Dini hari, ketika suara adzan shubuh berkumandang. Aisyah belum juga terbangun dari tidurnya. Biasanya dia tepat waktu dalam melaksanakan ibadah sekalipun Sibuk menjalani hari.
Surau yang terletak di perkampungan wilayah bagian timur adalah tempat ibadah satu-satunya yang di bangun pada masa negara hijau sudah merdeka.
Tiba-tiba Aisyah terhentak dari tidur tanpa melihat jam dinding sudah menunjukkan waktu shubuh yang sudah selesai. Aisyah bersiap-siap mengambil air wudhu berlari membawa mukenah menuju surau. Karena terburu-buru nya dia tidak sadar memakai sendal yang berbeda.
Sesampainya di depan surau, dia baru membuka mata dengan sempurna dan menyadari bahwa langit sudah terang benderang. Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam musholla tertegun menatapnya. pandangan manik mata pria itu bertitik tumpu mengarahkan anak panah melihat kain putih yang tidak salah lagi adalah mukenah.
Aswad terdiam memperhatikan reaksi Aisyah kembali. Untuk mendinginkan suasana yang tegang itu, dia hanya melemparkan sebuah senyuman manis kepadanya.
"A, a, aku terlambat melaksanakan sholat shubuh" ucap Aisyah terbata.
"Matahari sudah terbit, apakah Aisyah kesiangan?" Tanya Aswad.
Wajah Aisyah seratus persen berwarna merah merona. Dia sangat malu, ini adalah aib pertama yang dia alami dan di lihat oleh orang yang dia suka. Aswad, pria Sholeh yang rajin mengaji dan mengumandangkan adzan.