'Ya Allah ... kok gini amat sih nasibku. Aku sudah berusaha ikhlas mas Haidar poligami kenapa malah istri-istrinya mas itu ... Puspita menambah beban pekerjaanku dan Amel memonopoli suamiku seenaknya. Bantu aku ya Allah, aku gak sanggup lama-lama begini,' panjat Gayatri dalam doanya.
***
Hati Gayatri kian hancur, melihat Haidar masih saja lebih senang menghabiskan waktu dengan Amel sementara Puspita juga enggan mengurus kedua anaknya bahkan sering pergi entah untuk keperluan apa, Gayatri memutuskan kembali ke rumah orangtuanya saja. Gayatri menutup warungnya serta menjual semua alat dan bahan untuk warung nasi ramesnya, tekadnya sudah bulat. Ia akan meninggalkan segala ketidakjelasan di rumah tangga 3 cinta itu. Meski hidupnya bisa dibilang berkecukupan, namun hampa. Gayatri tahu ia tidak bisa terus-terusan bergantung pada Haidar dan disakiti seperti itu.
"Puspita, dari mana saja kamu?" Tegur Gayatri saat melihat madunya baru pulang pagi itu.
"Gak ngurusin hidupku. Urus aja hidup kamu sendiri. Tuh, kenapa kamu gak jualan hari ini, uangmu masih banyak?"
Gayatri menggeleng. "Aku berhenti jualan, aku dan Bagas mau pulang ke rumah bapak."
"Oh ... lalu Hanif dan Hanna gimana?"
"Terserah kamu, Puspita."
"Hah, merepotkan saja. Bawa mereka denganmu," ujar Puspita sambil memberikan uang sejumlah 1 juta rupiah ke tangan Gayatri. "Nih, buat ongkos. Aku akan kembali jadi SPG, anak-anak itu juga aku akan kebingungan mengurusnya sambil bekerja," ujar Puspita lagi. Gayatri mengangguk dan menerima keputusan juga uang dari Puspita dengan lapang dada.
Gayatri sengaja tidak mengungkapkan rencana kepulangannya pada Haidar karena tentu saja suaminya itu akan melarang, tapi Gayatri sudah lelah menanganggung segala rasa yang menderanya. Ia hanya mengatakan pada Puspita. Tidak hanya setuju, wanita kedua itu malah memintanya membawa serta si kembar.
Gayatri tahu, ia tidak bisa mengandalkan Haidar atau siapa pun membahagiakannya, tidak lagi menyakiti dan membuat bersedih saja sudah cukup, dan Gayatri mengeti, iq layak bahagia dengan caranya sendiri.
Setelah memilah barang, Gayatri mempersiapkan anak-anaknya. Beruntung beberapa waktu lalu Haidar ada membeli troli untuk bayi kembar, sangat membantunya saat pergi seperti ini. Pakaian dan beberapa keperluan lain, ia taruh di kain sehingga menyerupai buntelan besar yang dia sampirkan dibelakang seperti menggendong jamu, sementara Bagas digendongnya. Dengan sedikit uang hasil penjualan nasi rames selama beberapa bulan terakhir dan penjualan beberapa perkakas serta uang dari Puspita, Gayatri pulang mencarter mobil ke desanya. Gayatri lega akhirnya bisa keluar dari rumah itu
***
"Alhamdulilah, kamu pulang, nduk?" Sambut bu Elok.
Gayatri mengangguk dan memeluk ibunya.
"Oalah, mas Bagas sudah gedhe lho ... yang kembar ini, anak-anakmu?" Tanya bu Elok.
"Itu Hanif dan Hana bu, anaknya Puspita."
"Oh, kamu dan Haidar sudah bercerai?"
Gayatri menggeleng, "Aku pergi dari rumah, bu. Mas Haidar punya istri lagi dan mengabaikan aku yang sedang hamil muda."
"Haidar kawin lagi dan ... kamu hamil lagi? Astagfirullah," bu Elok mengurut dadanya sendiri.
"Bu, maaf. Bolehkah aku dan anak-anak tinggal di sini saja? Aku lelah hidup dengan mas Haidar, bu," kata Gayatri sambil meloloskan air matanya.
"Tentu, ini rumahmu, nduk. Ingat bapakmu bilang, kamu boleh kembali ke sini asalkan tidak dengan Haidar."
"Maafkan Gayatri hanya jadi beban ibu dan bapak."
"Jangan berkata begitu, nduk. Syukuri dan nikmati saja, nduk. Tiap orang punya masalah, ibu yakin kamu bisa melewati semua ini. Jangan terus bersedih, kasihan bayi dalam kandunganmu ini.
Sore hari saat pak Slamet sudah pulang, Gayatri kembali mengulang kisahnya hingga ia memutuskan kembalinke rumah yang dikaatakan 'gubug reot' oleh Puspita dulu. Rumah yang sederhana tapi kaya akan kasih sayang, di situ tidak ada yang menyakiti oerasaan Gayatri.
Beruntung kehamilan keduanya ini sama sekali tidak merepotkannya. Sekalioun ngidam cuma mintanya minum kelapa muda segar yang harus dipetik sama pak Slamet di kebun. Makanya Gayatri memutuskan kembali bekerja sebagai pemetik daun teh seperti dulu sambil menemani ibu yang berjualan sarapan, Gayatri juga nekat kembali menerima tawaran pak Jaya, menjadi penyanyi dangdut. Gayatri harus bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan ke tiga anaknya, menyisihkan uang untuk persiapan melahirkan dan Bagas yang sebentar lagi akan masuk TK.
***
"Sudah lewat 6 bulan, nduk. Kamu tidak mendapat nafkah lahir dan batin dari Haidar, bisa dibilang kamu bebas sekarang. Bapak tidak melarang kalau kamu ingin menikah lagi setelah bayimu lahir," ucap pak Slamet suatu ketika.
Gayatri tersenyum, " Emang ada orang yang mau menikahia janda tanpa surat cerai dengan 4 anak yang masih kecil, pak? Lagi pula, aku pergi tanpa izin suami jadi aku memang pantas tidak dapat nafkah. Gayatri ini nususy pak, istri yang durhaka."
"Halah, suami modelan Haidar gitu ... poligami dibolehkan asalkan mampu adil dalam membagi nafkah lahir dan batin kepada semua istrinya serta tujuannya untuk ibadah. Sementara Haidar? Saat kamu hamil dia kawini Puspita, saat Puspita hamil, dia kawin lagi dengan Amel. Bapak ngerti kamu membiarkan Haidar menikah karena tidak mau suamimu berzinah tapi mana kamu tahu sebelum menikah mereka sudah melakukan itu? Hah ... ada baiknya juga Haidar benar menikahi Amel, sebab kalau tidak, sama aja artinya dia menafkahi kalian dengan uang haram hasil perbuatan maksiat," gerutu pak Slamet panjang lebar.