Uap panas semakin menipis, namun tanganku masih sibuk mengaduk adonan coklat di atas panci dengan nyala api sedang. Hampir satu jam aku bergelut dengan berbagai bahan pembuatan coklat, ternyata membuat coklat tak semudah yang ku bayangkan.
"Hufft. Akhirnya selesai juga." desah ku dan melepaskan sarung tangan.
Segera ku ambil cetakan berbagai bentuk dan menuangkan coklat panas ke loyang mini. Ada bentuk love, bulat, bunga dan berbagai bentuk lainnya. Tanpa menunggu lama coklat hangat yang ku biarkan selama lima menit. Ku masukkan kedalam lemari pendingin.
"Sekarang waktunya bersiap. Akan kupastikan hari ini menjadi hari istimewa." gumamku berjalan meninggalkan dapur minimalis sebagai tempat menyalurkan hobi memasak ku.
Dua jam kemudian, penampilan rumahan ku berganti dengan penampilan anak muda pada umumnya. Hari ini senior mengajakku untuk bertemu di luar sekolah karena hari ini weekend.
"Jangan lupa coklat buatanku. Nah ini baru pas. Gaya ok, coklat pun sweet. Ayo Queen. Let's go." ucap ku meninggalkan rumah di pertigaan jalan Cendana.
Dengan ojek langganan, perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya terhenti di depan sebuah Cafe Louis. Cafe kekinian dengan gaya arsitektur eropa, ku langkahkan kakiku memasuki cafe. Mata ku mencari sosok yang katanya sudah menunggu didalam cafe.
"Queen, aku disini." seru seseorang dengan melambaikan tangan.
Dialah senior terpopuler di sekolah ku. Namanya HYUNGSIK. Dengan perasaan berbunga, aku menghampiri meja paling sudut dimana senior ku berada. "Maaf lama ka Hyun. Sudah lama kah?"
"Tidak.Ayo duduk. Aku ingin mengatakan hal penting." Hyun masih melirik jam di pergelangan tangannya.
Hatiku merasa tidak sabaran dengan apa yang akan ka Hyun katakan. "Ka, boleh aku bicara dulu sebelum kakak?"
"Boleh."
"Aku meny...."
Tak ... tak.. tak..
"Sayang maaf, aku terlambat. Daddy membuat ku tertahan di kantor." ucap seseorang yang memotong ucapan ku.
Sejurus mata ku menatap pemilik suara lembut dan mendayu. Bagaikan disambar petir. Wanita didepan ku adalah....
"De? Kamu kenal Hyun?" tanya Ka Lili menatap ku tak berkedip.
"Eh, iya ka. Ka Hyun kakak kelas ku. Maaf, aku masih ada janji dengan Monica. Ka, queen pergi dulu. Selamat makan." pamit ku tanpa mempedulikan apa tanggapan dari kedua insan itu.
Langkah ku mengabaikan panggilan ka Lili dan juga Hyun. Langit mendung dan hujan turun tanpa permisi. Di tengah jalan tanpa nyawa, ku ambil kotak coklat didalam tas selempang ku. Mataku menatap nanar, bagaimana bisa aku mencintai pria yang berkencan dengan kakak ku sendiri. Bahkan sikap Hyun terbilang cukup baik dan membuat hatiku meleleh. Atau selama ini Hyun tahu jika aku adik ka Lili? Aah bisa jadi.
"Aaarrggghhh..." teriakku didalam derasnya hujan.
Fiuuuh..... baaak....
Dengan sekuat tenaga ku lemparkan coklat pertama ku yang kubuat dengan penuh cinta.
*Aku tidak ingin jatuh cinta lagi! Jika cinta sesakit ini.* batin ku menatap langit nan gelap.