Gerimis masih melanda permukaan bumi. Menimbulkan aroma tanah segar yang entah sejak kapan Luna menyukainya. Padahal semenjak kecil gadis itu tidak terlalu menyukai yang namanya hujan. Setelah mengenal sosok Dave, kekasih yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi penghuni hatinya, ia jadi menyukai hujan. Hujan yang sangat deras pun kini Luna juga menyukainya, bahkan terkadang sering mengharapkan hujan datang ditengah musim kemarau melanda. Memang aneh, tapi begitulah Luna saat ini.
Bukan karena tiada alasan Luna begitu mengharapkan datangnya hujan ditengah musim kemarau. Karena baginya kini hujan adalah sahabatnya. Air yang mengalir deras dari penjuru langit itu cukup mampu membantu Luna menyembunyikan luka hatinya yang sering menangis karena ulah kekasihnya, Dave.
"Ayo kita pulang, Na."
Seruan ajakan pulang dari Bintang, sahabat setianya dari jaman berseragam putih biru, terus saja membujuk Luna agar segera meneduh dari gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan yang kemudian berangsur deras.
Luna tetap menggeleng, tetap angkuh dengan pendiriannya yang memilih mengintai Dave yang sedang kepergok berselingkuh lagi bersama perempuan lain. Sudah tak terhitung keberapa kalinya kejadian Dave berselingkuh, cuma begitulah Luna, gadis itu selalu memberi maaf kepadanya meski tiada kata permintaan maaf dari Dave atas kesalahannya itu.
"Luna!" Suara Bintang mulai meninggi. Kesal sudah pasti, tetapi memilih tetap menekan kesabaran demi Luna.
Lelaki tanggung berusia dua puluh satu tahun itu menyentuh pergelangan tangan Luna, bermaksud akan menyeretnya dari area taman terbuka dipertengahan kota yang telah basah akibat guyuran hujan yang melanda.
Luna masih bergeming. Ia malah menangkis tangan Bintang dari pergelangan tangannya. Lalu menatap sekilas pada wajah sahabatnya itu, seakan memohon untuk membiarkannya tetap begini saja.
"Ck, dasar bodoh!" Umpatan kesal keluar begitu saja dari mulut Bintang.
Lelaki itu tidak mungkin meninggalkan Luna seorang diri ditempat ini dengan kondisi tubuhnya yang sudah basah kuyup. Seberapa kesal Bintang melihat Luna yang terlihat bodoh setelah mencintai Dave, tetap saja ia tidak tega membiarkan Luna menangis sendiri ditengah hujan deras begini.
"Luna..."
Perlahan Bintang menarik tubuh Luna kedalam pelukannya. "Menangislah disini," ujarnya sendu dengan mengelus punggungnya agar tetap tegar.
Tak lama setelah itu Bintang mendengar jelas suara tangis itu pecah dibalik dadanya. Luna menangis sejadi-jadinya. Dan Bintang membiarkannya saja begitu, hingga nanti ia akan lelah sendiri dengan tangisnya itu.
"Mau sampai kapan, Na? Mau sampai kapan kamu akan begini?"
Luna hanya menggelengkan kepalanya dibalik dada bidang Bintang, tanpa mau mengeluarkan suaranya.
"Sampai tua pun ku rasa Dave tetap begitu. Selingkuh itu sudah jadi penyakit hati Dave. Nggak akan ada obatnya, Na. Kecuali Dave nya sendiri yang berkeinginan berubah."
"Aku ingin menjadi obat itu, Bin," sahutan sendunya perlahan keluar dari mulutnya yang gemetar, efek kedinginan.
Ck! Luna selalu begitu. Ia selalu rela menahan luka hatinya demi seorang Dave. Terkadang Bintang merasa tak terima Luna telah diperlakukan seperti itu oleh Dave, akan tetapi kekasih sahabatnya itu tetap saja mengulangi perbuatan salahnya itu karena Luna yang selalu memberinya peluang maaf.
"Dia tidak pernah menganggapmu, Na. Kalo dia memang sadar kamu itu pacarnya, dia nggak akan selingkuh terus dari kamu. Ayolah, Na! Ku rasa kamu masih lebih baik dan lebih cantik dari simpanannya itu. Tinggalkan Dave. Masih banyak lelaki diluar sana yang menginginkan tipe perempuan setia sepertimu."
"Seperti aku yang juga menginginkamu," tentu ini hanya sebatas suara hati Bintang yang tak pernah berani ia ungkapkan kepada Luna.
Sekilas Luna menyunggingkan senyumnya kepada Bintang. Senyum manis yang terasa hangat namun seperti menyimpan suatu misteri dibaliknya.
Bintang menarik tangan Luna untuk beranjak dari sana. Ia membawanya untuk meneduh disebuah gazebo kosong yang berada ditengah taman kota itu, menuntunnya untuk duduk tenang tanpa menghiraukan Dave yang terlihat semakin mesra bersama kekasih simpanannya itu.
"Mau aku belikan teh hangat?" tawar Bintang, setelah melihat angkringan penjual menu minuman diluar area taman.
Luna hanya menggeleng, sedang kedua netranya tetap menjuru tajam ke arah Dave berada. Bintang tentu sangat kesal. Rasanya ingin sekali ia memberinya sedikit pelajaran dengan hadiah tonjokan darinya andai Luna tidak mencegahnya saat ini.
"Biarkan saja, Bin," suara sendunya kembali keluar dari bibirnya yang memucat.
"Luna!"
Kali ini ekspresi Bintang bukan lagi kecewa karena dicegah oleh Luna, melainkan rasa panik itu langsung menyapa begitu melihat setetes darah segar mengalir dari sebelah lubang hidung sahabatnya itu.
"Ayo kita pulang, Na," ajaknya lagi.
Dengan sigap Bintang mengelap darah itu dengan jemarinya, yang rupanya Luna baru menyadari jika ia sedang mimisan.
Lagi-lagi Luna hanya bergeming. Tetap terlihat tenang dengan reaksi tubuhnya yang belakangan ini sering terlihat aneh yang Bintang yakini jika perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Bisa jadi ia sedang mengidap suatu penyakit yang mungkin Bintang tidak mengetahuinya. Tapi semoga saja itu tidak benar. Karena membayangkannya saja Bintang sudah meneteskan air matanya.
"Kenapa kamu menangis, Bin?" tanyanya dengan uluran tangannya yang mengusap air mata dipipi Bintang.
"Aku nggak mau kehilangan kamu, Na."
Luna hanya tersenyum menanggapi ocehan Bintang yang keluar seiring tangisannya yang belum mereda.
"Kamu sudah terlanjur menjadi orang ternyaman dihatiku. Bagaimana pun kondisimu, aku tetap akan berada sama kamu."
"Begitu pun yang aku rasa sama Dave, Bin. Aku sudah terlanjur cinta sama dia." Luna melihat ke arah Dave lagi.
"Aku nggak mau kehilangannya. Bagaimana pun perangainya, nyatanya hatiku sudah terlanjur nyaman bersamanya. Paling tidak, nanti aku lah yang akan selalu ia kenang sebagai satu satunya pacarnya yang setia sama dia."
"Dan kamu--" Luna menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya yang terasa dingin.
"Aku juga tidak mau kehilangan sosok sahabat terbaik seperti kamu."
Sesaat suasana kembali hening. Hujan yang semula deras kini perlahan menyurut menjadi gemericik gerimis yang bersenandung khas irama alam. Bintang terdiam dengan segala gemuruh hati yang membuncah. Terasa sedikit ngilu dari sudut hati kecilnya begitu menyadari statusnya yang tak pernah naik level, tetap berada di zona best friend nya seorang Luna.
Dan Luna, gadis itu masih setia mengintai Dave yang terlihat mulai beranjak pergi bersama kekasih simpanannya itu. Senyum getirnya sekilas terukir dari sudut bibirnya yang masih pucat. Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan. Yang Bintang lihat, sahabatnya itu selalu bertahan dengan luka hatinya itu dengan hati yang cukup sabar.
Brukk!
"Luna!"
Gadis itu tumbang disaat ia mencoba berdiri dari tempatnya duduk. Beruntung Bintang segera menangkap tubuhnya.
"Luna!!!"
Suara itu lantang terdengar dari seberang sana. Suara yang cukup Bintang kenali orangnya.
Tetiba Dave sudah berhambur dan turut bersimpuh disamping Luna yang tak sadarkan diri. Apakah sedari tadi Dave sudah tahu jika Luna memperhatikannya? Jika benar iya, mengapa ia terlihat sangat ingin menyakiti perasaan Luna secara terang-terangan dengan kekasih gelapnya itu?
Kedua tangan Bintang sudah mengepal erat. Rasa kesal bercampur amarah kepada lelaki tak tahu diri seperti Dave menyeruak sepenuh hatinya.
"Na, Luna!"
Dave menepuk pipi gadis itu berulang ulang, dan tetap tiada respon darinya yang berarti. Lelaki itu mengambil posisi Luna yang terbaring dipangkuan Bintang, lalu secepatnya membawa pergi sambil membopong tubuh lemah Luna dalam gendongannya.
"Semoga kamu baik baik saja, Na," batin Bintang berseru lirih, sambil menatap Dave yang telah beranjak jauh membawa Luna ke sebuah klinik yang tak jauh dari sekitaran taman kota ini.
#Bertahan terluka
#Karena kamu lah pilihanku
#The End