Namaku Eira. Lebih lengkapnya adalah Eira Feranda. Aku adalah seorang siswi SMA biasa, hingga ada sebuah kejadian yang datang menimpaku. Pada malam itu, ada hujan meteor yang indah. Berita sudah menyiarkan bahwa ini adalah hujan meteor yang terjadi tiap 1000 tahun sekali. Tentu saja, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Aku ingin, pujaan hatiku segera melihatku. Aku lelah hanya dianggap angin lalu saja olehnya," ucapku sambil menutup mata. Tapi tiba-tiba aku merasa sangat kelopak mataku sangat terang dan panas.
Ternyata ada salah satu pecahan meteor yang terbang ke arahku. Pecahan meteor itu mengenai kepalaku, dan membuatku pingsan di tempat itu.
Esok paginya, saat aku bangun ... ternyata tubuhku jadi transparan. Tidak, mungkin lebih tepatnya adalah tembus pandang.
"Apa?! Aku ingat harapanku agar dilihat olehnya deh?! Kenapa aku malah jadi tidak terlihat?!" ucapku geram sambil menghentak-hentakkan kaki. Aku segera berlari ke kamar mandi dan melihat ke dalam kaca.
Benar-benar tidak terlihat. Aku jadi seperti angin yang selama ini aku benci.
"Kalau begini, dia tidak akan pernah bisa melihatku lagi," ucapku dengan nada sedih. Aku bahkan tidak bisa melihat bagaimana wajah atau kondisi tubuhku.
[Apa kamu ingin tubuhmu normal lagi?]
Suara apa itu?,-batinku.
Tiba-tiba suara itu datang tanpa aba-aba.
"Aku mau!" teriakku.
[Gampang! Kamu harus menyelamatkan pujaan hatimu!]
"Apa?! Memangnya dia akan kenapa?!" tanyaku dengan nada panik.
[Aku tau semua, nama pujaan hatimu adalah Areda Departa bukan? Salah satu pangeran sekolah yang tampan.]
"Iya benar!" ucapku semangat.
[Dia akan dicelakai hari ini, oleh beberapa anak yang membencinya! Selamatkan dia, tapi jangan biarkan dia tau ada yang aneh!]
"Apa?! Siapa yang hendak mencelakainya?!" tanyaku.
[Alvan Rakessa, semoga berhasil!]
Suara itu kemudian menghilang. Meninggalkan rasa penasaran yang begitu besar di dalam diriku.
"Baiklah! Apapun itu, aku akan menyelamatkannya!" ucapku penuh percaya diri. Aku langsung meraba tubuhku sebentar, memastikan apakah aku masih pakai pakaian atau tidak.
Syukurlah aku masih memakai baju,-batinku.
Setelah itu, aku keluar lewat jendela. Karena jika aku membuka pintu tiba-tiba. Aku yakin pasti tetanggaku menganggap rumah ini berhantu. Setelah aku melompat keluar, aku mulai berjalan ke arah sekolah.
Beruntung tempat tinggalku tidak jauh dari sekolah. Selama 20 menit berjalan kaki, akhirnya aku sampai di gerbang sekolah. Karena ini masih dini hari, aku harus menunggu hingga Areda datang.
Tak perlu lama, gerbang sekolah sudah dibuka. Para murid mulai berdatangan, maafkan aku guru, sepertinya aku harus bolos hari ini.
Dari kejauhan, aku bisa melihat Areda datang dengan sepeda motornya. Begitu juga dengan geng Alvan yang mulai berbuat jahat.
Sungguh, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka membawa segenggam paku, aku yakin mereka hendak melemparkan paku itu ke ban motor Areda. Aku langsung berdiri dan berlari ke arah mereka.
Meskipun mereka bisa mendengar jejak langkahku, tapi ini cukup untuk membuat mereka tidak bisa melakukan rencananya.
PLAK!
Aku menampar tangan yang menggenggam paku itu. Seketika, puluhan paku itu langsung terlempar ke tengah jalan, disaksikan oleh banyak orang.
Rasakan! Dasar manusia dengan hati busuk!,-batinku.
"Alvan? Kenapa?" tanya Areda saat melihat Alvan yang jatuh dikelilingi paku. Padahal Areda sudah mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, tapi si bodoh Alvan malah menolak dan pergi dengan kesal.
"Kenapa sih dengannya?" gumam Areda sambil terus menjalankan motornya. Aku lanjut mengikuti Areda, mengawasi gerak-gerik Alvan yang mungkin akan lanjut menyelakainya.
Aku terus berjalan mengikutinya dari belakang, ternyata dia itu ramah ya. Dia tidak ragu dalam membalas sapaan semua orang. Dan mungkin karena ini pertama kalinya aku mengikuti dari belakang.
Bisa kulihat punggung lebarnya dengan jelas, bahkan harum parfumnya tercium setiap detik.
"Hei! Sini!" Seseorang memanggil Areda.
BRUK!
Karena ceroboh, aku akhirnya menabrak punggungnya. Areda tampak bingung setelah melihat ke belakang, dan tidak ada siapapun. Aku mencoba menahan nafasku, lalu berjalan pelan untuk segera menjauh darinya.
"Apa tadi? ... Entahlah, tunggu sebentar!" ucap Areda sambil berjalan ke arah teman yang memanggilnya.
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" Suara rekan Alvan kudengar dengan jelas. Aku menajamkan pendengaranku, lalu berjalan ke arah mereka.
Sampai aku akhirnya menemukannya mereka berkumpul di bawah tangga, di depan pintu gudang kebersihan.
"Areda selalu pulang telat karena dia harus mengikuti kegiatan ekskul. Nanti di parkiran, kita jatuhkan batu bata di atas kepalanya!" ucap Alvan serius, sorot matanya penuh dengan kebencian. Aku melotot tidak percaya, bagaimana bisa mereka merencakan hal sekejam ini?
Mumpung aku tidak terlihat aku jadi percaya diri untuk maju ke mereka, dan menampar mereka satu-persatu.
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
Mereka langsung saling bertatapan, memandang satu sama lain dengan tatapan horor.
"Sudah kubilang, di sini angker coy! AYO BALIK WOY!" teriak salah satu anggota geng Alvan. Mereka lari terbirit-birit dengan ekspresi takut. Tapi aku yakin, bahwa mereka akan tetap menjalankan rencana ini.
Aku juga tidak bisa memberitau Areda secara langsung. Bisa-bisa aku dikira hantu yang sedang bicara padanya.
***
Aku masih duduk diam dan mengawasi Areda. Dia sedang asik bermain basket, hingga petang datang. Saat matahari sudah akan tenggelam, barulah dia berpamitan pada temannya dan berjalan seorang diri ke arah parkiran. Aku ikut bangun dan mengikutinya.
Mataku terus melihat ke arah lantai atas, mengamati gerak-gerik geng Alvan. Untung aku sudah menaruh hpku untuk merekam kejadian ini, bukti sudah terpampang dengan jelas. Tinggal menunggu mereka melaksanakan aksinya, lalu aku akan mendorong agar Alvan selamat, dan bisa memberikan video ini ke pihak sekolah.
Tapi Areda tiba-tiba berhenti lagi. Dia menatap ke arahku, seolah mampu melihatku. Dalam hati, aku panik. Saat dia diam, itu artinya dia memberi lebih banyak kesempatan untuk melakukan aksinya!
"Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau terus mengikutiku?" tanyanya dengan nada yang dingin. Meskipun dia tidak bisa melihatku, tapi dia tau aku ada. Padahal saat aku terlihat, dia bahkan tidak tau aku ada.
"Sepanjang hari, aku merasa ada yang mengikutiku, ada yang menatapku. Kenapa kau melakukan itu? Apa kau semacam hantu stalker?" tanyanya lagi dengan ekspresi marah. Entah kenapa, hatiku terasa sakit saat mendengarnya.
"Enyahlah, kau menjijikkan."
DEG.
Rasanya hatiku sangat sakit. Tapi mataku bisa melihat bahwa ada batu bata yang jatuh dari atas. Anak-anak itu sudah melaksanakan aksinya. Dengan jarak sedekat ini, aku masih bisa menyelamatkannya!
Meskipun kepalaku yang harus kena sebagai gantinya.
DUAG!
BRUK!
Aku terjatuh lemas. Batu bata itu tepat kena di kepalaku.
[Selamat! Kau sudah berhasil! Tubuhmu akan kembali normal!]
Suara itu terdengar lagi di kepalaku. Aku yakin sekarang Areda menatapku dengan tatapan shock dan ketakutan. Tiba-tiba dia terdorong, dan muncul seorang wanita di depannya.
"Syukurlah ... kamu selamat," ucapku pelan. Karena aku juga belum makan sejak pagi. Kepalaku rasanya sangat pusing sekarang. Sepertinya aku akan pingsan.
***
Aku membuka mataku pelan, ternyata aku ada di rumah sakit. Dengan kepala yang diperban. Dan ... ada Areda yang menggenggam tanganku sambil tidur.
APA?! AREDA?! KENAPA DIA DI SINI?!,-batinku.
"Em? Kamu sudah bangun?" ucap Areda sambil membuka matanya. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, masih berpikir apakah ini mimpi atau bukan.
"Apa masih ada yang sakit?" tanyanya dengan nada khawatir. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Tidak ada ... kenapa kamu di sini?" tanyaku dengan nada sedih, karena teringat perkataannya waktu itu.
"Kamu terluka, bagaimana bisa aku tidak khawatir?" ucapnya dengan nada sedih. Dia menundukkan kepalanya hingga aku bisa merasakan bahwa dahinya menyentuh ujung jariku.
"Maaf, aku tidak tau bahwa ada yang berniat jahat padaku. Maaf juga, karena aku berkata kasar padamu," ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa. Aku bersyukur kamu baik-baik saja," ucapku dengan senyum pahit. Ini sudah berakhir. Kami akan kembali seperti sebelumnya, saling menjadi orang asing.
"Namamu siapa?" tanya Areda dengan nada yang lembut.
"Untuk apa kamu tau? Bukankah kita juga akan kembali jadi orang asing?" tanyaku cuek. Aku sudah mencoba untuk membatasi harapanku, agar aku tidak terlalu jatuh atas kejadian kali ini.
"Aku perlu tau namamu dong, bukankah aku harus tau nama calon pacarku sendiri?" tanya Areda dengan senyuman manis miliknya. Aku terdiam, manatapnya dengan nanar dan sedih.
"Eira, Eira Feranda." Sambil menangis, aku mengucapkan nama lengkapku. Areda tersenyum lebar hingga menampakkan barisan gigi putihnya yang rapi.
"Eira Feranda, apa kamu mau jadi pacarku?" tanyanya sambil menggenggam tanganku yang bebas infus.
"Kenapa? Apa kamu kasihan? Padahal aku hanya menyelamatkanmu satu kali," ucapku dengan sedih. Areda menggelengkan kepalanya.
"Meskipun kamu berpikir aku sangat populer. Dan punya banyak pacar di sana sini ... tapi aku belum pernah menemui seorang gadis, yang rela mengorbankan nyawanya untukku," ucap Areda tulus.
"Jadi apa kamu mau? Hanya akan jadi kamu, dan kamu untuk selamanya," ucap Areda lagi. Aku mengangguk sambil menangis deras. Kami langsung berpelukan.
Ternyata, harapanku terkabul,-batinku.
[Harapanmu sudah terkabul.]
[Sampai jumpa seribu tahun lagi!]
End.