" Mak kau berjalan Tampa alas kaki di aspal kota, yang penuh debu juga asap kendaraan, dengan tubuh kurus kering mu kau berjalan tertatih tatih demi diri ku dan juga kedua putri kembar mu, kau tak kenal lelah, berjalan Tampa arah dan kembali dengan merekah sebuah senyuman, Mak aku tau kesulitan yang kau hadapi, aku tau betapa susah nya kau dalam mencari rejeki dan memberi kami sesuap nasi, kelak jika sudah waktu nya aku tak akan merelakan emak untuk bersusah lagi, semenjak kepergian bapak, semua tangung jawab kau yang pundaki, menjadi ibu sekaligus ayah untuk kami, Mak i love you, I hope God is with you,my only hope, you are always happy and healthy."
kututup lembar buku biru ku, buku itu adalah tempat keluh kesah ku, tak punya teman untuk bercerita, tak punya harapan untuk berdoa, tapi hanya sampul biru itu yang menemani ku, sudah lebih dari 5 tahun kepergian bapak, hidup keluarga kecil kami melarat, ditambah degan pandemi yang membuat aktivitas tertunda, sepanjang tahun 2020 hingga 2022 hidup keluarga tak berubah, semua harga sembako naik dan itu semakin membuat keluarga kecil kami yang Tampa sosok ayah harus bertambah melarat.
aku anak pertama dari 3 bersaudara, saat ini baru berusia 18 tahun dan duduk di bangku kelas 11 SMA, kedua adik kembar ku baru berusia 8 tahun dan masih duduk di bangku SD kelas 2, aku merúapakan satu satu nya anak laki laki dari keluarga ku, mungkin kalian akan berpikir seharus nya aku yang menjadi tulang pungung keluarga bukan malah emak, Tampa kalian tahu aku juga berpikir begitu, inggin mengantikan sosok bapak dan menjadi tulang pungung keluarga, namun sosok yang paling aku sayangi ( ibuku) melarang berat aku bekerja, ia hanya membolehkan aku untuk fokus sekolah hingga tamat, beliau sanggat keras dan tidak mau di bantah, akhirnya aku mengalah dan menuruti keinginan emak, meski terkadang hanya bisa meringkuk menangis melihat tubuh kurus kering nya yang sering sakit sakitan.
pagi ini kudapati emak terlihat pucat, aku panik dan menyuruh emak istirahat saja di rumah, namun emak tetap lah emak, keras kepala dan pekerja keras tak mau di bantah atau di halangi, akhirnya aku hanya bisa pasrah, aku lalu bersiap mandi dan memakai seragam sekolah ku.
" Mak, kalo emak merasa tidak enak badan lebih baik istirahat saja, Jagan di paksa, aku takut emak kenapa Napa nanti nya!!" ucap ku saat kembali menatapi emak yang tenggah sibuk menyiapkan persiapan berangkat kerja.
" kamu ini, sudah berapa kali emak dengar kau selalu saja menyuruh emak istirahat, emak tidak bisa berdiam saja di rumah, emak lebih suka bekerja, lagian emak tidak kenapa Napa, mungkin hanya kurang istirahat saja !!" ucap emak dengan senyum keriput nya.
" tapi Mak!!!" ucap ku terputus karena emak tiba tiba menerobos kata ku.
" sudah lah, emak tidak apa apa, apa kau sudah siap, panggil kedua adik mu untuk segera berangkat bersama !!" ucap Mak dengan senyum nya yang lagi lagi merekah.
" sudah Mak, Ani, Ana, kalian sudah siap kah??" ucap ku memangil kedua adik ku.
" kami sudah siap bang!!" ucap kedua adik kembar ku.
Kami lalu berangkat bersama emak, kebetulan kami satu jalur tapi emak lebih jauh dari SMA ku, kadang emak mengantar ku sampai gerbang sekolah dan kemudian melanjutkan perjalanan nya, entah apa yang di kerjakan emak di luaran sana, aku tak tahu pekerjaan apa yang tenggah emak tekuni, setelah sampai di depan gerbang SD St Theresia, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju sekolah SMA ku, selama lebih menempuh perjalanan 1 jam aku dan emak akhir nya sampai di sekolah ku.
emak tak seperti biasa nya, biasanya beliau mengantar ku sampai kedepan pintu gerbang, tapi kali ini hanya sampai di tepi jalan saja, beliau hanya tersenyum menatap kepergian ku, aku yang merasa masih rindu dengan emak kembali berhenti di sebarang jalan, ku menoleh kearah emak, beliau masih tersenyum manis kepada ku, kemudian melambai kan tanggan nya.
ku balas lambaian tanggan emak, degan jalan nya yang tertatih tatih emak masih tampak kuat berjalan, aku masih tak rela melepas kan memandang emak, sosok pahlawan itu tak inggin sekali pun aku berpaling pada nya. dia cinta pertama ku, orang pertama yang ku lihat orang pertama yang mencintai ku, orang yang sudah berusaha Anatara hidup dan mati menghadirkan ku ke dunia ini.
di persimpangan sana tubuh emak mulai tak terlihat lagi, karena arah jalan nya yang berbelok, setelah emak benar benar menghilang baru lah aku tenang masuk ke lingkungan sekolah ku.
" emak Lo mana ??" tanya Petrus teman satu kelas ku yang sering melihat emak mengantar ku.
" tadi udah pergi kerja!!" ucap ku membalasnya sambil tersenyum.
" ohh, yuk masuk bentar lagi bel masuk berbunyi!!" ucap Petrus mengajak ku masuk bareng.
******
di tenggah perjalanan emak tampak mengusap kedua air matanya, rasa sakit tubuh nya tidak seberapa dari rasa sakit, saat melihat anak yang selama ini dia sayangi dan jaga, tidak pernah sekali pun mnyentuhnya hanya untuk sekedar marah, namun kemarin saat melihat putra nya itu di bully orang lain hanya karena dirinya tentu saja membuat nya sakit sakit sekali, di pukul orang hanya karena setatus ekonomi.
kemarin saat ia tengah pulang ia tak sengaja melihat putra satu satu nya di pukul tetangga nya karena perkara menegur anak tetangga yang selalu mengangu kedua adik kembarnya, tentu saja itu sanggat menyakitkan anak yang ia jaga malah di sakiti orang lain, ia bukan merelakan putra nya di sakiti secara fisik tapi dia tak bisa berbuat apa apa hanya seorang janda 3 anak yang banyak hutang sana Sini tentu saja tak bisa berbuat apa apa.
emak hanya bisa menangis dalam diam, mengharap kan dunia berpihak pada keluarga kecilnya, namun semesta seakan tak perduli.
****
aku pulang sekolah degan semangat berpacu, selama lebih satu tahun berjuang keras, akhirnya aku mendapat juara umum ke 2 tingkat nasional, aku inggin segera sampai dan menyampai kan kabar ini pada emak, degan kaki berpacu hebat aku gak perduli aku harus bahagian in emak degan caraku.
namun sebelum sampai di rumah gang rumah Ku kini tengah ada berjejer bendera kuning, aku tau itu bertanda apa, ini pasti ada warga yang meninggal di gang kami ini, tapi entah siapa??, aku seakan tak perduli namun kedua kaki seakan berat melangkah berjalan, ada sesuatu yang terasa hilang entah apa itu.
ràsa nya inggin menanngis tapi apa yang inggin ku tanggisi, merasa ada yang hilang tapi apa yang hilang, dunia ku seakan terasa hampa, entah lah perasaan apa ini. aku mencoba kembali berjalan namun terasa berat.
hingga sampai di depan rumah, ada tenda biru yang menghiasi rumah kami, pilu suara tanggisan kedua wanita ku dengar, sayup sayup ku dengar suara memangil nama emak, perasaan ku semakin tak karuan, merasa ada yang hilang merasa takut takut sekali, tuhan jika ini adalah sebuah mimpi tolong bangun kan aku dari ini, aku tak inggin khayalan mimpi ku menjadi doa buat emak.
aku melangkah dengan tertatih tatih menuju rumah, namun disana sudah terbaring kaku tubuh kurus kering yang selama ini menjadi inspirasiku, sang pahlawan ku degan senyum pucat nya tampak damai degan sebuah harapan. tuhan apa ini mimpi??, apa ini adalah sebuah mimpi?? tadi pagi masih kulihat senyum nya, masih kudengar suara nya, tapi kini tubuh itu berbaring tampa nyawa di sana, dengan senyum pucat nya seolah tak berdarah.
kain putih menutupi sebagian badan nya, entah apa ini semua, aku berjalan dengan gontai kearah nya sambil membawa sebuah piagam penghargaan dari sekolah, aku jatuh bersimpuh di kaki nya sambil menangis tak bisa ku bendung, air bening mengalir dari kedua pelupuk mata ku, selama 18 tahun ini sosok ini yang menemani ku, sosok ini yang menjadi inspirasi ku, sosok yang yang mencintai dan menyayangi ku, sosok ini yang sangat perduli pada ku, tapi kini ia hanya tersenyum tak terdengar lagi suara nya tak terlihat lagi kedua bola mata indah nya.
" emak!!!" ucap ku sambil memigang tanggan nya.
terasa pungung tanggan nya dinggin sekali, tak ada lagi kehangatan tanggan ini yang selalu menyentuh lembut rambut ku, tak kurasakan lagi kini tanggan keriput ini membelai kasih diri ku, tak ku dengar lagi keras kepala nya saat aku tak tega melihat nya, emak kau pergi Tampa pamit, pergi meninggalkan kami dan menyusul bapak, jujur saat ini kami tak bisa berbuat apa apa yang ku lakukan hanya bisa menangis.
" emak, kenapa emak jahat, pergi Tampa pamit seperti ini, lihat anak mu ini Mak, lihat kini ia datang degan sebuah harapan namun semua pupus saat melihat tubuh kurus mu terbaring kaku seperti ini, Mak aku belum bisa membahagia kan emak!!" suara tanggis ku pun pecah.
tampak orang orang yang melihat juga menitik kan air mata nya, tak seorang pun dari mereka yang bertahan degan air mata bening itu, ada yang segera keluar untuk menumpah kan kesedihan nya ada yang ménanggis secara terang terangan di depan ku.
" Mak jika kau pergi degan baik baik aku akan iklas, namun emak pergi tanpa pamit, Tampa ada sepatah kata yang kau ucap kan pada kami anak anak mu, kau pergi begitu cepat, kini tak bisa lagi mendengar suara mu tak bisa lagi melihat senyuman mu semua hilang dalam satu hari
ternyata belum siap kehilangan, kehilangan mu sosok pahlawan ku, aku tak bisa berbuat apa apa hanya bisa mengucapkan
" SEKAMAT JALAN"
" Mak, tunggu kami di pintu surga, tinggu kami disana, aku Ani dan ana akan selalu merindukan emak, akan selalu mengingat jasa emak, sekarang pulang lah degan tenang disana bapak menunggu emàk disana, selalu jaga kami dari atas sana!!"
" Godbye mom!!"