Dengan tangan memegang gelas, aku berjalan melewati rak sepatu namun mata ku tertuju pada suatu benda.
Aku pun menganbil benda itu yang berada di rak sepatu, aku duduk di lantai dan meletakkan gelas yang sebelumnya aku bawa lalu ku letakkan di lantai di samping tubuh ku.
Ku buka lembaran kertas yang masih terlipat rapih, sama saat dulu aku pernah melipatnya... surat yang ku tulis untuk orang yang pernah mengisi hati ku.
Dear Lina
Aku bukan lah seseorang yang pandai dalam merangkai kata hingga menjadikannya puitis, aku hanya pengagummu dari awal kita menjalani Masa Orientasi Siswa dan aku semakin terkejut lagi saat tahu jika diri mu mengambil jurusan yang sama dengan ku, aku semakin tertarik pada mu di tambah dengan pribadi mu yang berbeda dari teman yang lain.
Mau gak kamu jadi pacar ku? Kita menjadi teman sekaligus bersaing dalam nilai, kamu itu penyemangat ku di sekolah, jadi jangan buat semangat ku mengendur dengan penolakan rasa ku yang tidak kau balas.
Begitu lah isi surat yang ku tulis dulu untuk mu, tapi sayangnya aku tidak punya keberanian untuk memberikan surat ini pada mu. Entah seperti apa sekarang diri mu, teman yang pernah mengisi hati ku.