Di sebuah dunia paralel, di mana peri dan manusia masih saling bisa melihat dan bertenggang rasa, hiduplah ke lima raja dan ratu rasa.
Kelima nya antara lain, Raja pahit, Ratu Manis, Ratu Asam, Ratu Pedas dan Raja Asin. Kelima raja dan ratu itu memerintah lima wilayah yang masing-masing wilayahnya kaya akan sumber tanaman yang rasanya sesuai dengan namanya.
Suatu waktu, terjadi musibah di wilayah kerajaan Manis. Banyak dari tanaman dan pepohonan nya yang layu, mengering bahkan mati secara tiba-tiba.
Setelah ditelisik, ternyata ini disebabkan oleh melemahnya kesehatan Ratu Manis yang memang sudah uzur (tua).
Di dunia ini, peran seorang raja dan ratu memang sangat penting bagi keberlangsungan hidup pepohonan di sana. Karena kebugaran tubuh dan spirit seorang raja/ratu akan menjadi ciri bahwa kerajaan itu juga sedang sehat.
Setelah diketahui bahwa Ratu Manis tengah terbaring sakit, keempat raja dan ratu lainnya pun bergegas menengok sang Ratu. Di atas pembaringannya, Sang Ratu Manis pun berkata, "waktuku sudah tak banyak lagi. Tolong kalian carikan penerusku yang selanjutnya.." mohon sang Ratu.
ke empat raja dan ratu lainnya pun menyanggupi untuk mencari penerus sang Ratu Manis. Maka dimulailah sayembara Pencarian sang Ratu Manis berikutnya di kerajaan Manis itu.
Diumumkan lah kepada khalayak ramai bahwa siapapun yang bisa menciptakan makanan manis terbaru dan makanan itu disukai oleh Gemo-Gemo, maka dia akan diangkat sebagai Ratu Manis berikutnya.
Gemo-gemo adalah mahkluk purbakala yang sudah ada sejak entah kapan. Sedari dulu, pemilihan raja dan ratu memang selalu didasarkan pada penilaian Gemo-Gemo.
Wujud Gemo-gemo mirip seperti anak perempuan kecil berumur lima tahun yang memiliki sayap. Ia akan tiba-tiba datang di hari pemilihan, dan memakan satu panganan yang dibuat oleh Sang raja atau ratu terpilih. Setelahnya, kembali terbang dan menghilang untuk waktu yang lama hingga pemilihan raja/ratu berikutnya.
Setelah diumumkan pemilihan ratu manis berikutnya, maka hampir semua penduduk kerajaan manis pun sibuk membuat panganan manis untuk dinilai di hari besar pemilihan kelak.
Lalu hari pemilihan pun tiba. Semua makhluk dari bangsa manusia dan juga peri datang berbondong-bondong dengan panganan manisnya masing-masing.
Namun, setelah semua makanan terhidang di depan altar, Gemo-gemo tak juga muncul. Bahkan hingga menunggu hampir seharian, makhluk abadi itu tak juga muncul.
Ini membuat semua penduduk kerajaan Manis menjadi kebingungan. Pun jua dengan raja dan ratu lainnya. Semua kebingungan karena tak seperti pemilihan sebelumnya, yang biasanya Gemo-gemo akan langsung muncul begitu upacara pemilihan dibuka.
Malam harinya, para raja dan ratu pun bermusyawarah. Hasil dari musyawarah itu menyepakati kalau pemilihan akan kembali dilakukan seminggu yang akan datang.
Setelah pengumuman itu disampaikan ke khalayak ramai, semua penduduk kerajaan Manis pun kembali menyibukkan diri untuk membuat panganan baru yang akan mereka persembahkan di altar nanti.
Hampir semua mengira, kalau ketidak hadiran Gemo-gemo disebabkan oleh tak adanya makanan yang ia sukai.
***
Di salah satu puri inap yang ditempati oleh para raja dan ratu, Raja Asin sedang bertapa, menyalurkan chi yang ia tangkap dari udara untuk disalurkan ke seluruh tanah di Kerajaan Asin.
Seperti itulah tugas yang setiap malam selalu dilakukan oleh para raja dan ratu rasa. Mereka bersemedi dan bertindak sebagai perantara yang menyeimbangkan kekuatan yang ada di seluruh alam.
Saat bersemedi itulah, hidungnya mencium aroma yang memikat. Raja Asin pun mencari sumber aroma yang memikat itu dan menemukannya di dapur istana.
Sang raja mendapati adanya sebuah panganan di atas meja. Bentuknya seperti kue cokelat yang pernah ia santap di kerajaan Manis, namun panganan ini berwarna kuning.
Raja Asin pun tertarik untuk mencicipi panganan itu. Dan ternyata, rasanya sangat lezat. Perpaduan antara rasa manis dan asin yang sangat pas.
"Baginda Raja?!" sebuah suara mengejutkan Raja Asin di belakangnya. Ia pun berbalik dan mendapati seorang anak laki-laki berpakaian pelayan istana yang sedang membawa kue-kue serupa seperti kue yang baru saja ia makan.
"Apa kue ini, kau yang buat?" tanya sang raja.
Dengan wajah khawatir, pelayan muda itu menganggukkan kepalanya.
Sang Raja lalu memandangi lekat-lekat pelayan muda di depannya itu. Setelah lama mempertimbangkan sesuatu, raja pun akhirnya berkata.
"Pekan depan, ikutlah denganku ke kerajaan Manis. Nanti kau coba letakkan satu loyang kue buatanmu ini di altar pemilihan!" titah sang raja.
sang pelayan pun terhenyak kaget. serta merta ia berucap, "Bukankah itu untuk pemilihan penerus ratu berikutnya?!"
"Ya," sahut sang raja.
"Tapi! Tapi saya hanyalah seorang pelayan kecil.." ujar pelayan itu merendah.
Sang raja Asin memberinya senyuman hangat.
"Siapapun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi raja/ratu. Lagipula, kualitas seseorang bukan dinilai dari statusnya di dunia. Tapi dilihat dari seberapa mampunya ia memberikan manfaat kepada lingkungannya.
"Status pelayan tak menjadikan kamu seorang yang hina. Kehinaan hanya pantas disandangkan pada mereka yang justru gemar menghinakan.
"Berbaik sangkalah bahkan kepada takdir mu sendiri. Siapa yang tahu, kalau esok-esok, kamu mungkin akan memakai mahkota raja yang sama sepertiku," ucap sang raja Asin dengan panjang lebar.
Pelayan Muda itu tertegun mencoba memahami ucapan sang raja di depannya.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Raja Asin tiba-tiba.
"...Boba. Nama saya adalah Boba, Baginda Raja!" jawab sang pelayan muda.
"Ikuti lah nasihatku. Ikutlah sayembara pemilihan raja/ratu Manis pekan depan nanti. Tak ada salahnya kan mencoba? Lagipula itu tak akan menyakitimu," ucap sang raja sebelum akhirnya berlalu pergi.
Boba menatap kepergian sang Raja dengan tatapan kalut. Ia masih ragu untuk mengikuti saran dari baginda raja. Namun, saat ia teringat pada kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sang raja tadi, Boba tiba-tiba merasa terpacu semangatnya.
"Baginda benar.. Tak ada salahnya untuk mencoba. Itu jelas tak akan menyakitiku.." monolog Bobba dalam dapur yang sunyi itu.
***