"Danau ini menjadi saksi bisu atas pertemuan ku dan kekasih ku, bahkan menjadi saksi atas perpisahan kami berdua, di sore hari yang sangat indah ini mengapa aku harus mengalami hal yang sangat menyedihkan....?" Lirih ku dalam hati.
Pacar ku mengajak ku untuk bertemu di danau tempat kami pertama kalinya bertemu, dia tidak mengatakan alasannya tapi aku punya firasat bahwa dia akan mengakhiri hubungan kami.
Entah kenapa, sejak semalam dia mengirim pesan untuk bertemu dengan ku di danau ini, aku sangat gelisah bahkan aku sampai tidak bisa tidur.
Hampir selama 1 bulan ini dia sudah mulai jarang menghubungi aku, jarang bertemu, bahkan mengirim pesan hanya seperlunya saja.
Tap...tap... tap, suara langkah kaki membuyarkan lamunan ku, dia datang menghampiri ku lalu duduk di samping ku, aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali memandang danau, hampir 5 menit kami hanya saling diam, dia pun akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Bagaimana kabar kamu?"Tanya nya.
"Baik, seperti yang kamu lihat" Jawab ku dengan perasaan sedih.
"Ada hal penting yang ingin aku beritahu pada kamu" Ucap nya menoleh melihat ku.
"Hmm, katakanlah" Balas ku tanpa melihat nya.
"Lihat lah kemari" Dia memegang dagu ku untuk membuat ku menatap nya.
Dia melihat mata ku yang berkaca-kaca, dan mulai bingung "Kenapa mata kamu berkaca-kaca?" Tanya nya dengan panik. "Apa kamu ada masalah?"
Aku pun mulai menangis dan mengeluarkan semua kegundahan dalam hati ku "Sudah hampir 1 bulan ini hubungan kita merenggang, kamu mulai bersikap dingin pada ku dengan alasan sibuk karena ada pekerjaan penting yang harus kamu lakukan, selalu jawaban seperti itu yang aku terima selama 1 bulan ini. Sekarang kamu mengajak bertemu untuk memutuskan hubungan kita bukan?" Jelas ku padanya panjang lebar, dan hati ku pun seketika itu juga terasa ringan, karena sudah mengeluarkan semua kekesalan di hatiku.
Dia pun langsung memeluk ku "Maaf, telah mengabaikan mu selama 1 bulan ini, dan sudah membuat perasaan mu sedih, tapi aku mengajak bertemu bukan untuk memutuskan hubungan kita" Terang nya padaku, seketika itu juga aku pun menjadi bingung.
Lalu dia melepaskan pelukan nya dan berdiri dari duduk nya lalu berlutut di depan ku dengan mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin lamaran, "Will You Marry Me?" ucap nya dengan tersenyum.
Deg.... Saat itu aku langsung meneteskan air mata, ternyata kekhawatiran ku tidak ada artinya, ternyata aku salah paham padanya.
Aku langsung menganggukkan kepala ku dengan air mata yang mengalir di pipi ku, setelah itu dia memasang cicin nya di jari manis ku, kemudian dia menjelaskan semua nya kepada ku kenapa dia sibuk selama 1 bulan ini, dia ingin melamar ku dan sudah mempersiapkan semua nya bahkan sudah memberitahu orangtua ku tanpa sepengetahuan ku, dan 2 minggu lagi kami akan menikah.
Aku pun sangat bahagia dan memeluk nya, "Maaf, aku salah paham, mengira kamu akan memutuskan hubungan kita" Ucap ku padanya
"Tidak apa2, jangan sedih lagi" Dia mengusap air mata ku lalu merangkul ku, kami pun menyaksikan matahari tenggelam yang sangat indah disertai kebahagiaan yang kami rasakan saat ini.
Tamat