Banyak orang sengaja menutupi aib, yaitu hal yang dianggap memalukan, menyedihkan bahkan mungkin mengesalkan di diri kita dari pandangan orang lain. Termasuk juga seorang perempuan cantik bernama Raline yang punya rahasia yang tidak ingin diketahui oleh banyak orang.
Saat Raditya mengajaknya menikah, Raline bingung, bukan bingung mau menikah atau tidak tapi bagaimana ia menjelaskan keadaannya itu. Bukankah jika mereka menikah, hal itu pasti ketahuan juga, jadi tidak ada yang bisa disembunyikan kalau ia bukan lagi gadis bersegel bahkan sudah punya anak tanpa suami.
Gak bisa, Raline gak bisa mengikuti keinginan orangtuanya. Saat Raline melahirkan Ronald, orang tuanya memutuskan untuk mengakui cucu pertamanya itu sebagai adik Raline. Demi menjaga nama baik keluarga, mereka malu karena Raline yang hamil tapi kekasihnya meninggal akibat kecelakaan sebelum sempat menikahi Raline.
Beberapa kali Raline gagal menikah hanya karena ia yang selalu mengatakan kenyataan yang sesungguhnya, sama seperti kali ini. Raline nekat aja, ia akan bilang hal itu sama Raditya, meski resikonya Raditya milih mundur. Ya, kalaupun Raditya tidak bisa menerima keadaannya, berarti mereka memang tidak berjodoh.
***
Raditya dan Raline sudah menjalin hubungan istimewa selama 6 bulan, merasa 'klik' Raditya ingin hubungan mereka segera beralih ke jenjang pernikahan. Maka sore itu, ia erkunjung ke rumah Raline dan berkenalan dengan keluarga kekasihnya itu.
"Hai, Dit ... kok ke sini gak ngabarin dulu?"
"Mau bikin kejutan, mumpung libur ... orangtuamu ada di rumah, kan?" Tanya Raditya.
"Mau ketemu aku apa papa dan mama, sih?"
"Ya ... kamu dan papa mamamu juga, hehe."
"Sebentar, ya."
"Pa, ma ... di depan ada Raditya." Kata Raline sambil menghampiri orangtuanya yang sedang bersantai di teras samping rumah.
"Lelaki yang akhir-akhir ini dekat sama kamu itu?" Tanya Ayah Raline.
"Iya."
"Ehm ... apa kali ini kita juga akan jujur mengenai Rolland?" Tanya ayah Raline lagi.
"Iya, pa ... bagaimanapun calon pasangan hidupku harus tahu masa laluku."
"Bagaimana kalau seperti pacarmu yang sudah-sudah?" Kamu tidak takut kehilangan calon suami lagi?"
"Aku tidak mau menutupi lagi, pa. Jika Raditya juga tidak bersedia menerima aku dan Rolland yang begitu, berarti memang dia bukan lelaki yang tepat untukku. Lagi pula, aku tidak mau lagi berpura-pura jadi kakaknya Rolland, aku mau jujur saja."
"Tapi, apa kamu siap aibmu terbongkar? Kamu tidak takut di cemooh sudah hamil diluar nikah, trus punya anak yang mengalami down syndrome seperti Rolland?" Sela mamanya Raline.
"Aku siap, ma ... pa. Bagaimanapun lelaki yang menginginkanku jadi istrinya harus mau menerima masa laluku yang buruk itu. Dari pada bermasalah jika ketahuan berbohong di kemudian hari." Jawab Raline mantap.
***
Saat Raline dan kedua orangtuanya memasuki ruang tamu, mereka terkejut melihat Rolland yang biasanya enggan bergaul dengan orang baru, kali ini malah asyik bercengkrama dengan Raditya.
"Ralline, adikmu lucu sekali," ucap Raditya sambil menggendong bocah kecil lelaki ke pangkuannya.
"Ehm, Dit ... kenalin, ini papa dan mamaku."
"Oh, selamat sore bu, pak, saya Raditya teman dekatnya Raline," ujar Raditya sambil mengulurkan tangannya pada kedua orangtua itu.
"Dan anak lelaki yang kamu pangku itu ... dia bukan adikku tapi anakku," tutur Raline sambil memperhatikan gerak-gerik Raditya.
"Apa? Dia ini ... a-anakmu?"
"Benar, namanya Rolland umur 4 tahun ... dia adalah anakku, hasil hubungan diluar nikah, aku-"
"Oh." Potong Raditya sambil menghela nafasnya, Raline jadi harap-harap cemas. Ia sudah menduga dari roman mukanya, tidak lama lagi akan memutuskan hubungan percintaan mereka.
"Nak Raditya, mohon maaf kalau boleh tahu apa tujuan nak Raditya kemari?" Ayah Raline mencoba memulai percakapan, saat melihat Raditya yang termenung sambil menatap Rolland.
"Oh, maaf pak ... saya terlalu asyik memperhatikan Rolland. Begini pak, bu ... jika tidak keberatan, saya berniat mempersunting Raline jadi istri saya."
"Kamu serius, nak?" Tanya ayah Raline.
"Serius, pak."
"Kamu tidak masalah dengan keadaan Raline yang adalah seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus begini? Kamu tidak meminta pertimbangan orangtuamu dulu, nak?" Kata ayah Raline seolah minta Raditya memikirkan lagi rencananya.
"Tidak masalah, pak. Tiap orang punya masa lalu, lagi pula saya yang akan hidup dengan Raline nanti jika bapak dan ibu mengizinkan saya menikahi Raline," jawab Raditya, membuat mereka menarik nafas lega.
"Oh, syukurlah. Kalau begitu, kapan rencananya nak Raditya kemari bersama orang tua untuk melamar? Ayah Raline to the point.
"Besok pak, dan kalau bapak, ibu juga Raline setuju, saya mau kami menikah minggu depan."
"Minggu depan? Secepat itu, Dit?" Raline hampir tidak percaya apa yang dikatakan pacarnya.
"Iya, sayang. Aku tidak sabar punya istri yang cantik sepertimu plus bonus anak yang lucu ini," Raditya mencubit dagu Rolland dengan gemas.
"Ta-tapi Rolland kan begitu, Dit. Down syndrome, kamu tidak malu?"
"Malu? Tiap orang punya kekurangan dan kelebihannya sendiri-sendiri, sayang. Kamu lupa kalau aku adalah dokter spesialis anak? Aku akan mendukungmu, kita akan merawat, mengasuh dan mendidik Rolland bersama-sama."
"Pa ... pa, pa," celoteh riang Rolland sambil menangkup kedua pipi Raditya, tampaknya bocah kecil itu bahagia sebentar lagi punya papa baru.