aku tidak terbiasa mencuci piring jadinya Awan mengajariku cara mencuci piring.
Selesai mencuci piring, benar sesuai perkataannya, dia mengajakku ke terowongan yang entah terowongan apa itu, dia membawaku kesana menaiki sepeda berwarna biru.
Sesampainya diterowongan itu, aku dan Awan turun dari sepeda, lalu kita berjalan mendekat, namun terowongan itu sudah digaris polisi.
Aku menatap Awan dengan bingung, memangnya ada apa disini?
"Awan ini kenapa?" tanyaku pelan.
"Kamu tidak ingat? dua hari yang lalu ibu dan adikmu juga kakak kakakku meninggal disini, mereka tertimbun reruntuhan terowongan ini saat naik kereta. Didalam terowongan ini, masih banyak jasad orang orang belum terkubur dengan layak, karena ditakutkan akan ada gempa susulan lagi" jelas Awan membuatku mengangguk paham.
Ibu dan Adikku ada disana? tapi aku tidak mengenal mereka, aku harus apa? menangis? tetapi nasibku sendiri seperti ini, terjebak dalam novel yang tak ku ketahui alurnya.
"Kita doakan mereka dari sini ya Leli, semoga mereka dimakamkan dengan layak setelah semua berakhir" ucap Awan yang diangguki Leli.
Keduanya pun berdoa untuk para korban gempa kemarin yang tertimbun diterowongan tersebut.
Yang ku ingat, menurut ucapan teman temanku novel ini berakhir happy ending. Leli dan Awan menikah saat Leli berumur 23 tahun dan Awan 27 tahun. Saat itu Awan yang bekerja sebagai profesor karena kepintarannya, ia juga diangkat menjadi anak seorang profesor ternama.
Awan sempat lupa kalau dulu ia pernah mengenal gadis cilik bernama Leli yang dia tinggalkan bertahun tahun, saat ia kembali mencarinya ternyata Leli menjadi seorang perawat dirumah sakit milik ibu angkatnya, lalu mereka pun menikah.
Hidup Leli sangat sengsara waktu Awan meninggalkannya, ia harus hidup dipanti asuhan dengan ibu panti yang sangat tegas dan menakutkan, dia galak.
Tetapi hidup Leli terus berwarna karena memiliki teman yang sangat sangat setia dengannya, membuatnya selalu tertawa ceria, dia seorang gadis berkulit coklat dengan rambut keriting yang bernama Meri.
~•~