Samar-samar, aku melihat bayangan sosok yang familiar. Sosok itu menyunggingkan senyu di bibir sexynya. Hatiku mengalirkan kehangatan ditengah kehampaan. Sudah sekian lama tak ku lihat senyuman pria pengisi hatiku beberapa bulan lalu.
"Ayo kita pergi dari club ini." bisik pria itu dengan hembusan nafas hangat membuat leherku meremang.
Tubuhku yang oleng akibat wine tiga gelas. Tak mampu ku kondisikan lagi. Rasa panas menjalar di sekujur tubuhku, rasa panas yang berbeda. "Panas..."
"Sabarlah. Kita menyewa kamar saja. Minuman mu tidak beres." tukasnya dengan menghentikan pergerakan tanganku yang liar.
Satu kamar di club akhirnya terpesan atas namanya. Kini tubuhku semakin bergelora, ingin merasakan sentuhan. Aku tahu rasa yang menggerogoti tubuhku, rasa haus belaian dengan cumbuan. "Bantu aku Zack. Ini sangat menyakitkan."
"Like your Wish honey." Zack menyambar tubuhku hingga kami duduk dibawah lantai. Ku tarik kemeja Zack sekuat tenaga, menampakkan dada bidangnya yang masih menggoda ku disisa kesadaran ku. Zack merengkuh pinggang ku dan mulai mengecup wajahku dengan absen berurutan.
Kening, mata, hidung, pipi dan bibir. Rasa sesapan dengan tempo yang memaksa membuat ku menggila. Hingga kecupan Zack menuruni leher jenjang ku, aah ini semakin gila. "More sayang.."
Kegilaan kami seakan terus bergerak liar tanpa hambatan, tubuhku tenggelam dalam rasa nikmat di bawah kungkungan Zack. Tanpa kusadari permainan kami berulang kali tanpa menunggu nafas teratur.
"Aaarrgghh. Kamu selalu memuaskan honey. Cup." bisik Zain setelah ambruk di samping tubuh lemah ku.
Rasa lelah membuat mataku terpejam, ntah berapa lama. Hingga sayup-sayup ku dengar suara ketukan pintu. Mataku mengerjap berulang kali, rasa berat menimpa perutku. Ku alihkan pandangan ku. Mata ku berhasil melotot melihat siapa yang memeluk tubuh polos ku. "Zack? Astaga aku harus segera pergi."
Dengan hati-hati, aku melepaskan tangan Zack yang melingkar di perutku. Ku punguti semua pakaian ku yang terasa dingin. Hanya dalam sepuluh menit, aku sudah siap keluar dari kamar. Sekilas ku tatap wajah tenang dan senyuman Zack. "Maaf, aku harus pergi. Kamu adalah mantan. Dan kini aku memiliki dia. Terimakasih untuk satu malam terindah darimu."