"Ayah! Aku tidak mau dijodohkan dengannya!..."Teriak seorang remaja putri berusia 19 tahun.
"Kamu harus! semuanya demi menjalin kerjasama nak. Semua demi rakyat dan kerajaan ini." Jawab sang ayah yang tak lain adalah Kaisar.
"Lali kenapa harus aku ayah? Kamu mempunyai 20 putri lainnya. Mengapa harus aku?" Tanya Ariana putri itu sambil tersenyum dengan linangan air mata.
"Karena mereka menginginkanmu!" Teriak kaisar.
"Lalu? apa dengan mudahnya kami melupakan janjimu padaku?" Ujar Ariana lagi sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Bukan, bukan begitu nak. Tapi situasi yang memaksa." Ujar kaisar lalu duduk di singgasananya.
" Mereka hanya keluarga Duke yang berada di bawah kekuasaan mu! Kenapa kamu tidak bisa bernegosiasi dengan mereka?" Ujar Ariana lagi.
"Cukup Ariana! Terima saja! dia pemuda yang baik, dan tidak ada yang rugi juga." Ujar kaisar berusaha membujuk lagi.
Ariana adalah putri kesayangannya. Ia sebenarnya tidak mau melakukan ini. Tapi demi menjaga stabilitas negara ia harus melakukan ini.
"Apa akan terjadi perang?" Tanya Ariana tiba-tiba membuat kaisar terkejut.
"Aku harap kamu tidak melakukan itu!" Ujar kaisar marah sambil berdiri.
"Aku akan melakukannya ayah. Jika aku bisa kembali dalam keadaan hidup setelah berperang di perbatasan. Ayah harus membatalkan pernikahan ini. Jika ayah masih memaksaku, jangan menyesal karena tidak menemukan jejaku di dunia ini lagi." Ujar Ariana dengan wajah marah dan segera pergi dari sana.
Kaisar tak bisa melakukan apapun. Ia sangat stres dengan semua ini. Pilihan yang diberikan padanya singgung sebuah dilema. Sebagai seorang kaisar ia harus mementingkan kerajaan dan rakyatnya. Sebagai seorang ayah ia harus mementingkan keluarganya. Apa yang harus dilakukannya.
Lalu ia memutuskan untuk memanggil keluarga Duke dan berdiskusi. Kini mereka sudah berada di ruang khusus kaisar. Disana sudah adalah Duke, Duke muda, dan kaisar.
"Ada apa anda memanggil kami?." Tanya Duke dengan mata dingin.
"Huh... ini tentang pernikahannya. Putriku tidak mau melakukannya, dia bahkan pergi berperang demi menolak pernikahan ini. Jika ia kembali hidup-hidup dia tidak akan menikah, dan jika ia tidak kembali sudah pasti tidak akan menikah. Jadi... apakah kau tidak mau memilih putriku yang lain? aku tidak mau kehilangan anakku." Ujar kaisar dengan mata sendu.
"Maaf kaisar... tapi yang aku inginkan adalah putri Ariana. Mau tidak mau dia harus menikah denganku. Aku yakin dia akan baik-baik saja setelah pernikahan kami. Meskipun ia pergi berperang, anda tenang saja. Saya akan mengirim penjaga terbaik saya untuk menjaganya di sana." Ujar Duke muda dengan percaya diri.
"Tapi...Baiklah...tolong jaga putriku." Ujar kaisar dengan nada lesu.
"Tentu saja..." Ujar kedua Duke dengan percaya diri.
Beberapa hari kemudian putri Ariana pergi ke perbatasan untuk bergabung dalam peperangan. Dan sesuai janji Duke mengirim banyak pasukan secara diam-diam untuk menjaga Ariana.
Satu tahun kemudian perang telah berakhir. Dan benar saja putri Ariana memenangkan perangnya. Dia sangat bahagia...dengan begini ia tidak akan dipaksa menikahi tuan Duke lagi. Ekspresi wajah senang tak bisa disembunyikannya.
Kini ia sudah berada di ruang tamu ayahnya.
"Ayah...aku sudah kembali...tepatilah janji ayah." Ujar Ariana dengan senyum di wajahnya.
Melihat itu kaisar hanya menatapnya dengan pandangan datar membuat Ariana kebingungan.
"Kapan ayah berjanji?" Ucap kaisar seperti petir disiang bolong bagi Ariana.
apa ini, ternyata ayahnya tidak berjanji. Benar saja ia mengingat dirinya langsung melenggang pergi tanpa mendengar ayahnya berjanji.
"Ternyata begitu... baiklah." Ujar Ariana setelah menghela nafasnya. Ia mengeluarkan ekspresi tak berdaya dengan pandangan sendu.
"Apa kamu mau menikah dengannya?." Tanya kaisar lagi.
"Iya ayah...aku tidak punya pilihan lain kan?" Sahut Ariana.
Kaisar pun sangat senang. Kemudian Ariana meninggalkan ruangan itu. Dengan hati riang kaisar mengirim surat pemberitahuan pad a keluarga Duke.
Berita dari kaisar sungguh membuat hati mereka bahagia. Lalu mereka pun merayakannya dengan makan malam.
Tidak terasa sudah tiba di hari pernikahan. Para bangsawan dan tamu undangan datang dengan pakaian glamornya. Mereka turut bersukacita dengan pernikahan ini.
Kini sang pendeta sudah memanggil mempelai pria. Dilanjutkan dengan memanggil mempelai wanita. Namun Ariana tidak kunjung muncul.
Kaisar dan Duke saling menatap kemudian mereka beranjak ke kamar Ariana.
Disana mereka berpapasan dengan seorang pelayan yang nampak panik.
"Yang... yang... yang mulia. Tuan putri... kamarnya terbakar. Beliau mengunci diri disana." Ujar pelayan itu sambil bersujud.
"APA?" teriak kaisar dan duke bersamaan. Kemudian mereka menghampiri kamar Ariana. Asap sudah mengepul keluar.
Lalu kaisar menggunakan kekuatannya dan berhasil membuka pintunya. Mereka melihat ruangan sudah hampir habis terbakar. Kecuali kasurnya. Disana Ariana terbaring. Namun kaisar dan Duke terkejut melihat keadaan Ariana.
Dengan kekuatan air Duke memadamkan apinya. Dan kaisar masih terpaku melihat putrinya.
Tubuhnya terbaring sempurna dan nampak cantik. Ia masih menggunakan gaun pernikahan, bahkan hiasan rambutnya. Namun pedang panjang yang menancap di dada putrinya membuat ia seperti kehilangan hidupnya.
Kaisar lantas terduduk dengan pandangan mata yang kosong. Duke yang melihat itupun ikut terkejut. Ia tidak menyangka penolakan putri akan sejauh ini.
Ia melihat keberbagai arah dan menemukan secarik kertas yang terselip di bawah bantal Ariana.
"Surat..." gumamnya. Kaisar pun mendongak dan merebut surat itu lalu membacanya.
Setelah itu ia langsung berteriak dan menangis histeris. Putri tercintanya yang paling disayanginya telah meninggal karena dirinya. sungguh terluka hatinya.
Duke yang melihat itupun berusaha menenangkan kaisar. Lalu ia membaca suratnya juga.
Isinya:
"Ayah... meski ayah tidak menepati janji ayah. Tapi aku diajarkan untuk selalu menepati janjiku. Dan aku sudah berjanji akan mati jika ayah tetap bersikeras menikahkan ku setelah aku kembali dari Medan perang. Selama tinggal ayah... dari putrimu yang sudah mati."
Duke pun membelalakkan matanya. ia juga jatuh terduduk dengan penyesalan yang teramat sangat. Ia sudah tetap memilih Ariana sebagai menantunya. Seorang putri baik hati dan sangat tahu sopan santun dan tahu menghargai diri dan orang lain. Namun ternyata caranya mendapatkan Ariana lah yang salah. Sekarang menyesal pun tidak berguna.