Malam itu dia salah masuk kamar dan merayuku sedemikian rupa hingga aku tergoda memenuhi keinginannya. Aku sadar sudah melakukan hal yang tidak seharusnya pada seorang gadis yang tidak kukenal namun telah mencuri hati juga keperjakaanku di malam yang sama.
Keesokan harinya aku terbangun dengan perasaan kosong ... gadis itu meninggalkan uang sejumlah 3 juta rupiah beserta catatan 'Hai, maaf semalam sudah merepotkanmu, aku salah kamar. Tolong lupakan saja apa yang sudah terjadi, semoga kita tidak bertemu lagi. Jangan mencariku dan aku juga tidak akan mencarimu. Terima kasih atas malam yang luar biasa.' - Dan meletakkannya di nakas. Astaga, semudah itu dia ingin aku melupakan hal yang tak mungkin bisa kulupakan.
Setelah bersiap mengikuti kegiatan hari ini, saat akan meninggalkan kamar terkejut ketika melihat sesuatu yang berkilau keperakan di karpet dekat rak sepatu.
"Apa ini?" Gumamku. Ternyata sebuah kalung berliontinkan nama 'Aimee'. "Jadi namamu Aimee ya?Yes, aku akan menemukanmu Aimee dan pasti memilikimu selamanya,' tekadku."
Bermodalkan rekaman cctv hotel dan sebuah kalung berliontin tulisan 'Aimee', aku berhasil menemukan keberadaan beserta biodatanya. Kupikir semesta mendukungku menemukan perempuan yang kuyakini pasti adalah menemm pemilik kalung bernama Aimee itu.
"Hai Aimee," sapaku pada saat coffe break.
"Maaf siapa ya?"
'Eh, dia ini ... hanya pura-pura atau memang tidak mengingatku sih?' Batinku.
"A-aku Kenan," kujulurkan tanganku, mencoba berkenalan.
"Oh, dari mana kamu tahu namaku Aimee?"
"Kamu lupa sama aku?"
"Bukan lupa, tapi aku benar-benar tidak mengenalmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Iya, baru saja tadi malam. Ini ..." kutunjukkan kalung emas putih itu padanya.
"Di-dimana kau temukan?" Aimee menyentuh lehernya seperti mencari keberadaan kalung yang semula melingkar di lehernya.
"Kok bisa?" Ujarnya lagi.
Aku tersenyum, "Harusnya aku yang tanya, kok bisa kamu tiba-tiba masuk kamarku, menggodaku lalu keesokan harinya sengaja kau tinggalkan uang beserta catatan kecil ini," jawabku.
Aimee terkejut, "Aku mabuk dan salah masuk kamar. Kembalikan kalung itu!"
"Tidak bisa," sahutku cepat.
"Itu milikku!"
"Aku tahu, aku akan kembalikan jika kamu bersedia menjadi kekasihku."
"Huh, tidak semudah itu. Aku sudah bilang ... tolong lupakan apa yang sudah terjadi."
"Semudah itu?"
Mulutnya mencebik, matanya berputar, membuat wajahnya semakin menggemaskanku.
"Biasa aja sih? Itu hanya one night stand. Jangan berpikir lebih." Aimee lalu berbalik dan meninggalkanku.
Apa dia bilang? Hanya one stand stand, seolah kegiatan yang sangat pribadi itu sesuatu yang biasa saja, padahal dianjuga bilang 'terima kasih untuk malam yang biasa'. Ck, biasanya kalau udah diapa-apain, cewek deh yang ngejar minta dinikahin. Ini? Aiiih, ada-ada aja.
"Hei, aku hanya ingin bertanggung jawab." Ujarku sedikit menaikkan intonasi suaraku.
"Tidak perlu. Lupakan saja!" Sahut Aimee tanpa menoleh padaku.
Dia menolakku? Ah ... aku benar-benar ingin memiliki gadis yang telah membayarku semalam. Aku harus membuat Aimee jatuh cinta padaku. Lihat saja!