Sebentar lagi, siswa SMA N 1 Ponorogo akan mengadakan pensi. Pensi adalah pesta yang digelar sebagai bentuk penghiburan terakhir bagi seluruh siswa kelas tiga, sebelum mendapat gelar alumnus.
Umumnya semua kelas Sepuluh dan Sebelas lah yang akan mengisi acara pensi dengan persembahan bebas. Bisa berupa menyanyi, menari, gelar drama, wayang, atau atraksi sulap sederhana.
Sementara pelaksana acara pensi tentunya dilakukan oleh semua anggota OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah).
Milen adalah siswi kelas Sepuluh yang sudah ikut dalam keanggotaan OSIS selama setengah tahun terakhir. Ia diajak oleh Kakak perempuannya, Yolanda, yang sudah lebih dulu berada dalam keanggotaan OSIS. Padahal Milen sebenarnya tak mau jadi bagian dari organisasi sekolah. Karena ia adalah seorang gadis yang pemalu.
Dibandingkan dengan Yolanda, kakak kandungnya yang hanya berselisih satu setengah tahun saja, Milenia Athar dinilai oleh banyak orang sebagai gadis yang pendiam. Beda dengan kakaknya, Yolanda yang supel, cantik, dan populer.
Milen sebenarnya juga cantik. Tapi mungkin karena sedari kecil ia selalu hidup dalam bayangan kakaknya yang super keren, Milen pun lebih gemar menyendiri dan tak cepat mengikuti perkembangan fashion remaja seusianya.
Bila teman-teman sekelasnya sibuk tampil cantik dengan lipgloss pink dan perona merah di pipi, maka Milen lebih sering tampil apa adanya dia.
Rambut panjang Milen pun yang sebenarnya hitam dan panjang sepinggang pun lebih sering ia kepang satu di belakang kepalanya. Lengkap dengan kacamata minus empat, hasil dari seringnya ia bergadang membaca novel Harry Potter hingga lewat tengah malam.
Dengan saran dari Kak Yolanda yang menjabat sebagai sekretaris OSIS, Milen pun resmi masuk ke dalam anggota OSIS divisi kreator mading.
Mungkin Kak Yolanda ingin membiasakan Milen untuk hidup berbaur, di tengah kesendiriannya yang sudah menjamur. Atau mungkin memang Kak Yolanda tahu benar dengan kreativitas tangan Milen di bidang keoenulisan.
Intinya, Milen pun didapuk sebagai salah satu staf inti yang mengisi mading sekolah mereka dengan berita-berita atau artikel yang oke.
Untuk acara pensi yang akan dilaksanakan esok hari ini, Milen bersama ke dua puluh anggota OSIS lainnya kini sedang mempersiapkan panggung dan segalanya.
Milen sendiri kini sedang meniup balon berwarna warni yang akan digantungkan di atas dinding di sekitar panggung. Sebuah kegiatan yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang.
Pada mulanya Milen ditemani oleh dua orang kawannya se anggota OSIS lainnya dalam meniup balon. Tapi, setelah beberapa lama, satu persatu dari dua orang kawan Milen itu pun pamit undur diri entah ke mana. Hingga meninggalkan Milen seorang saja yang meniup balon.
Dalam hatinya, Milen mengeluh. Jika ia tahu begini, tadi ia akan pergi juga lebih dulu.
Milen melihat dua pak berisi masing-masing sepuluh balon yang belum ditiup. Dengan perasaan gontai, ia pun melanjutkan kegiatannya meniup balon.
'nasib.. yaa nasiib..' keluh Milen dalam hati.
Ketika Milen merasa pipinya mulai merasakan nyeri karena terlalu banyak meniup balon, ia mendapati seseorang yang tiba-tiba duduk di dekatnya dan mengambil balon yang belum ditiup.
Milen pun seketika mengangkat pandangannya, dan,
DEG.
jantung Milen langsung berdegup lebih cepat dari biasanya, saat ia mendapati sosok Ketua OSIS, Kak Varo tak jauh darinya.
Selama beberapa waktu, Milen terkesima menatap Kak Varo. Karena bagaimana pun juga, Milen pun sama seperti kebanyakan siswi di sekolahnya, yang akan terkesima kala berhadapan dengan cowok cool dan berkarisma itu.
Pipi Milen terasa menghangat. Ia pun tanpa sadar langsung menunduk dan menyentuh kedua pipinya. Ia mengomeli dirinya sendiri yang selalu bersikap bodoh setiap kali dirinya bertemu dengan kakak kelasnya itu.
Kak Varo sekelas dan seangkatan dengan Kak Yolanda, di jurusan IPS.
Pertama kali Milen melihat Kak Varo adalah saat ia dan beberapa teman sekelasnya main ke rumah untuk mengerjakan tugas sekolah bersama.
Milen yang saat itu hampir jatuh terpeleset kulit pisang yang tergeletak di lorong depan kamar Kak Yolanda, diselamatkan oleh Kak Varo, yang sigap menangkap bahu dan pinggang rampingnya.
Salahkan mata Milen yang minus parah, sehingga ia tak memperhatikan keberadaan kulit pisang itu. Tapi lewat kejadian itu, Milen pun akhirnya bisa merasakan cinta pada pandangan pertama pada Kak Varo.
Kembali ke saat ini. Milen merasa gugup dengan adanya Kak Varo di dekatnya. Ia menengok ke segala arah dan melihat kalau semua anggota OSIS lainnya tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Milen pun kembali menegur dirinya sendiri di dalam hati. Tak sepatutnya ia memikirkan perasaannya pada Kak Varo di saat seperti ini.
Mereka dikejar waktu untuk menyelesaikan persiapan acara pensi besok pada hari ini juga.
saat ini saja waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang.
Milen akhirnya bergegas meniup balon secepat yang ia bisa, dan tak lagi menghiraukan keberadaan Kak Varo di dekatnya.
Sampai kemudian, tiba-tiba saja, anggota tubuh di bagian bawah Milen kelepasan ikut mengeluarkan angin buangan, dan berbunyi cukup nyaring.
Milen tersedak angin yang ada di mulutnya, hingga ia terbatuk berkali-kali. Meski didera perasaan malu, Milen memberanikan diri untuk melirik ke arah Kak Varo. Ia ingin memastikan apakah Kak Varo ikut mendengar terompet alami miliknya yang baru saja berbunyi, atau tidak?
Dan, Milen terhenyak lemas saat menangkap sebuah senyuman terpatri di wajah Kak Varo.
'dia mendengarnya!' batin Milen menjeritkan malu.
Ingin rasanya Milen melempar balon kempes yang masih berada di tangannya saat itu juga ke lantai. Ingin rasanya ia berbalik pergi dan lari menjauh dari Kak Varo yang sangat ia kagumi itu.
Bagaimana ia bisa kembali menatap cowok cool itu setelah kejadian memalukan tadi? 'Ini sungguh hari yang apes baginya!' pikir Milen dalam hati.
Dengan gerakan lambat tanpa semangat, Milen pun kembali meniup balon. Ia memutuskan untuk mengacuhkan keberadaan Kak Varo. Karena ia terlalu malu untuk berbincang ataupun menatap mata Kak Varo kembali.
Sampai kemudian, ia mendengar Kak Varo berdeham di sampingnya.
"ehem! mm.. Milenia kan?" tanya Kak Varo tiba-tiba.
Milen spontan mengangkat wajahnya, menunduk kembali, dan kemudian menganggukan kepalanya pelan.
"Saya Varo. Kamu tahu kan?" tanya Kak Varo kembali.
'tentu saja aku tahu. kamu kan Ketua Osis ku,' Milen membatin.
"ya.." sahut Milen dengan suara pelan.
"Pulang nanti, saya anter kamu pulang, oke," tawar Kak Varo tiba-tiba.
Sebuah tawaran yang kemunculannya sangat mengejutkan Milen. Ia kembali mengangkat pandangannya pada Kak Varo. Lalu ia memberikan gelengan kepala. "Maaf, Kak. aku pulang sama Kak Yolan," tolak Milen dengan rasa sesal.
"Oh! maksud kamu Yolanda Athar kan? tadi saya lihat dia udah balik duluan sama Heru, pacarnya," papar Kak Varo kembali.
"hah?!" Milen terkejut dan merasa kesal.
"Iya. katanya mau mampir dulu ke tempat lain. Tapi dia tadi udah nitipin kamu kok ke saya.." tutur Kak Varo kembali.
Milen langsung diterpa dilema. Antara harus merasa senang dengan tawaran dari Kak Varo, atau menolaknya karena ia terlalu malu untuk berdekatan dengan kakak kelasnya itu.
"gimana?" tanya Kak Varo kembali.
"mm.. iya deh.. Makasih ya, Kak.." ucap Milen dengan nada sopan.
"Sama-sama. yaudah, kita selesain lagi ya sebungkus. sebungkus laginya buat besok pagi aja. Habis itu, baru kita bisa pulang!" tutur Daffa menjelaskan.
Milen mengangguk patuh. akhirnya, keduanya pun melanjutkan kegiatan meniup balon hingga semua balon tertiup.
Setelah itu, balon2 dipasang oleh anggota OSIS lainnya bernama Yudha dan Baskoro. Sementara Kak Varo, Milen beserta banyak anggota OSIS lainnya terlebih dulu pamit pulang.
***
Di perjalanan pulang, Milen lebih sering berdiam diri. Ia sudah sibuk dengan pikirannya sendiri yang terlalu gugup karena duduk berdekatan di boncengan sepeda motor yang dikendarai oleh Kak Varo.
Pertanyaan dari Kak Varo hanya sesekali saja ia jawab. itu pun hanya berupa jawaban singkat seperti, "ya", "enggak" dan "enggak tahu".
Dan selebihnya Milen hanya diam saja hingga keduanya tiba di depan rumah Milen.
Sebelum berpamitan, Kak Varo nampak ingin mengatakan sesuatu yang serius kepada Milen. Namun melihat wajah Milen yang terlalu tegang, akhirnya Kak Varo pun mengundurkan niatnya.
Pada akhirnya Kak Varo hanya menyampaikan kalimat perpisahan yang sangat mencengangkan Milen.
Kak Varo berkata, "Yang tadi itu suara terompet atau suara balon ya?" tanya Kak Varo dengan senyuman jahil di wajahnya.
Milen terkejut dan langsung mengangkat pandangannya ke atas, tepat ke wajah Kak Varo. tiba-tiba saja ia teringat dengan kejadian 'kentut' nya yang tak disengaja tadi saat ia meniup balon.
Milen langsung tertunduk malu, dan semburat merah memenuhi hampir seluruh bagian kulit wajahnya yang putih.
Milen pun langsung berbalik dan tak jadi mengucapkan terima kasih pada Kak Varo atas boncengannya tadi. Tapi, Milen sempat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kak Varo sesaat sebelum Milen memegang handel pintu masuk rumah.
Kak Varo mengatakan, " maaf yaa kalau becanda saya kelewatan. Soalnya saya suka lihat muka kamu yang merah gitu. Kamu jadi kelihatan sangat cantik!"
Milen terpaku selama beberapa detik saat ia mencoba meresapi kalimat terakhir Kak Varo. Begitu ia berbalik dan hendak melihat kembali Kak Varo, kakak kelasnya itu ternyata sudah pergi pulang dengan motor bebeknya.
***