Evelin merasa kepalanya sangat pusing. Dengan susah payah ia berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat tuk dibuka. Dan, apa yang dilihatnya sungguh mencengangkan.
Sebentuk dada bidang dengan undakan-undakan menjadi hal yang pertama kali dilihat oleh Eveline. Ia bergumam pelan, mengagumi keindahan struktur dada yang jadi tempat kepalanya bersandar itu.
Tapi tunggu dulu!
"eehh??!!"
Serta merta Eveline bangkit berdiri. Menyadari apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Ia lalu menyadari ruangan tempatnya berada kini adalah sebuah hotel.
Evelin terhenyak dan kembali melayangkan pandangannya ke atas kasur, di mana ia akhirnya bisa menatap wajah lelaki yang baru saja menghabiskan malam bersamanya.
"To.. Tora!"
Tora mendengar seseorang memanggil namanya. Ia lalu berusaha membuka kedua matanya yang masih terasa berat. Dan, ia melihat pemandangan yang membuatnya langsung memalingkan pandangannya ke samping.
Di depannya, berdiri Eveline dengan hanya mengenakan celana hot pant dan kamisol berwarna merah. Tora sekilas bisa melihat gundukan kembar Eveline yang terlihat sangat besar.
"Pakai bajumu dulu, Lin-lin!" tegur Tora kepada Eveline.
Seketika itu juga Eveline menunduk dan menyadari kalau ia hanya memakai pakaian dalamnya saja.
"Aaaarrrgghh!!!" Eveline pun langsung menarik selimut yang ada di atas kasur, hingga membuat Tora sempat terguling akibat tarikan pada selimut yang menutupi separuh bawah tubuhnya.
"Hey! jangan berisik, Lin-lin! suaramu itu bisa memecahkan semua kaca di tempat ini!" tegur Tora kembali.
"App.. Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa aku ada di sini? bersama kamu pula!" cecar Eveline dengan amarah yang terdengar jelas. Ia menutupi seluruh tubuhnya dalam balutan selimut putih itu.
"Kau lupa ya? semalam kau sendiri yang menelpon ku dan meminta untuk dijemput. Aku tak tahu kau ternyata dalam keadaan mabuk berat. Jadi jelas aku tak bisa membawamu dengan motor."
"Aku coba memesan taksi, tapi tak ada taksi yang kosong. Ya sudah. Aku memesan satu kamar di hotel ini untuk kita menginap semalam saja," tutur Tora panjang lebar.
"Lalu.. lalu kenapa kita tidur di ranjang yang sama? dengan pakaian terbuka?!" cecar Eveline berapi-api.
Tora mendudukkan dirinya terlebih dulu baru kemudian menjawab pertanyaan dari Eveline itu.
"Kau juga lupa ya? mulanya aku menempatkanmu di atas sofa. Sementara aku tidur di kasur ini."
Eveline mencibir pelan, "Dasar gak berperasaan! nyuruh cewek tidur di sofa! dia nya malah enak- enakan di kasur!"
Tora pun langsung menyanggah cibiran dari Eveline.
"Kata siapa aku enak-enakan di kasur! kamu tuh tidur tapi kayak ngajak gulet-guketsn. Berkali-kali kaki dan tanganmu itu habis menggebuk badanku. Sampai aku kesulitan tidur." sergah Tora.
"Oh.." Eveline merona. Ia mengakui, tentang kebiasaan tidur nya yang memang agak brutal. sahabatnya, Nindy, pernah menjadi korban kebrutalan kaki dan tangannya.
"Lalu.. lalu kenapa aku hanya mengenakan pakaian dalam?!" tukas Eveline kembali saat menyadari kondisi pakaiannya usai terbangun.
"Pelakunya bukan aku! Jangan asal tuduh ya! Tapi aku sempat dengar kamu mengigau, kegerahan. Tapi aku gak lihat saat kamu buka pakaianmu sendiri, karena mataku juga udah ngantuk banget waktu itu," tutur Tora kembali.
"Oh.. mm.. maaf deh kalau gitu," sahut Eveline merasa malu.
Ia kembali menyadari kalau apa yang diucapkan oleh Tora itu memang masuk akal. Eveline memang terbiasa hanya memakai celana hot pant dan kamisol saja ketika ia hendak tidur. Karena ia mudah merasa gerah.
"Ya.." jawab Tora acuh.
Perlahan, Tora bangkit berdiri dan mengambil kaos nya yang ada di bagian kaki kasur.
"Aku mandi duluan ya!" ucap Tora seraya berjalan ke dalam kamar mandi hotel.
"Tt.. Tunggu dulu! semalam kita gak ngelakuin apa-apa kan?" tanya Eveline dengan suara cicitan.
Tora sempat menghentikan langkahnya. Setelah jeda singkat, ia lalu menjawab, "gak ada hal yang terjadi kok. Kamu bisa ngerasain sendiri kan kalau kita ngelakuin sesuatu yang kelewatan batas," jawab Tora sambil memberikan lirikan singkat ke bagian bawah tubuh Eveline.
Membuat Eveline merasa jengah sekaligus kesal pada pemuda itu.
'Dasar mesum!' umpat Eveline di dalam hati.
Tora pun kembali melangkah ke kamar mandi. Namun langkahnya kembali terhenti oleh pernyataan dari Eveline.
"Tora! kejadian ini... tolong jangan bilang ke Mama dan Papa ya!" pinta Eveline dengan wajah memelas.
Tora kembali berbalik dan memperhatikan wajah Eveline dengan seksama.
Setelah beberapa waktu, Tora pun menjawab, "Baru aja aku mau niat untuk tanggung jawab. Biar nanti kita bisa bikin double couple kan di rumah? aku sama kamu. Juga Papaku dan Mama kamu!" guyon Tora asal.
Eveline mengkesal dengan jawaban asal dari Tora itu. Ia pun berpaling dan tak lagi mengatakan apapun kepada Tora.
Sementara di belakang Eveline, tiba-tiba saja pandangan Tora berubah. Ia kini menatap sendu pada Eveline, yang mana adalah adik tirinya sejak tiga bulan lalu itu.
Tora berharap, ia bisa mengenal Eveline lebih cepat, sebelum kedua orang tua mereka bertemu dan menikah.
Sayang sekali.. Apa yang terjadi kepada mereka semalam tadi, hanya akan menjadi satu malam yang tak akan berulang lagi.
***