Aku terkejut ketika sebuah motor berhenti tepat di hadapanku. Seorang cowok berseragam sekolah dengan jaket bomber hitamnya dibiarkan terbuka sehingga bagian depannya terlihat. Ia membuka helmnya, dan tersenyum.
"Ya Tuhan, cakep banget malaikat pagi ini!" Bathin baperku histeris.
"Ayo ikut aku, kamu mau ke sekolah Garuda kan?" ajaknya.
"Hm, aku?" tanyaku bingung hampir tak percaya jika cowok yang memiliki tampan paripurna ini mengajakku untuk naik ke atas motornya.
"Iya, Alisha … ayo cepet naik!" ujarnya penuh penekanan saat menyebutkan namaku.
"Hei! Tunggu dulu, dia kok tau namaku?" hatiku bingung
"Ayo! Sebentar lagi bel masuk!!!" ajaknya memaksa. Aku pun menurut dengan perasaan yang bingung.
Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah Garuda. Sebenarnya aku mengendarai sepeda listrik, namun sayang bannya tiba-tiba bocor, dengan terpaksa masuk bengkel, beruntung sudah ada bengkel yang buka. Sungguh hari pertama yang sial, eh, bukan, tapi hari pertama yang penuh kejutan. Kata orang tua, jangan bilang sial, pamali, karna pasti akan datang keberuntungan.
Nah, bener kan, saat menunggu angkutan umum di depan bengkel, cowok tampan yang sedang memboncengku ini tiba-tiba mengajakku bersama ke sekolah. Dan yang lebih mengherankannya lagi, dia tau namaku.
—-
Aku terkejut saat seorang cowok tiba-tiba duduk di sampingku, membuat aku yang yang sedang minum milkshake coklat tersedak. Saat ini aku memang sedang berada di kantin bersama Melly teman pertamaku di kelas.
"Ya ampun, ini kan cowok yang tadi pagi boncengin aku!" ucap hatiku.
"Wah, kak Aliando nyamperin kita!" komentar Melly takjub, ia merasa istimewa melihat kedatangan cowok yang bernama Aliando ini.
"Jelas lah, kan nyamperin pacar kesayangan!" jawab Aliando cuek dan sangat percaya diri.
Hampir semua yang ada di kantin menoleh ke arah kami. Mereka menatap penuh keterkejutan mendengar perkataan Aliando. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menelan saliva sambil mengingat kejadian tadi pagi saat kami tiba di tempat parkir sekolah.
---##---
"Makasih, Mas!" ucapku setelah turun dari motornya.
"Aliando, namaku Aliando!"
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Nanti pulangnya, kita bareng!" perintah Aliando.
"Eh, ga bisa, aku harus ambil sepedaku di bengkel tadi!"
"Itu urusan gampang Alisha!"
"Eh, kok mas nya tau namaku?"
"Gak penting, yang jelas sekarang kamu adalah pacar aku! Jadi, sudah seharusnya kita pulang pergi ke sekolah bersama!"
"Eh, tunggu dulu, kayaknya kita baru kenal deh, dan lagi kita juga tidak dekat!"
"Gak perlu nunggu dekat untuk bisa menyukaimu, saat aku lihat kamu tadi, aku sudah suka sama kamu! Dan kamu gak usah nolak, karna aku gak nerima sebuah penolakan!" ucapnya sambil tersenyum puas melihat aku yang kebingungan.
"Ayo, aku antar ke ruang guru dan kepala sekolah! Kamu mau kesana kan?" ajaknya lagi. Dan saat itu aku hanya menurut, karena memang aku juga butuh orang yang bisa menunjukkan ruang kepala sekolah dan ruang guru.
---##---
"Ya ampun, apa dia bener-bener serius dengan ucapannya tadi pagi? Dasar stress!" gumamku dalam hati.
Aliando segera meraih gelas milkshake yang sedang kupegang, lalu menyeruput isinya.
"Makasih, Cinta, udah mesenin minuman kesukaanku! Tadi aku dari kelasmu, ternyata kamu malah udah duluan disini!" kata Aliando cuek sambil menghabiskan milkshake milikku.
"Jadi ini cewek yang lo bilang Al?"
Aku, Aliando dan Melly segera mengarahkan pandangan pada gadis berambut panjang bergelombang, ia datang dihadapan kami setengah berteriak. Cantik, namun suaranya seperti nenek sihir.
"Oh, kamu … iya, ini pacar aku!" jawab Aliando datar.
"Gak mungkin! Bukannya dia anak baru ya? Kalian gak mungkin saling kenal! Kamu pasti boong kan, Al!" protes gadis itu.
"Dia memang anak baru di sekolah ini, tapi, dia memang pacarku! Dia pindah kesini, karena mengikutiku! Kalo gak percaya, tanyalah padanya!" Aliando menatapku, dengan tatapan memohon.
Otakku bekerja cepat, sepertinya, ada hal yang mengharuskan aku berbuat sesuatu untuk menolongnya.
"Oh, hai, kenalkan, namaku Alisha!" ucapku penuh percaya diri, kuulurkan tanganku dan kutampilkan senyum yang begitu apik.
"Gak perlu!! Aku tau kalo ini hanya akal-akalan kamu aja, dan aku pasti akan menyelidiki hal ini!" tegasnya pada Aliando sambil berlalu pergi. Rautnya tampak kesal menahan amarah.
___
Aku berjalan di koridor menuju gerbang sekolah. Tiba-tiba saja seorang gadis berkacamata, berwajah oriental seperti eonni korea bersama empat kawannya, menghalangi langkahku.
"Jadi kamu pacarnya Al?" tanyanya dengan nada tak bersahabat.
"Duh, siapa lagi ini?" gumamku dalam hati.
"Kamu baru masuk udah cari masalah!" lanjutnya.
"Maaf, mbak siapa ya, saya cari masalah apa?" tanyaku kebingungan.
"Kamu baru masuk udah kecentilan, pake deket-deket ma kak Aliando!" Salah satu temannya ikut bersuara.
"Oh, God! Lagi-lagi Aliando! Untung aja Melly di kelas udah ngejelasin siapa Aliando itu, seorang kapten tim kesebelasan sekolah, pintar, juara kelas, cuek, dingin, namun anehnya banyak cewek-cewek di sekolah sangat mengidolakannya karna sangat tampan! Dan aku dijebak oleh Aliando, karena harus berhadapan dengan para fansnya," ucapku dalam hati
"Aku emang baru masuk sekolah ini, tap …."
"Emang kenapa kalo dia deket ma aku? Dia pacar aku! Apa urusannya ma kalian?" Aliando tiba-tiba datang dari arah belakang kami, memotong ucapanku, kemudian ia menggenggam tanganku dengan sangat erat.
"Ayo, Cinta, kita pulang, tinggalkan mereka semua!" ajaknya sambil menarik tanganku dan meninggalkan semuanya.
—-----
"Stop disini! Aku harus mengambil sepedaku!" pintaku pada Aliando agar menghentikan laju motornya, ketika melewati bengkel tempat aku menambalkan ban sepedaku.
"Tenang, aku akan mengantarkannya ke rumahmu nanti malam! Sekarang, ikut aku ya!"
"Tunggu dulu! Kamu mau ngajak aku kemana? Aku belum setuju ya!"
"Aku juga tidak butuh persetujuanmu! Dan aku sudah bilang, aku gak suka penolakan! Jadi nurut aja!"
"Aish, cowok macam apa ini? Tampan, tapi aneh!"gumam hatiku
"Turun disini! Aku gak mau ikut!" rengekku sambil memukul punggung Aliando.
"Yang tenang, Icha! Kamu aman dengan aku!"
"Ya Tuhan, sebenernya siapa seh ni cowok, seakan sudah sangat mengenalku, bahkan kali ini dia manggil aku dengan panggilan kesayanganku di rumah!"
—----
"Turunlah, kita sudah sampai!" ucap Aliando sesaat setelah menghentikan laju motornya. Kami saat ini berada di sebuah padang rumput yang cukup luas, dihadapan kami ada sebuah danau yang cukup tenang, ada beberapa ekor angsa sedang asyik bermain di danau tersebut.
"Aku sengaja mengajakmu kesini agar aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiranmu ini dengan tenang!" ucapnya sambil menunjuk keningku.
"Ah iya, bener juga, aku emang butuh kejelasan dengan kejadian hari ini di sekolah!"
"Tanyalah!" perintahnya
"Darimana kamu tau namaku?"
"Name tag di seragammu!"
"Eh!" Aku langsung melihat name tag di atas dada kiriku. Spontan aku langsung menutupinya dengan mengeratkan jaketku.
Dia hanya tersenyum melihat tingkahku.
"Kenapa kamu tau kalau aku mau ke sekolah Garuda!"
"Sekolah terdekat dari bengkel itu hanya ada satu yaitu sekolah Garuda, gak ada yang lain!"
"Trus kamu kok mau nganter aku, padahal kita belum kenal!"
"Kamu tau feel?"
Aku mengangguk. "Feel? Ah, masa iya cuma karena perasaan? Ah, tapi biarlah! Siapa peduli!"
"Trus, siapa cewek yang di kantin dan yang menghalangiku di koridor?"
"Aku rasa kamu udah tau jawabannya!"
"Fans gilamu?" tebakku.
"Hm," ucapnya datar membenarkan.
"Lalu kenapa kamu manggil aku Icha?"
"Cocok buatmu, khusus aku ingin manggil kamu dengan sebutan Icha, atau Cinta!"
"Ah, Cinta, berasa aku adalah pacar sungguhanmu! Dan ini pertanyaan inti, kenapa kamu ngaku-ngaku kalo aku pacar kamu? Aku bahkan gak kenal kamu! Kenapa kamu memanfaatkan aku, menjebak aku, hingga aku berhadapan dengan fans gilamu!"
"Aku gak cuma ngaku-ngaku, aku gak menjebak kamu, dan aku gak manfaatin kamu! Aku beneran suka kamu, bahkan aku sudah jatuh cinta padamu,"
"Gak usah ngaco, kamu tau konsekuensinya buat aku kan? Aku bakal gak tenang belajar di sekolah, karena bakal banyak bullyan dari fans gilamu!"
"Kita hadapi bersama ya!"
"Aku gak mau, itu masalahmu! Kenapa aku harus ikut-ikutan mengahadapi mereka!"
"Aku butuh kamu!"
"Berarti bener kan kamu cuma memanfaatkan aku!"
"Tapi rasa yang aku miliki buat kamu ini sangat tulus!"
"Boleh aku tidak percaya?"
"Silahkan!"
"Emang kamu yakin aku mau jadi pacar kamu?"
"Aku gak butuh persetujuanmu! Dan aku juga ga menerima penolakan dari kamu!"
"Kamu sadar, kan? Aku bahkan gak kenal kamu, aku gak tau sejatinya kamu!"
"Nanti kamu akan mengenalku dengan sendirinya!"
"Ya Tuhan, beri aku kewarasan lebih menghadapi kamu!"
"Tenang, aku bukan orang gila kok, cukup kamu hadir untukku terutama di waktu yang tepat!"
"Aku gak paham!"
"Nanti juga kamu akan paham! Berjanjilah untuk tetap menjadi pacarku!"
"Aku gak bisa!"
"Aku ga nerima penolakan, Cinta!" ucapnya lembut namun penuh penekanan di bagian kata Cinta.
Aku terdiam. Ih, susah juga ngadepin cowok ini, gimana mau cinta coba, kenal aja nggak, sikapnya aja otoriter kayak gini, bisa-bisa kebebasanku terkungkung.
"Hei, Cinta …."
Tiba-tiba tangannya terulur, mengusap lembut pipi kananku, membuyarkan segala apa yang sedang aku pikirkan. Ah, kenapa lembut gini sikapnya?
Aku pun menatap kedua mata indahnya, seperti terhipnotis, aku merasakan kesejukan. Ah, kenapa aku bisa luluh hanya dengan menatap matanya, aku merasa dia tulus, dan sepertinya dia memang membutuhkan kehadiranku.
"Baiklah, tapi ada syaratnya!"
"Apapun, katakanlah!"
Ah, lumayan juga, bisa jadi pacar primadona sekolah. Let's play the game. Aku tersenyum banyak makna.