Radit menatap tajam kearah kotak kecil berisi coklat, salah satu makanan favoritnya.
" Beneran ini bikin sendiri ? Enak ? Udah testimoni belum ?" Tanyanya lagi dengan menatap ragu ke kontak makanan itu.
" Cover emang bagus, tadi di bungkus cantik juga dalamannya", Gumamnya. Radit ragu untuk memakannya.
" Jadi makan ga kak ?" Tanya Ophilia menatap wajah lelaki itu sudah tak bersahabat lagi. Wajahnya berubah menjadi dingin juga ekspresi nya. Gadis itu ingin mengungkapkan perasaan nya pada lelaki itu. Melalui media makanan, apalagi ia tahu coklat salah satunya. Ia sudah mencoba membuat berulangkali, dan bibi dan penjaga rumah yang menjadi kelinci percobaannya.
"Sudahlah kak ! Biarkan saja, anggap aku tak pernah memberikan nya padamu !" Ucapnya sambil menarik kotak itu dan membantingnya ke tempat sampah. Gadis remaja itu berlalu menuju ke rumahnya meninggalkan Radit yang terbengong bengong.
Pasalnya lelaki itu tak mengira jika gadis cantik tetangganya itu bakal tertarik padanya. Secara umurnya sudah tiga puluhan. Dan ia juga sedang pdkt sama rekan kerjanya.
Beberapa waktu lalu saat ia membawanya pulang mereka berpapasan dan dari situlah ia baru mengerti jika kemanjaan itu bukan sebagai adik.
Radit memungut kotak itu lagi ada tiga butir masih utuh dan tak kena kotoran, tanpa ragu ia mengambil coklatnya dan menaruh kembali bungkusnya di tempat sampah.
" Mhm.. Enak. Seperti yang di jual pada umumnya. Rupanya dia ada bakat masak." Gumamnya lirih sambil berjalan masuk ke rumahnya.
Sejak insiden tersebut mereka sudah tak bertemu lagi, gadis itu lenyap. Biasanya ia selalu nongol jika mendengar motor atau mobilnya datang. Jangankan keliatan mengintipnya dari korden jendela kamarnya juga tak lagi dia lakukan.
Radit merasa sepi hari-harinya hanya menatap kosong ke balkon kamar depan rumah tetangganya.
"Semoga kamu sehat, maaf tak dapat membalasnya dengan keinginan mu." Bisiknya lirih sambil meneruskan kegiatannya.
Di suatu ballroom hotel. Radit memicing matanya. "Ophilia ?" Bisiknya lirih. " Bukannya itu gadis tetangga kamu ? Kenapa ia bisa sama manajer baru ?" Ujar Desy pasangan Radit di pesta.
Sedangkan yang di lihatnya makin mendekati mereka, gadis itu memang Ophilia dan Kevin. Manajer baru bagian keuangan.
"Pak Kevin ?" Sapa Desy sopan. Lelaki itu menyalaminya. " Hai, sama Radit, ya ?" Balas Kevin ramah. " Kapan datang pak Kevin." Sapa Radit sopan sambil melirik pasangan Kevin.
" Beberapa menit lalu, ini Ophilia. Tunangan aku. Masih muda memang, namun ia pandai masak. Aku suka dia pandangan pertama lalu aku melamar nya. Karena masih kuliah makanya kita tunangan dulu." Ujar Kevin panjang lebar.
Ophilia memilih diam dan hanya bergelanyut di lengannya Kevin. Wajahnya datar menata Desy dan Radit. "Sudah tiga bulan tak bertemu sekarang muncul sudah bertunangan. " Batinnya menatap wajah cantiknya Ophilia. Sedangkan wanita itu masih dalam ekspresi wajah yang sama.
Memang benar adanya kesempatan itu hanya sekali tergantung pada pilihan yang bijak mana yang kita putuskan.