Pada jaman dahulu kala, ada dua kerajaan yang saling bertetangga. Kedua kerajaan itu adalah Kerajaan Sinar dan Kerajaan Kilau.
Kerajaan Sinar adalah kerajaan yang terkenal bersinar akan ilmu pengetahuannya dan suka dijuluki kerajaan pendidikan. Sedangkan Kerajaan Kilau adalah kerajaan yang terkenal berkilau akan pertambangan permatanya dan suka dijuluki kerajaan permata dunia.
Tapi sayangnya, kedua kerajaan ini saling bermusuhan dan sejak dulu sering melakukan peperangan.
Tapi, entah kenapa beberapa tahun belakangan, kerajaan ini jadi damai karena tak melakukan peperangan lagi, sampai pada suatu hari...
"Akhirnya, akhirnya! Hari ini datang juga!" teriak Pangeran William, anak kedua dari raja Kerajaan Kilau, berlari masuk ke kamar sang raja dengan heboh bersama Putri Rose, sang anak bungsu.
"Jangan berisik, Will." bentak Pangeran Steven, sang anak sulung, ditatapnya William dengan garang.
"Ada apa... anak-anakku sayang...?" tanya raja tersenyum dengan suara yang lemah.
"Ayah, jangan pedulikan mereka. Ayah harus fokus memikirkan kesehatan ayah saja." ucap Steven agak khawatir.
Sejak tadi Steven berada di kamar raja, menemani sang ayah yang melakukan pengobatan dengan tabib istana.
Raja sudah lama sakit-sakitan ditambah lagi karena faktor usia. Hanya bisa terbaring lemah ditempat tidur dan tak bisa melakukan apa-apa.
"Tidak apa-apa, ayah ingin dengar... apa yang ingin adik-adikmu katakan... " ucap raja.
"Ada surat undangan datang dari Kerajaan Sinar, ayah. Mereka mengundang semua kerajaan untuk ikut kontes kecantikan tahunan. Tempat kontes kali ini di Kerajaan Sinar. Akhirnya hari ini datang juga." ucap Rose semangat.
"Terus?" Steven mengangkat sebelah alisnya.
"Apa kakak masih belum mengerti juga? Ini kesempatan bagus bagi kita untuk masuk ke kerajaan mereka dengan mudah dan tanpa dicurigai. Karena menurut kesepakatan semua kerajaan, apabila ada sayembara atau kontes, maka hal yang bersifat pribadi atau perselisihan antar kerajaan akan dikesampingkan dulu untuk sementara." ucap William.
"Lalu?" tanya Steven mulai jengah. Raja tertawa kecil seolah tahu maksud William dan Rose.
"Disini disebutkan sang pemenang akan dijamu dan dilayani beberapa hari bak tamu kehormatan sebagai hadiah tambahan dari kerajaan mereka. Kita kirim perwakilan kita kesana dan sebisa mungkin untuk menang. Tapi... kalau tidak menang juga tidak apa-apa karena disaat mereka lengah mengurus kontes itu, kita akan menyusup masuk keruangan pusaka mereka dan mengambil pusakanya. Dengan begitu kita bisa mengancam mereka untuk tunduk dan menyerah pada kerajaan kita." terang William menggebu-gebu.
"Untuk apa begitu? Hidup damai seperti sekarang saja sudah bagus. Kenapa kita harus membuat masalah dan peperangan lagi? Kalau seandainya mereka tahu ayah sedang sakit, mereka pasti akan melakukan serangan balik. Apa kamu tidak memikirkan itu?" tanya Steven.
"Iya juga... " sahut William kecewa.
"Pikirannya langsung lancar kalau menyangkut perang. Kenapa dia sangat suka dengan peperangan dan hal yang merepotkan begitu sih?" batin Steven.
"Tapi... apa kakak tidak mau kerajaan kita jadi semakin berpengaruh? Kalau kita bisa menduduki kerajaan itu, kita akan semakin terkenal dengan segala kekayaan kita dan berpengaruh dengan pengetahuan dari mereka." William masih bersikukuh.
"Hmm... Benar juga." ucap Steven berpikir.
"Bagus, dia sangat mudah dipengaruhi." batin William dan Rose senang.
"Sebenarnya ada yang aku inginkan juga dari kerajaan itu." ucap Steven tiba-tiba.
"Apa itu, kak?" tanya William dan Rose penasaran.
"Tanaman herbal penumbuh rambut diwajah." jawab Steven serius.
"H-hah?" mereka yang ada disana kaget mendengarnya.
Mereka sangat tahu kalau wajah Steven sangat mulus karena kumis dan jenggot tak bisa tumbuh diwajahnya. Padahal Steven sangat menginginkan brewokan dan hanya di Kerajaan Sinar sajalah tanaman itu tumbuh.
"Ini juga kesempatan yang bagus untukmu, Steven. Sebagai putra mahkota, kamu harus cepat-cepat menikah." ucap raja.
Selain kontes kecantikan, acara itu juga merupakan ajang cari jodoh.
"Aku mengerti, ayah. Tapi, aku masih belum ingin menikah." ucap Steven serba salah. Raja terlihat agak kecewa.
William dan Rose malah cekikikan, mengingat selama ini Steven susah dekat dengan gadis gara-gara para gadis yang selalu minder dan mundur karena merasa kalah saing dengan kecantikan, eh, ketampanan Steven.
"Diam kalian!" marah Steven.
"Huh! Apa kalian sudah memilih kandidat perwakilan kita?" tanya Steven masih kesal.
"Eh... belum. Tapi... " jawab William dan Rose sambil melirik Steven.
"Kenapa kalian melihat aku?" tanya Steven curiga.
"Apa kakak mau jadi perwakilannya?" tanya mereka memohon.
"Hei, kenapa aku? Kontes kecantikan itu pesertanya perempuan kan?" teriak Steven emosi dan kaget.
"Terlalu repot untuk memilih para gadis. Apalagi kita harus membatasi sedikit dan pengawal tertentu saja untuk ikut supaya bisa bergerak dengan cepat. Terus... kakak kan cantik." ucap William tersenyum usil.
"Enak saja, tidak mau. Kenapa bukan kalian saja?" tanya Steven kesal.
"Mana bisa. Aku kan tidak secantik kakak." tolak William dengan gaya centil dibuat-buat. Perawakan William lebih tinggi dan besar dari Steven.
"Aku juga tidak bisa, aku kan masih kecil." tolak Rose sok imut. Rose usianya memang masih terlalu muda, tidak mungkin bisa ikut kontes itu.
"Dikerajaan ini, hanya Pangeran Stevenlah yang paling cantik, eh, tampan." tabib istana yang masih ada disana malah ikut-ikutan memperparah keadaan. Raja terkekeh mendengarnya.
"Cih, karena inilah kenapa aku ingin punya brewokan supaya terlihat macho." batin Steven kesal.
Hari yang ditunggupun tiba...
"ASDFGHJKL (sensor) @#%$* (sensor)..." Steven terlihat frustasi. Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan makian dan umpatan melihat penampilannya yang sekarang sangat cantik dan anggun menggunakan gaun.
"Pft, jangan begitu, kakak." bisik William disampingnya yang kesusahan menahan tawanya.
"Awas kamu nanti, a.dik.ku.ter.sa.yang..." batin Steven kesal, ditatapnya William dengan garang.
Kontes kecantikan kerajaanpun dimulai, dan sudah bisa dipastikan siapa yang jadi pemenangnya.
"Aku merasa harga diriku sudah hancur." batin Steven, nyawanya sampai keluar karena syok.
"Apa lihat-lihat? Ada banyak gadis yang cantik-cantik disini, jangan lihat aku!" batin Steven. Ekspresi wajahnya terlihat tenang tapi dalam hatinya memaki dan menatap tajam orang-orang yang terpesona dengan 'kecantikannya'.
"Kami ucapkan selamat kepada Pangeran William dan sang pemenang, Stefani, perwakilan dari Kerajaan Kilau." sambut ramah Pangeran Jonathan, anak sulung dari raja Kerajaan Sinar dan Putri Jenita, sang anak bungsu pada Stefani (Steven) dan William.
"Terima kasih, Pangeran Jonathan dan Putri Jenita." ucap William dan Steven sopan.
"Kenapa hanya Pangeran William saja yang datang? Kenapa Pangeran Steven tidak ikut serta?" tanya Jonathan.
"Kakak tidak bisa datang karena membantu ayah kami menangani urusan negara." jawab William dengan aura tenang tapi ekspresinya berlawanan.
"Oh... begitu?" sahut Jonathan penuh selidik.
"Lalu, ada dimana yang mulia raja sekarang? Kami tadi hanya melihat beliau sebentar saja saat penyambutan. Apakah beliau baik-baik saja?" tanya William.
"Tentu saja, ayah kami baik-baik saja." jawab Jonathan dengan ekspresi tenang tapi auranya berlawanan.
"Oh... begitu?" sahut William penuh selidik.
"Memang sangat disayangkan kami tidak bisa memberikan salam secara langsung kepada yang mulia raja. Tapi, disambut oleh Pangeran Jonathan dan Putri Jenita sudah menjadi sebuah kehormatan bagi saya." ucap Steven sopan untuk menghentikan perselisihan yang tidak perlu.
"Apa yang kamu lakukan, hah?" marah Steven dalam hati, melirik William dengan tajam.
"Saya minta maaf atas ketidaksopanan saya, Pangeran Jonathan dan Putri Jenita." ucap William sopan, tahu apa maksud lirikan kakaknya.
"Saya juga minta maaf atas ketidaksopanan saya dan sudah memulai keributan, Pangeran William dan nona Stefani." ucap Jonathan merasa salah.
"Ternyata selain cantik, nona Stefani begitu sopan dan baik." ucap Jonathan.
"Terima kasih, pangeran. Anda juga begitu tampan dan baik." ucap Steven balik memuji dengan tersipu malu.
"Hoek! Aku ingin muntah dengan kelakuanku sendiri." batin Steven geli.
"Eh? Kenapa dia menatapku begitu? Apa jangan-jangan... " batin Steven kaget dan merinding karena Jonathan tersenyum tak jelas dan menatapnya dengan ekspresi yang sedang terpesona.
Jenita hanya diam memperhatikan mereka.
Lalu sesuai dengan hadiah yang dijanjikan, Steven dan William dijamu secara langsung oleh Jonathan dan Jenita.
"Aneh? Kenapa raja mereka tidak kelihatan, ya?Terus mereka juga terlihat tenang-tenang saja, seolah tidak terlalu khawatir dengan kita." bisik William.
"Entahlah, aku tidak tahu. Kita harus cepat-cepat menemukan tempat pusaka mereka dan segera keluar dari sini." bisik Steven.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Jenita.
"Ah, t-tidak ada apa-apa." sahut Steven dan William.
Saat ini mereka sedang mengadakan pesta minun teh di rumah kaca.
"Saya dengar ada tanaman herbal yang bisa menumbuhkan rambut wajah di Kerajaan Sinar, apa itu benar?" tanya Steven mengalihkan topik dengan antusias.
"Memang benar, tanaman itu tumbuh di kerajaan kami. Tapi, kenapa Anda menanyakan itu?" tanya Jenita bingung.
"Karena saya ingin... Aduh!" ucapan Steven terputus karena tiba-tiba William menendang kakinya dengan tatapan tajam.
"Ada apa, nona?" tanya Jonathan khawatir.
"S-saya tidak apa-apa." sahut Steven tersenyum, tapi dibawah meja, kakinya saling tendang-tendangan dengan William.
"Nona Stefani, apakah Anda mau mencicipi kue ini? Ini kue terenak buatan koki istana kami. Semua kue buatannya memang enak sih. Cobalah, Anda pasti akan menyukainya." ucap Jonathan tersenyum ramah.
"T-terima kasih, pangeran." ucap Steven agak risih dengan senyuman Jonathan. Mau tak mau Steven memakan kue itu.
"Uwaaah... Ini kue terenak yang pernah saya makan selama ini." ucap Steven takjub berbinar-binar.
Jonathan terpesona melihatnya. Begitu pula dengan Jenita dan entah kenapa ada perasaan aneh dalam dirinya.
"Kenapa ini? Kenapa jantungku berdegup kencang begini?" batin Jenita kaget memegangi dadanya.
"Masa sih kuenya seenak itu?" batin William tak percaya.
"Uwaaah... Ini memang benar-benar enak... " ucap William tak sadar saat mencicipinya.
"Ehem, ya ampun. Aku jadi konyol seperti kakak juga." batin William tersadar dan menetralkan ekspresi wajahnya.
Hari-haripun berlalu, sampai...
"Kak, kita sudah mengetahui tempat ruangan pusaka mereka. Kita harus secepatnya bergerak, kak." ucap William saat dikamar bersama Steven.
"Benar, apalagi besok adalah hari terakhir kita disini. Kita harus bertindak malam ini juga. Aku sudah tak tahan menyamar jadi perempuan begini terus." ucap Steven lelah.
Malamnya, Steven, William dan beberapa pengawal mereka berhasil masuk keruangan pusaka dan mengambil pusaka Kerajaan Sinar dengan menyamar sebagai prajurit Kerajaan Sinar. Dan juga berhasil keluar diam-diam dari istana tanpa ketahuan.
"Kita berhasil, kak. Ternyata semudah itu ya mengelabui mereka." ucap William senang.
"Tapi, rasanya aneh. Kenapa terlalu mudah begini?" tanya Steven berpikir.
Kecurigaan Steven memang benar. Steven, William dan pengawal menghentikan laju kuda mereka katena melihat sekumpulan prajurit Kerajaan Sinar sudah menghadang mereka ditengah jalan. Jonathan dan Jenita terlihat ada disana juga.
"Ternyata kita sudah ketahuan." ucap William syok tak percaya.
"Tentu saja kalian sudah ketahuan. Memang kalian pikir kami bisa kalian bodohi. Kami tak mungkin bisa lengah pada musuh yang masuk begitu saja ke dalam kerajaan kami, Pangeran Stefani." ucap Jonathan menyeringai.
"B-bagaimana bisa?" tanya Steven dan William.
"Kami sudah lama tahu kalau Anda menyamar sebagai perempuan, Pangeran Steven. Bentuk jari antara pria dan wanita itu berbeda. Kalau wanita, jari telunjuknya lebih panjang daripada jari manis. Sedangkan kalau pria sebaliknya. Dari bukti pertama, kami langsung tahu kalau 'nona Stefani' adalah seorang pria." ucap Jenita menerangkan.
"Hebat. Hanya melihat dari jariku saja, dia langsung tahu kalau aku laki-laki." ucap Steven takjub.
"Bukti kedua, kalian berdua selalu memperlihatkan hubungan yang begitu sangat akrab, layaknya adik dan kakak. Bukankah itu sudah sangat tak wajar. Yang terakhir, Pangeran Steven pernah 'mungkin tak sengaja' mengenakan cincin permata langka yang dikhususkan hanya untuk keluarga Kerajaan Kilau saja. Melihat dari bentuknya, sudah jelas cincin itu untuk putra mahkota. Bukan begitu, Pangeran Steven?" tanya Jenita menyeringai.
"Bagaimana mereka bisa sampai mengetahui cincin ini juga?" kaget Steven.
"Sudah kubilang kan, seharusnya kakak jangan memakai cincin itu dulu." ucap William kesal.
"Tetap saja kita ketahuan, Will." kesal Steven.
"Huh... Padahal cantik, tapi sayang dia laki-laki." ucap Jonathan mengeluh kecewa.
"Kakak?" Jenita tercengang melihat kakaknya yang jadi lesu.
"Tapi, tetap saja kalian datang kesini hanya untuk membuat kuburan kalian sendiri. Kalian tak akan bisa pergi dari sini dengan mudah. Dan asal kalian tahu saja, pusaka yang kalian ambil itu sebenarnya palsu. Yang asli sudah kami simpan ditempat yang aman. Rencana kalian tidak sesuai dengan yang kalian harapkan, ya..." ucap Jonathan tertawa senang.
"Sial." Steven dan William mengumpat.
"Ternyata mereka juga sudah merencanakan semua ini." ucap William emosi. Jonathan terlihat menyeringai.
"Serang mereka!" teriak Jonathan memerintahkan prajuritnya.
Suara pedang beradupun tak terelakkan lagi.
"Will, pergilah dari sini!" suruh Steven disaat ada celah.
"Apa? Tidak bisa. Aku tidak mau meninggalkan kakak." tolak William bersikeras.
"Jangan membantah, Will." ucap Steven kesal dan mengikat William yang masih menunggangi kuda pada badan kuda.
"KAKAK...!" teriak William tak terima. Kudanya berlari cepat meninggalkan tempat itu karena Steven memukul bokong kudanya dengan keras.
"Maaf, kak. Karena aku, kakak jadi begini." batin William menyesal.
"Yang penting kamu selamat, Will." gumam Steven pelan.
Lalu melanjutkan lagi pertarungan mereka. Tapi sayang, semua pengawal Steven telah gugur dikalahkan karena kalah jumlah dan tinggallah Steven sendirian terkepung oleh prajurit Kerajaan Sinar.
"Ternyata kamu sangat menyayangi adikmu, ya. Seorang putra mahkota, kenapa bukan kamu saja yang pergi tadi?" ucap Jonathan agak mengejek.
"Keluarga lebih berharga daripada tahta." ucap Steven.
"Ho... boleh juga prinsipmu itu. Tapi, apa yang akan terjadi kalau Kerajaan Kilau kehilangan putra mahkota kesayangannya, ya?" tanya Jonathan menyeringai, mengacungkan pedangnya ke arah Steven.
"Tentu saja ayah dan adik-adikku akan sedih, begitu pula dengan rakyat kami. Tapi apa boleh buat keadaan sedang tak memungkinkan. Kalau sudah begini, aku akan berjuang sampai akhir." batin Steven mencoba tegar dan mengangkat pedangnya lagi untuk bertarung sampai akhir.
-TAMAT(???)-