Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga pas-pasan. Ayahku PNS disebuah kantor pemerintahan sedangkan ibuku sebagai ibu rumah tangga. Aku delapan bersaudara dengan selisih kelahiran 2 sampai 3 tahun . Jadi bisa dibayangkan betapa repotnya ibuku mengurus kami. Meskipun demikian ibu punya cara untuk mendisiplinkan kami dengan menyusun jadwal piket dirumah untuk kami . Dari mulai mengisi bak mandi, menyapu ,mengepel lantai , beli sarapan sampai membeli dedak dan kangkung untuk piaraan ibu. Tak banyak sekitar 15 ekor bebek dan 13 ekor ayam ada di kandang besar yang terpisah.
Aku anak nomor 6 . Sore itu jadwalku membeli dedak di pasar. Karena jarak rumah dan pasar tidak begitu jauh aku hanya berjalan kaki.
Aku berjalan bersenandung sambil sesekali menendang batu kecil di depanku. Sampailah aku di depan rumah yang terletak dibelakang Gedung sebuah SMP. Rumah itu tampak biasa saja halaman luas dan ada sebuah pohon sawo cukup rimbun daunnya dan beberapa kulihat buah berwarna coklat muda bergantungan didahannya.
Tiba-tiba muncul sosok dari arah pohon sawo spontan mataku melebar. penampakan menyerupai rangka manusia lengkap dari tulang kepala sampai kaki berjalan menuju pagar rumah itu mendekati jalan yang ak lewati . seketika kesadaranku hilang ,ak hanya memantung sampai sosok itu menghilang. Saat itu usiaku 10 tahun. Aku berlari sampai ke penjual dedak dengan nafas tak beraturan.
setelah aku dapatkan 3 kilo dedak aku pulang melewati jalan lain , lebih jauh tentunya.
Mungkin itu awal aku bisa melihat makhluk penghuni dunia lain.
......
Suatu malam aku terbangun karena mimpi yang aneh. Ku usap keringat dingin yang meluncur dari dahi. Sambil duduk bersandar aku kumpulkan kepingan mimpiku.
Seperti Dejavu.. aku berjalan melewati tempat itu lagi, ada hamparan sawah menghijau kemudian lahan luas berbatu dan jembatan kecil dari bambu yang sudah melengkung hampir menyentuh aliran sungai. Perlahan aku berjalan menyusuri jembatan bambu, kali ini aku menggendong adik bungsuku yang belum genap 1 tahun.
Dan sampailah kami disebuah rumah tembok dengan pintu bercat warna hijau tua. Rumah yang biasa aku datangi didunia mimpi. Entah rumah siapa yang pasti tak pernah aku jumpai didunia nyata.
Belum sampai aku membuka pintu tiba- tiba muncul lelaki bercaping dan berusaha merebut paksa adikku, kaget karena tidak tahu entah darimana asalnya lelaki bercaping, adikku menangis keras dan aku berlari menyelematkan diri. Lelaki berperawakan sedang dengan pakaian warna hitam atasan lengan panjang gombrang dan celana diatas mata kaki mengejarku sambil mengacungkan tangannya. Tanpa suara
sesekali aku menoleh kearahnya,tak tampak wajahnya karna tertutup oleh caping besar yang dikenakannya.
Haus takut lelah campur baur jadi satu. Aku berlari lurus tanpa tahu kemana arah yang aku tuju.
Langkahku melambat kerongkonganku kering aku masih berlari dengan sisa tenaga. Dan tangan kekar itu berhasil mencengkeram pundakku ..
aku teriak "Aarrgh...."
aku terbangun mendengar suaraku sendiri.
Segera aku tenggak air mineral dari botol yang sudah kugenggam sampai tetes terakhir.
Entah apa arti mimpiku itu.
..........
" Shan, ibuk mau ke dokter Jalmo, Bapakmu muntah terus dari semalam mungkin asam lambungnya kumat. Berangkat sekolahnya jangan sampai telat ya, jangan lupa periksa jadwal pelajaran hari ini jangan sampai ketinggalan.
kunci rumah taruh ditempat biasa. Hati-hati dijalan"
"Nggih buk" aku cium punggung tangan Bapak dan Ibuk
Kulihat Senyum diwajah Bapak yang tampak pucat.
Aku antar mereka sampai didepan pintu pagar.
Jadwalku hari ini menyapu rumah, ke 2 adikku sudah berangkat semua karena kebetulan kegiatan EksKul yang mereka ikuti dimulai sebelum kegiatan inti. Sedangkan 2 kakak ku ikut kegiatan Pramuka dari kemaren. kakakku yang lainnya sudah bekerja.
Aku mulai dari Teras kemudian Ruang Tamu, kamar dan sampailah di Ruang makan .Aku menunduk sambil menyisir lantai .. aku lihat ibu menyampirkan handuk dijemuran dekat tempat sepedaku .
Deg. aku terkesiap bukankah ibu mengantar bapak ke Dokter ?? aku tersadar dan ibu menghilang begitu saja.
Bergegas aku buang sampah dan segera mandi.
Sungguh semua diluar Logika ku. Aku melihat lagi sosok dari dunia lain yang kali ini menyerupai ibuku.
Disekolah pelajaran pertama dimulai sampai 2 jam kedepan . Aku masih mengikuti pelajaran Agama ini dengan seksama.
Adi mengambil pulpen yang sedari tadi ada ditanganku.
" Sini Shan aku pinjam pulpennya, punyaku tintanya habis" katanya sambil meringis hingga tampak dua giginya yang besar itu. Tak selang berapa lama pulpen Biru telah menari diatas buku tulisnya.
Aku ambil pulpen yang lainnya dari dalam tas pulpen warna Pink.
Tiba-tiba ada yang menarik pulpen dari tanganku.
"Pinjam pulpennya Shan,, punyaku habis"
tak percaya aku berdiri melihat pulpen diatas mejanya. lhoh kok warnanya hitam? bukankah tadi...
" Di, pulpen aku yang tadi mana ?" tanyaku bingung.
" Ya Ampun Shan, pelit amat belum ada lima menit" katanya cemberut. Ku pijit" kepalaku yang mendadak pusing.
" Di, bukankah tadi waktu awal pelajaran dimulai kamu sudah pinjam pulpenku ? yang warna biru, sekarang mana ? " aku mencoba mengingatkannya.
Adi hanya mengangkat bahu sambil nyengir.
"Adi " kataku mulai kesal
"Mana aku tahu pulpen biru Shanshan, yang aku pinjam warna Pink. warna Pink . ini !" dia acungkan pulpennya. Aku menghela nafas mulai tak mengerti. Aku duduk kembali dlkursiku dengan hentakan hingga tampa sengaja tanganku menarik tali tas hingga tasku terjatuh dan sebuah benda keluar dari dalamnya. sungguh diluar nalarku .. ternyata pulpen biru itu.
Apalagi ini ya Tuhan.. konsentrasi ku hilang seketika.
Kurasa semakin hari semakin menjadi kejadian aneh ini.
............
Bel pulang berbunyi, Lega rasanya. Aku tutup buku Mapel Biologi dan menyimpannya dalam tas. Hari ini badanku terasa pegal semua, padahal pelajaran olah raga tadi tidak terlalu berat, hanya pemanasan lari keliling lapangan 5 kali putaran setelah itu dilanjutkan main bola Volly. Mungkin karna tamu bulananku ini.
Sepanjang perjalanan pulang hidungku mencium aroma masakan yang aku suka. Semakin lama semakin kuat bahkan sampai jga ke indra pengecapku. Mungkin karna cacing diperutku sudah menari dari tadi😁
Terbayang semangkuk masakan dengan kuah warna merah kental. hmm.. semakin gak sabar pingin segera sampai rumah.
Kukayuh Winner biru semakin cepat. Tapi.. tunggu .. siapa yang masak ditengah sawah seperti ini ? ngacau saja nie. Fix ini pasti karena aku sudah lapar.
Sesampainya diteras rumah... aroma masakan menguar kuat penuhi rongga penghidu. Bergegas aku lepas sepatu dan mencuci kaki terlebih dahulu. Mataku membulat melihat apa yang terhidang dibalik tudung saji. Kuah kental warna merah dengan potongan kecil kentang, hati dan ampela ayam...hmm lezatos, pedas mantap😋
Naah kaan semakin menjadi saja kekuatan dunia lain merasuki diriku ini. Bukan hanya mata namun indera pengecap dan penghiduku sudah bisa menembusnya.
........
Tak terasa 3 tahun sudah aku mengenakan seragam putih abu-abu. Tiba saatnya acara perpisahan. Aula sekolah berubah penuh dekorasi disana sini. Segerombol siswa bersenda gurau rona kebahagiaan terpancar diwajah mereka.
Kulihat diujung sana Rania teman sebangkuku mengobrol dengan Rendi, cowok paling ganteng dikelasku. Apa yang sedang mereka bicarakan aku tidak tahu pasti yang kutahu saat ini wajah mereka tampak serius dan sesekali tangan Rania menunjuk kearahku diikuti mata Rendi menatap kearahku. Aku hanya mengernyitkan dahi sambil memutar pulpen yang sedari tadi ada ditanganku. Masih duduk disini sambi menunggu acara dimulai. Suara MC mulai terdengar dan satu persatu tempat duduk mulai terisi penuh. Aku tutup buku kecil yang selalu menemani setiap hariku.
"Hai.. " suara itu mengejutkanku
aku menoleh mencari darimana arah suara itu .
Tak kutemukan siapa-siapa. Aku lirik kursi disebelahku mungkin dia tadi yang menyapaku. Tapi sepertinya tidak karena wajah Lani biasa saja bahkan tidak sedang menatap kearahku.
Hehee .. aku jadi tersenyum sendiri, bisa bisanya kupingku ini hunting kemana-mana. Sudahlah .. aku kembali menyimak acara kali ini , setelah sambutan dari kepala sekolah, ketua OSIS dan wakil siswa sampaikan kesan dan pesan, tiba acara inti penyerahan secara simbolik bukti kelulusan. Dilanjutkan acara hiburan. Aku masih menikmati acara sambil menggigit kueh pastel keju salah satu snack diacara ini.
Tring Tring Tring
suara pesan masuk dari arah benda pipih dalam slim bag ku.
" Temui aku didepan aula " tulis pesan dari Nomor tanpa nama itu
"Siapa ya?" aku kirim balik pesannya
" Cepatlah keluar, waktuku tidak banyak" jawabnya
Aku mengernyitkan kening, orang ini bicara tentang waktu ? kulirik benda yang melingkar dipergelangan kiriku.
" hm.. 21.30" acara selesai setengah jam lagi. Aku sapukan pandanganku mencari Rania.
"Ra.. Rania" aku memanggilnya setelah kutemukan keberadaannya , mendengar ada yang memanggil namanya Rania langsung menatap kearahku yang berjarak 2 baris dari tempat duduknya.
kemudian Rania menunduk, tak lama ..
Tring Tring Tring..
ada pesan masuk
" Mengapa masih disitu, cepat keluar dia sudah menunggumu setengah jam yang lalu" pesan Rania.
haahh jadi Rania tahu orang itu ? aku melihat kearah Rania, tetapi dia tidak menatap kearahku sepertinya sengaja mengacuhkan aku.
karena penasaran akhirnya aku meninggalkan tempat dudukku berjalan keluar Aula.
Aku berhenti mengawasi sekeliling. Pandanganku tertuju pada seseorang yang duduk dibangku panjang samping Aula dekat taman. Namun karna lampu temaram lampu taman aku tidak bisa melihat wajahnya.
" Met malam Si..." belum selesai kalimatku cowok itu langsung menoleh kearahku. Mataku menatapnya seolah tak percaya.
" iya . aku. kenapa ? kaget ?" dia tersenyum. Rada kikuk juga aku dilihat seperti itu. Deg deg an siih sedikit🤭 Tapi lega karena yang ada didepanku mahluk dari dunia nyata 😁😁
Dia kakaknya Rania.
" Ada apa kak ? aku pikir siapa ? bikin sport jantung aja kakak nie. Jadi itu tadi nomornya kakak ?"
Dia mengangguk
" sini aku mau ngomong sebentar " dia tepuk tepuk bangku kosong disebelahnya.
" Ngomong apa sih kak serius amat " kataku sambil duduk disampingnya " kakak bikin aku deg deg an deh" kataku lagi
" hehe .. gitu ya ?" katanya terkekeh
" Besok aku berangkat ke Solo, mau ikut nggak ?" dia menatapku
" Owalaah cuma tanya begitu ? aku pikir ada apa sampai ngomong waktu segala" jawabku rada jengkel
" ya iyalah memang waktuku tidak lama kan ? lhah sebentar lagi kan acara ini selesai " katanya terkekeh lagi.
" Bercandanya kakak gak lucu deh "
" Trus gimana jawaban pertanyaanku tadi ? yes or not ?" dia mengangkat alis menatapku
" Tapi kenapa kakak tanya ke aku ? harus ya ?" aku sandarkan punggungku kebangku.
Hening tak ada suara.
" Nggak harus kok, kalau kamu gak bersedia juga gak mengapa kok " katanya sambil beranjak
" Aku pulang dulu, tu Rania sudah keluar " telunjuknya mengarah kepintu.
kulihat Rania keluar diikuti teman-teman yang lainnya.
Aku masih diam bingung mau jawab apa.
"Hei bengong ? " Rania menowel hidungku.
"Pulang dulu yaa.. ketemu lagi besok pagi" katanya sambil melambaikan tangan.
" eh i-iya " kataku gugup. aku balas lambaian tangannya.
Akupun beranjak meninggalkan Gedung Aula Sekolah.
Sesampainya dirumah aku dihadang kakak perempuanku.
" Sudah ketemu Rendra tadi ? gimana mau ikut ? "
tanya kakakku.
Aduh ini ada apa sih sebenarnya ?
" hm belum tahu kak " kataku " Aku lelah, mau tidur dulu kak " kataku
" hm baiklaah semoga dimimpiku kau temukan jawabannya " " setelah itu cepat kasih tahu Rendra " jawab kakakku sambil nyengir.
Apalah-apalah aku mau tidur.
.........
Tok tok tok ..
" Shan bangun Shan sudah ditunggu "
Terdengar suara ibu mengetuk pintu ..
hoaheemm .. aku menguap sambil menggeliat, hm nikmatnya.
"Shan.. bangun " suara ibu masih terdengar didepan pintu
" iya buk, jam berapa ini ?" aku ambil benda pipih dari bawah bantal kunyalakan layarnya.
Haah jam sembilan ?? aku tidur lama sekali. Aku duduk ditepian tempat tidur sambil mengingat-ingat ada rencana apa hari ini. Aku berniat kembali berbaring karena tak ada rencana yang akan aku kerjakan hari ini. Tapi..
"Shanshan mau jadi putri tidur haa ? Tunggu pangeran kodok yang bangunin ? Shanshaaannn..."
suara lengkingan kakakku menbatalkan niatku.
ku berjalan kearah pintu ..
Ceklik
Kutemukan kakakku berdiri didepan pintu.
" Pagi putri tidur, padahal aku mau lhoh jadi pangeran kodoknya .. hehe"
Blamm .. seketika aku rasa pipiku menghangat. pastinya aku malu banget sama cowok yang berdiri dibelakang kakakku. Kak Rendra ternyata.
" ihh apa sih kak Rendra ini, siapa juga yang mau jadi putri tidur .. " aku menggerutu mengalihkan rasa malu ku .
" Sana mandi gih " kata kakakku
"Ngapain harus mandi siihh .. malas banget, aku sudah nggak sekolah kaann ??? " aku keluar dari kamar dan duduk didepan TV.
" Selamat Ulang Tahun Shania Rivanty.." tiba-tiba Rania datang dari arah dapur sambil membawa kueh Ulang Tahun.
Aku terlonjak kaget ..
"hiyaaaa.... siapa ulang tahun ? aku ?" kataku masih tidak percaya.
"Selamat Ulang Tahun ya Shan, ingat atau tidak yang pasti hari ini tanggal 22 Mei " kak Rendra terkekeh. Entah sejak kapan dia jadi sok akrab begini.
" Bilang iya aja deh, makasih ya kak Rendra" aku sambut uluran tangannya.
Rania memelukku dari belakang, aku membalikkan badan untuk memeluknya
" Thank you so much besti" kami tertawa
"Mau dong jadi Rania " seloroh kak Rendra
spontan langsung kulayangkan bantal kursi kearahnya. Tawa kami memenuhi ruangan .
" Jadinya bagaimana acara hari ini ? " Ibuk ikut nimbrung.
Aku memandang ibuk .
Tetapi pandanganku tertahan pada manekin yang menempel didinding. Astaga .. sejak kapan ada manekin disitu ? kepala boneka itu menatap kebawah dengan rambut hitam panjang berjuntai menutup wajah dan lehernya yang melekat didinding.
"Shan " kakakku menggoyangkan kelima jarinya didepan mataku.
Aku tersadar dan semua kembali seperti semula. manekin itu berubah kebentuk asalnya menjadi hiasan dinding. Aku menggoyang goyangkan kepala berharap semua hilang dari ingatanku.
" Hei ada apa denganmu Shan ? sampai segitunya .. hahaa, bingung mau kemana ?" ledek kak Rendra.
" eh i-iya,ma-masih belum tahu " jawabku gugup.
"ck , cepet mandi sana biar seger " ibuk menggerakkan jari telunjuknya, aku faham dan segera berlalu tanpa ba bi bu lagi. Kemana lagi kalau bukan ke kamar mandi.
uffh.. setidaknya shower ini bisa mendinginkan kepalaku.
......
"Ayok kita pergi " Semua yang berkumpul didepan TV menatapku.
"Ayok kak ke Solo" aku tarik tangan kak Rendra. Semua masih diam namun tatapan mereka yang kutahu pasti bingung dengan sikapku😁
"Nggak jadi ke Solo, ke Gedung Juang aja yok " Kak Rendra berdiri dan menepuk pundakku.
"Setujuuu " teriak Rania dan kakakku kompak yang akhirnya terdengar tawa mereka. tiba-tiba ada yang menarik tanganku.
"eh eh kenapa ditarik ? " aku mengikutinya sambil membenarkan posisi jari kakiku yang terlilit tali sandal yang kupakai. Kakak ku dan Rania yang menarik tanganku. Katanya mereka gemas melihat ekspresi datar wajahku tadi.
Sampai diGedung Juang kami segera pesan makanan. Disini memang pusat kuliner dikotaku, buka 24 jam dan tak pernah sepi pengunjung. Tempat ini biasanya buat nonkrong anak muda. Dari camilan sampai makanan berat tersaji disana.
Namun seperti biasa aku pilih kerang goreng, sate jamur dan Keong sruput yang pedasnya tiada tara.
Hm .. Siang yang mengenyangkan.
.......
Pagi ini karena tidak ada kegiatan aku berniat membereskan buku-buku yang sudah tidak terpakai. Aku pilah lagi mana yang sekiranya nanti aku butuhkan. Tentunya buku fisiologi dan anatomi manusia yang aku suka. Ada juga buku lemak dan minyak, Ilmu Biologi dan satu lagi buku tipis ini kumpulan nama Tumbuhan dan Hewan dalam bahasa latin. Aku ingat waktu sakit thypus dan harus bedrest selama 1 minggu aku berhasil menghafalnya.
Setelah aku rasa cukup yang kuperlukan, yang lainnya aku bawa kebelakang dijadikan satu dengan kertas yang tidak terpakai. Seketika aku teringat boneka manekin itu .
Dengan berjinjit diatas sandaran kursi tamu aku raih hiasan dinding dengan relief seorang wanita yang sedang menunduk membaca. Aku amati yang ada didepanku saat ini, sama sekali beda dengan bentuk manekin kemaren.
Begitu sampai dihalaman belakang aku langsung membanting hiasan dari tanah liat itu dan dalam hitungan detik sudah hancur berkeping-keping.
Mendengar suara benda dibanting, ibu melongok dari pintu pembatas halaman belakang dengan ruang makan. Beliau hanya diam tidak bertanya apapun. Apakah ibuku sebenarnya sudah tahu dengan apa yang terjadi padaku ? aku pasti akan bertanya tentang diriku ini.
" Ibuk, Shansan mau tanya " tanyaku sore itu juga
" iya Shan, apa yang ingin kamu ketahui ? " ibuk menghentikan aktifitas memotong sayuran untuk persiapan makan malam.
Aku mulai bercerita semua kejadian yang aku alami. Menurut ibu kekuatan yang aku miliki itu karena berasal dari seorang kakek yang memberi nama aku. Tapi bukan kakek dalam dunia nyata, beliau kakek berjenggot putih panjang dan memakai jubah putih dan itu hanya ada dimimpi ibuku. Dan ibu juga tidak mengenalnya, akan tetapi ibu percaya nama itu sangatlah bagus artinya sehingga ibu langsung mengganti nama yang diberikan ayah untukku dengan nama pemberian kakek.
Tapi siapa kakek itu, belum kutemukan jawabannya.
Namun aku yakin seperti keyakinan ibuku bahwa nama itu baik untukku dan semoga membawa berkah dalam hidupku mendatang.
Atau mungkinkah aku bisa menjadi penghubung dunia fana ini dengan dunia gaib ?.
Aku pasrah dengan kehendak Tuhan karena semua pasti ada hikmah dibalik semua kejadian.
....
#sekilas kisahku tentang dunia lain.
Salam kenal dariku🙏😊😊