Mataku mengerjap pelan. Gaya kerajaan terpampang jelas di depanku. Kamar modern yang ku tempati kemarin, berganti dengan nuansa kerajaan terkenal. Sungguh, saat ini aku tak mengerti dengan sebutan 'Tuan Putri' yang diucapkan saat orang-orang menyapaku.
Seingatku, kemarin aku baru saja selesai membaca maraton sebuah novel dengan seratus-tiga-puluh-tujuh halaman. Kamarku yang bernuansa hitam, berubah dengan nuansa pink. Identitasku adalah seorang anak broken home yang memiliki adik tiri yang begitu jahat padaku. Hal itu, membuatku menjadi sosok pembangkang dan nakal.
Lalu, di saat bangun tidur aku mendapati banyaknya pelayan membungkuk hormat padaku. Mandi dengan ditemani, itu membuatku risih.
"LO SIAPA SIH NGIKUT-NGIKUTIN GUE?"
Bentakan yang kuucapkan, cukup membuat kaget para wanita yang berpakaian layaknya barista malam. Aku tak pernah dilayani layaknya putri kerajaan. Aku salah satu anak mandiri yang hobby membuat onar demi sebuah perhatian orang tua.
"Maafkan hamba, Tuan Putri Elizabeth. Hamba mengaku salah, maafkan hamba, Tuan Putri,"
Hah?
Dia memanggilku Tuan Putri lagi?
Lalu nama Elizabeth?
"Nama gue Keyna bοdοh! Elizabeth siapa?"
Langkah kakiku menjalani anak tangga kembali terlaksana. Cukup heran bahwasanya arsitektur bangunan rumahku berubah drastis. Bahkan banyak pengawal yang berdiri membungkuk hormat padaku. Para wanita yang melayani ku tadi, juga ikut berjalan mengikuti langkahku.
"Tuan Putri Elizabeth, saya mohon maaf. Janganlah Tuan Putri adukan kepada Raja! Hamba mengaku salah, hamba akui bahwa hamba tak sengaja memukul kepala Tuan Putri," ucap satu wanita meminta maaf dengan sengaja berlutut di bawah lantai. Aku gelagapan melihatnya.
"What? Are you crazy girl? Gue Keyna. K.E.Y.N.A. Keyna Salvyana,"
"Keyna? Kamu punya teman, Sayang?"
Langkah kaki terdengar. Aku berbalik dan melihat seorang lelaki bertubuh tegak berjalan ke arahku. Ada mahkota di atas kepalanya. Jubah yang dipakaikan sangat terlihat kuno, tetapi elegan. Aku juga bingung, kenapa beberapa pelayan memberiku banyak gaun yang bermotif kuno? Apa yang terjadi?
"Kenapa? Lupa sama ayahanda mu?"
"Maaf, Raja. Saya kurang hati-hati saat itu. Jika tidak memukul kepala Tuan Putri, mungkin Tuan Putri tak akan kehilangan ingatannya,"
WHATTT???
YA KALI GUE AMNESIA!
ADA APA SEBENARNYA?
Aku menarik tangan seseorang yang dipanggil Raja dan membawanya ke taman yang tak jauh dari sana. Entah mengapa, kakiku tepat sasaran menemukan tempat untuk berbicara empat mata. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan.
"Nama saya ... siapa?" tanyaku memberanikan diri.
"Kamu Elizabeth, Nak. Kamu putri Ayah satu-satunya. Ibunda kamu sudah tiada saat melahirkan kamu. Kalau kamu mau tanya apa-apa lagi, tanya saja. Ayah dengan senang akan menjawabnya," ucapnya antusias.
Aku heran.
"Ayah? Namaku Elizabeth?"
"Iya, Nak, benar. Kamu Elizabeth. Elizabeth Aundey de Fowriz. Oh iya, kamu juga merupakan tunangan Mouren 'Ho Loovest,"
Deg...
Itu adalah nama pemeran utama yang kubaca di novel semalam. Hidup mereka tak bahagia. Akibat keegoisan dan perselingkuhan pemeran lelaki, pemeran wanita tiada karena bunuh diri. Selain itu, alasan pemeran lelaki melakukan tindak selingkuh adalah karena sikap pemeran perempuan yang angkuh, arrogant, juga sombong.
Aku masuk dalam cerita novel?
Bersambung...
Jangan lupa dukung dengan hati dan komentar!!