Hai semuanya 🤗
Perkenalkan saya Star 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan cerpen star, atas like dan komennya Star sangat mengucapkan terima kasih ya... 🙏😊
Tanggal pembuatan : 22 - 05 - 2022
"Ceklit!" seru seorang gadis cantik sambil menghampiri sang pemilik nama yang usianya dua tahun lebih muda darinya.
"Alamak! kok bisa ada kaka disini," kejutnya lalu buru - buru menyembunyikan coklat batang yang sebelumnya sedang ia nikmati.
"Hehe! ada apa kakaku yang baik?" tanyanya sambil cengar cengir sendiri.
"Pakai acara tanya ada apa lagi, bawa sini makanan yang kamu sembunyikan didalam tas mu itu." pinta sang Kaka dengan tatapan mata tajam.
"Ih Kaka... Makanan apa sih... Aku dari tadi cuma duduk doang disini," elaknya.
"Masih berani mengelak," ucapnya yang kini sudah merampas tas adiknya yang sangat sulit untuk diatur itu.
"Eh! Kaka kok ambil tas ku sih..." resahnya mencoba merebut kembali tapi ia kalah kuat dengan kakanya yang jauh lebih tinggi darinya.
Sang Kaka tanpa memperdulikan raut wajah tak bersahabat dari adiknya yang sama sekali tidak mengizinkan tindakan selanjutnya hanya mengabaikan saja.
"Pakek sok bilang ih Kaka... Makanan apa sih... Aku dari tadi cuma duduk doang disini," cibirnya sambil mengikuti nada bicara sang adik.
"Lagian Kaka mukanya serem banget sih," ungkapnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
"Salah siapa coba?" tanya sang Kaka sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya salah aku sih kak... Tapi kan aku pengen banget makan coklat Kaka... Udah sehari aku gak merasakan kelembutan dan rasa manis disetiap lelehannya," ucapnya sambil membayangkan sebuah coklat ada didalam mulutnya.
"Kamu disuruh puasa coklat sehari aja udah kayak puasa makan coklat sebulan," ucap sang Kaka yang tak habis pikir dengan sikap adiknya yang begitu menyukai coklat.
"Habisnya enak banget sih kak... Lembutnya itu bikin candu," ungkapnya hendak merebut kembali sebuah batang coklat berukuran besar yang ada digenggaman sang Kaka.
"Ya ampun dek... Apakah kamu lupa kalau kemarinnya itu kamu sibuk nangis mulu dikamar karna sakit gigi? dan gigimu itu baru aja ditambal paginya," ucapnya mengingatkan.
"Iya kak aku tau... Tapi kan sekarang aku udah sembuh," ucapnya.
"Kamu itu paling malas gosok gigi... Nanti kalau gigimu pada bolong lagi gimana? mau sakit lagi?" tanya sang Kaka dan ia hanya menggeleng pelan.
"Makanya kalau kamu gak mau sakit lagi kamu jangan makan dulu..." sambungnya.
"Tapi kak... Aku kayak gak punya nyawa lagi..." ucapnya yang kini sudah mulai berkaca - kaca.
"Kamu harus sabar... Nanti kalau tambalan gigi kamu udah benar - benar keras baru kamu makan lagi," responnya.
"Beneran kak?" tanyanya.
"Iya... Tapi kamu jangan pernah diam - diam beli coklat lagi... Kalau sampai kamu ketahuan lagi seperti tadi Kaka akan memperpanjang puasa makan coklat kamu," ancam sang Kaka dan adiknya sangat terkejut mendengarnya.
"Tega banget si Kaka," sedihnya yang kini sudah menumpahkan air matanya.
"Ini demi kebaikan kamu... Ya udah lebih baik kita pulang aja ayo," ajak sang Kaka sambil menarik tangan adiknya kearah motornya.
Sang adik hanya menurut dan motor itu langsung melaju untuk pulang kerumah ketika mereka sudah duduk dengan benar.
Sesampai di rumah sang adik bertanya pada kakanya berapa hari batas ia berpuasa makan coklat.
Dan dengan santainya sang Kaka berkata bahwa ia harus berpuasa coklat selama seminggu.
"Apa? selama itukah kapur ini mengeras di gigi bolongku?" tanyanya seakan - akan baru disambar ribuan petir.
"Ya itung - itung biar kamu bisa biasain diri kamu agar mampu menahan sehari gak makan coklat," ucapnya.
"Emangnya kenapa sih kak?" dengusnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Karna kamu papa jadi sering bawa pulang sepuluh kardus coklat berbagai rasa kerumah dan itu hanya habis dalam waktu tiga hari. Kamu apain coba semua coklat itu," heran sang kaka.
"Ya aku makan lah kak... Masak aku jual," ucapnya lalu mulai masuk kedalam rumah.
"Pantas saja badanmu gemuknya gak sehat," ledek sang kaka.
"Enak aja! aku juga ada makan nasi, tapi aku taruh sepuluh batang parutan coklat berbagai rasa." beritahunya hingga membuat sang Kaka hampir mual mendengarnya.
"Kamu makan gitu doang?" tanya sang kaka yang masih bergidik ngeri melihat kebiasaan aneh adiknya.
"Iya! kadang kalau aku lagi pingin makan pedas - pedas campur manis diatas parutan coklat aku taruh sambel terasi juga deh! nyam - nyam," mengingat itu membuat air liur sang adik semakin ingin keluar.
"Pantas saja lauk pauk yang dimasak oleh bibi selalu tersisa banyak," resahnya sambil menghembuskan nafas berat dengan satu tangan yang memegang dahi.
"Yaudah lebih baik kamu langsung istirahat sana, Kaka mau ke garasi dulu." suruh sang Kaka yang telah habis kata - kata.
"Oke," jawabnya sambil menyipitkan satu matanya lalu berlalu pergi dari hadapan sang Kaka.
Seminggu kemudian sang adik yang jarinya terlihat seperti zombie yang haus akan mangsa mulai kembali ceria karna hari ini adalah hari dimana lidahnya bisa kembali merasakan nikmatnya coklat.
Ia telah mencari kesemua sudut ruangan yang sering ditaruh, tapi makanan yang sangat ingin ia cicipi itu tak kunjung ia dapatkan.
"Ya ampun... Mana udah larut malam lagi, pasti para penjual udah pada tutup." resahnya sambil memegang dahinya.
Ia pikir masih ada coklat yang tersisa, ternyata tidak hingga hal itu membuatnya sangat kecewa.
"Sial! kalau saja hari ini tidak ada ujian olahraga mungkin aku gak bakal bablas tidur sampai jam segini hingga lupa untuk membeli coklat," geramnya.
"Aha!" tiba - tiba ia teringat sesuatu.
Ia bergegas mengambil ponselnya lalu membuka goegle untuk mencari cara membuat coklat.
Setelah menemukannya, ia langsung mengumpulkan bahan - bahan yang diperlukan dan syukurlah dirumahnya lengkap.
Entah sudah berapa jam ia bermain didapur hingga jarum jam telah menunjukkan ke angka satu tapi saking inginnya dia pun berusaha sekuat tenaga agar coklat yang dinginkannya jadi.
Senyumannya mulai mengembang sempurna saat coklat cair sudah jadi. Ia mulai menaruhnya kedalam cetakan lalu memasukkannya ke kulkas atas yang paling dingin.
Setengah jam kemudian ia mulai membuka kulkas untuk mengambil cetakan persegi panjang yang penuh dengan coklat itu.
Karna sudah tak sabar ia langsung membalikkan cetakan lalu mengetuknya sedikit keras hingga coklat keluar dengan bentuk persegi panjang yang mengkilap indah.
Tanpa berniat membuang - buang waktu ia mulai mengambil pisau untuk memotongnya. Matanya langsung berbinar saat merasakan coklat buatannya yang sangat nikmat.
Tanpa sadar tangannya dengan cepat memotong coklat yang masih tebal itu hingga beberapa bagian lalu duduk disofa yang ada didepan tivi.
Sang Kaka yang ternyata sudah tertidur disofa jadi terbangun saat merasakan goyangan ketika adiknya duduk.
"Is... Kamu ini bikin kaget aja," ucap sang Kaka sambil memukul bahu adiknya.
"Harusnya aku yang kaget! Kaka lagian kok bisa ada disini? bukannya udah tidur dikamar?" tanyanya.
"Kaka abis nonton tivi, terus karna udah ngantuk banget Kaka matiin. Terus gak sadar deh udah ketiduran lagi disini," beritahunya.
"Oh..." ucap sang adik.
"Kamu makan apa itu?" tanya sang Kaka.
"Coklat! kan hari ini udah boleh," ucapnya mengingatkan.
"Benarkan? tapi setau Kaka coklat dirumah kita udah habis deh," pikirnya yang kini sudah terduduk setelah berbaring.
"Ini aku bikin sendiri kak! saking pengennya," beritahunya bangga.
"Coba Kaka rasa," pinta sang Kaka.
"Gak mau! nanti Kaka habisin lagi," ucapnya sambil membalikkan badan.
"Kok pelit banget sih... Satu potong kecil aja..." rengek sang Kaka penasaran.
"Ya udah nih! satu potong aja ya..." ucapnya lalu mulai memberikannya.
Saat merasakan coklat tersebut kakanya sangat terkejut karna rasanya memang benar - benar enak.
"Ya ampun dek... Enak banget... Kaka minta lagi dong," pintanya sambil mengadahkan satu tangannya.
"Ih... Gak mau..." resahnya lalu langsung berlari kekamarnya.
"Dasar pelit," cibir sang Kaka.
"Biarin aja! kalau pelit dari tadi gak ku kasih," ucapnya acuh dan sang Kaka hanya menggelengkan kepalanya kesana kemari sambil terkekeh pelan karena tingkah adiknya yang menurutnya sangat lucu ketika coklatnya terasa terancam.
Kakanya sebenarnya tidak terlalu menginginkannya, cuma ia hanya ingin mengganggu adiknya.
🍃 The End 🍃