Suasana pagi yang segar, menerpa kulit Tita yang sedang membawa dagangan gorengannya ke warung Bu Yessi. Sepanjang jalan ia selalu berdoa semoga gorengannya habis terjual.
Tita mempunyai seorang adik laki-laki yang bernama Rafa, umurnya empat tahun. Tita dan Rafa bukanlah dari keluarga yang berada, Ayahnya hanyalah seorang kuli panggul di pelabuhan. Sementara Ibu mereka meninggal dunia pada saat melahirkan Rafa.
Tita masih sekolah di kelas 1 SMP, semenjak ibunya meninggal, semua pekerjaan rumah dan mengurus semua keperluan adiknya adalah tugasnya. Sewaktu Rafa bayi, Rafa di asuh oleh bibinya. Setelah bisa berjalan dan bicara baru semuanya diserahkan kepada Tita.
Tita adalah anak yang rajin dan tidak pernah mengeluh dengan keadaan.
Hari ini sepulang sekolah ia mendapati adiknya sedang menangis. Biasanya kalau Tita pergi ke sekolah, ia akan menitipkan Rafa di rumah bibinya yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
"Dik, mengapa menangis?, siapa yang sudah ganggu kamu?", tanya Tita.
"Lafa, mau coklat kaaak?", jawabnya sambil menangis.
"Tadi Lafa lihat Ludi makan coklat, sepeltinya enak, Lafa mau", jawabnya lagi.
Tita terdiam, ia bingung, harga coklat kan mahal. Ia memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menyenangkan adik satu-satunya ini. Terlintas di pikirannya menanyakan hal ini ke bibinya.
"Sabar dulu ya Dik, nanti kakak akan menanyakan hal ini ke Bibi dulu", Tita menyeka air mata yang mengalir di pipi adiknya.
Setelah mengganti baju sekolah, Tita menemui bibi Mirna.
"Bi, Tita bingung, Rafa minta coklat, sementara uang Tita tidak cukup untuk membelinya, apa yang harus Tita lakukan?".
Bibi Mirna berpikir sejenak, dirinya teringat, dulu ia pernah makan coklat yang berbentuk bundar, tidak keras, disekelilingnya diselimuti meses.
"Coba kamu tanyakan pada Bu RT, waktu itu Bibi pernah di kasih Bu RT, rasanya enak dan lembut", ucap Bibi.
"Iya Bi, Tita bertanya ke Bu RT dulu ya, titip Rafa, Bi", kata Tita.
Didepan rumah Bu RT, "Assalamu'alaikum", Tita mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, Tita?, ada apa Nak, ayo masuk", Bu RT mempersilahkan Tita masuk.
"Begini Bu, Tita mau tanya soal resep membuat coklat bundar yang pernah Ibu berikan buat Bibi Mirna, Bu", tanya Tita.
"Coklat bundar...coklat bundar, ooo itu, gampang kok membuatnya, bahannya adalah roti mari, susu kental manis, mentega cair sama meses", jelas Bu RT.
"Tapi roti mari nya dihancurkan dulu, mentega dicairkan, baru setelah itu kamu campurkan semuanya kecuali meses, setelah semuanya tercampur, kamu bentuk bulat baru kamu gulingkan di atas meses", jelas Bu RT mengenai cara pembuatannya.
"Apa kamu mau membuatnya?", tanya Bu RT.
"Iya Bu, Rafa ingin sekali makan coklat, jadi Tita ingin membuatkan untuknya, dengan bahan seadanya, sesuai dengan kemampuan Tita", jawab Tita.
"Sebentar ya, Ibu masih punya meses dan mentega sisa kemarin, ambillah, kamu tinggal beli roti mari serta susu kental manis sachet saja", ujar Bu RT sambil memberikan mentega dan meses ke Tita.
"Terima kasih Bu, Tita pamit, Assalamu'alaikum", Tita keluar rumah Bu RT.
"Sama-sama Nak, Waalaikumsalam", jawab Bu RT.
Sepulang dari Bu RT, Tita menjemput Rafa, diperjalanan pulang ia membeli roti mari dan coklat kental manis sachet. Sesampainya di rumah ia segera mempraktekkan cara-cara membuat coklat bulat-bulat tadi. Rafa memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya dengan mata yang penuh antusias.
Tak berapa lama coklat itu pun jadi, ia lalu memberikannya kepada Rafa. Rafa memakannya dengan wajah yang gembira.
"Enak kak, Lafa suka", ujarnya sambil memakan coklat itu.
"Syukurlah, tapi kakak tidak bisa membuatkannya sering-sering, kakak akan berusaha membuatkannya pada saat ulang tahun Rafa nantinya. Tidak apa-apa kan?", kata Tita.
Rafa menganggukkan kepalanya. Semenjak saat itu Rafa tidak pernah lagi meminta coklat kepada kakaknya, didalam hatinya coklat buatan kakaknya adalah coklat yang terenak. Dan ia menunggu hari ulang tahunnya tiba untuk memakannya kembali.
TAMAT