-Apa kabar?-
Neina celingukan kebingungan melihat sekitarnya. Dirinya mendapat selembar kertas aneh yang bertuliskan tentang menanyakan kabarnya saat mengambil sepatu di rak sepatu perpustakaan.
"Apa-apaan sih? Iseng, ya? Orang aneh, nanyain kabar segala. Apa salah taruh, ya?" batin Neina dengan dahi berkerut melihat kertas ditangannya itu.
Neina ingin membuang kertas itu ke tempat sampah, tapi diurungkannya karena melihat seseorang yang dikenalnya keluar dari perpustakaan dan mengambil sepatu juga di rak sepatu.
"Kebetulan ada Danuar." batin Neina senang dan menghampirinya.
"Permisi, Danuar."
"Neina? Ada apa?" sahut Danuar yang sudah selesai memakai sepatunya.
"Apa kamu ada melihat orang aneh didekat rak sepatu tadi?"
"Orang aneh? Maksudnya?" tanya Danuar bingung.
"Gini, ada orang iseng yang menaruh ini disepatuku. Mungkin kamu tahu sesuatu?" tanya Neina lagi sambil memperlihatkan kertas itu pada Danuar.
Mengingat Danuar suka menjadi pengurus perpustakaan dan meja pengurus perpustakaan ada didekat jendela, tapi sayangnya agak jauh dari letak rak sepatu yang ada diluar perpustakaan.
"Maaf, aku sama sekali nggak tahu." jawab Danuar apa adanya.
"Oh begitu, ya?" sahut Neina agak kecewa.
"Tapi, paling nggak orang itu nggak nulis sesuatu yang aneh kan? Bisa jadi dia cuma ingin menghiburmu." ucap Danuar. Ditatapnya Neina sambil membetulkan letak kacamatanya.
"I-iya juga sih." sahut Neina, menggaruk-garuk kepalanya yang memakai hijab.
Neina dan Danuarpun sama-sama pergi meninggalkan perpustakaan, mengingat bel masuk akan segera berbunyi.
Terlihat banyak kerumunan siswi mengelilingi seorang siswa didepan kelas mereka, tapi tak mereka hiraukan. Danuar masuk kekelasnya dan Neina cepat-cepat masuk ke kelas yang ada disebelahnya.
Siswa yang dikerumuni itu bernama Harun dan baru pindah ke SMA ini beberapa hari yang lalu. Dia langsung populer karena tampan, pintar dan juga ramah. Sekelas dengan Danuar. Dan... aku sangat mengenalnya, karena Harun adalah...
Teng, teng...
Bel masuk berbunyi, kerumunan itupun bubar masuk ke kelas masing-masing dan tak lama kemudian gurupun datang.
Keesokan harinya, Neina mendapati kertas aneh itu lagi disepatunya setelah selesai dari perpustakaan. Disana tertulis:
-Kuharap kamu baik-baik saja-
Lagi-lagi Neina merasa aneh, bingung dan agak takut membacanya. Tapi entah kenapa ada perasaan senang juga dihatinya.
"Walaupun aneh, paling nggak ada seseorang yang mau menanyakan keadaanku." batinnya tersenyum dan menyimpan kertas itu di kantong seragamnya.
Keesokan harinya, ada kertas lagi dan tertulis:
-Untuk Neina, tetap semangat, ya...❤-
"Pft, ada gambar hatinya juga." ucap Neina menahan tawa. Lalu pergi meninggalkan perpustakaan untuk kembali kekelasnya. Saat sampai didepan kelas, ada seseorang yang menyapanya.
"Hai, Neina." ternyata orang itu adalah Harun.
Neina hanya menyahut seadanya dan cepat-cepat masuk ke dalam kelas.
"Hei, kamu ngomong apa tadi sama Harun?" Sofia yang sekelas dengan Neina bertanya dengan sangar.
"D-dia tadi cuma menyapaku saja." sahut Neina takut.
"Oh... Emang sih, Harun kan orangnya ramah jadi memang suka menyapa orang." ucap Sofia berpikir.
"Tapi, bukan berarti dia menyapamu, kamu jangan berharap bisa dekat-dekat dengannya. Mengerti?" tanya Sofia garang. Neina mengangguk dengan takut-takut, Sofia tertawa senang melihatnya.
Sofia, pembully yang suka membully siswa siswi di sekolah kalau menurutnya orang itu tak sesuai dengan seleranya. Termasuk aku juga pastinya. Dan tak ada yang bisa melawannya.
Makanya, setiap jam istirahat aku selalu pergi ke perpus sebagai pelarian untuk menghindarinya. Dia selama ini selalu berusaha mendekati Harun untuk mendapatkan hatinya. Dia pasti tak akan membiarkan siswi lain dekat-dekat dengan Harun. Walaupun hanya sekedar menyapa saja, orang itu pasti akan dibullynya.
Pulang sekolah...
"Neina...!" teriak seseorang menghentikan langkah Neina.
"Harun?" kaget Neina dan langsung mempercepat langkah kakinya.
"Neina, tunggu. Aku mau bicara denganmu." ucap Harun, menarik tas ransel Neina.
"Kamu kenapa suka mengabaikan aku terus sih? Padahal kita sudah berteman sejak kecil. Tapi, semenjak aku pindah waktu lulus SD dan bersekolah lagi ditempat ini, kamu jadi berubah dan selalu menghindariku. Saat aku pindah kesini, kamu pasti mengenali aku kan? Asal kamu tahu, aku sempat bingung mencarimu disekolah selama ini. Aku hampir nggak mengenalimu gara-gara kamu sekarang memakai hijab. Kenapa, Neina? Kalau ada sesuatu, cerita sama aku." ucap Harun berkeluh kesah panjang.
"M-maafkan aku. Tapi, waktu sudah lama berlalu, Harun. Yang dulunya kita berteman, belum tentu kita akan seperti dulu lagi. Dan mulai sekarang, kumohon kamu jangan dekat-dekat apalagi terlihat akrab denganku." ucap Neina.
"Tapi, aku kan temanmu. Ada apa, Nei? Apa... jangan-jangan karena aku dekat dengan Sofia?"
"Pokoknya jangan terlihat akrab denganku. Aku nggak mau kamu jadi terlibat masalah gara-gara aku." ucap Neina. Dia jadi teringat dengan ancaman Sofia.
Neina pergi meninggalkan Harun sendirian.
"Sebenarnya gara-gara akulah kamu jadi punya masalah kan, Neina? Karena aku jarak kita jadi semakin jauh lagi." ucap Harun sedih menatap Neina yang berlari menjauh.
Keesokan harinya, Sofia lagi-lagi berulah dan mengganggu siswa siswi bahkan sampai mengganggu Neina tanpa alasan yang jelas.
Dan sebagai pelariannya, Neina akan selalu datang keperpustakaan sampai jam istirahat selesai. Dan selembar kertas misterius tanpa nama itu selalu menjadi hal yang paling ditunggunya. Seolah seseorang itu ingin menghibur dirinya yang sedang bersedih.
"Kenapa isi tulisannya selalu singkat begini, ya? Kenapa nggak sekalian saja ditulis semua dalam satu lembar? Ini maksudnya surat apaan coba? Dasar aneh. Tapi, kenapa selama ini aku tak pernah sekalipun melihat orang yang menaruh surat ini? Padahal perpus ini jarang dan sangat sedikit sekali orang yang datang. Pastinya aku ada melihat orang itu kan? Apa jangan-jangan orang itu menaruhnya disaat aku sedang lengah, ya?" batin Neina berpikir.
"Apa jangan-jangan yang menaruh ini Danuar? Karena dia pengurus perpus jadi pastinya tahu disaat aku lengah dan menaruh surat ini disepatuku dan dia tinggal pura-pura tak tahu menahu saja kan... Tapi, buat apa dia ngelakuin itu coba? Kami kan nggak begitu akrab." batin Neina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
-Curahkan saja semua kesedihanmu pada hal yang kamu sukai. Pasti kesedihanmu akan berkurang-
"Menantikan dan membaca surat ini saja sudah membuat sedihku hilang kok." batin Neina tersenyum membaca surat itu lagi.
"Tapi, kenapa aku tiba-tiba jadi teringat dengan Harun, ya?" batin Neina bingung.
Keesokan harinya, ada surat lagi dan hari-hari seterusnya juga sama. Neina selalu terhibur berkat surat aneh tak bernama itu.
Dan selama beberapa hari itu, Neina juga jadi mengetahui kalau saat pulang sekolah ternyata Harun diam-diam selalu mengikutinya, seolah-olah melindungi untuk mengantarnya pulang ke rumah.
"Huh, sebenarnya apa yang dipikirkan Harun sih? Dia nggak mau aku menjauhinya, tapi kenapa dia masih dekat dengan Sofia dan membiarkan Sofia akrab dengannya?" batin Neina sebal, sesekali melirik Harun yang diam-diam berjalan tak jauh dibelakangnya. Saat Neina sudah sampai rumah, Harunpun berbalik ke arah rumahnya.
Sampai pada suatu hari, jam istirahat diperpustakaan...
"Aku masih penasaran dengan sosok yang suka mengirimiku surat itu. Seperti apa ya dia? Terus kapan datangnya nih?" ucap Neina menunggu ditempat persembunyiannya dengan tak sabaran.
"Sedang apa?"
"Eh? D-Danuar?" kaget Neina melihat Danuar yang tiba-tiba ada dibelakangnya.
"Anu... itu... kamu masih ingat kan dengan surat aneh yang aku tunjukin dulu?" tanya Neina, Danuar mengangguk.
"Orang itu masih mengirimiku surat, jadi karena penasaran aku bertekad untuk mengetahui siapa orang itu dengan menjebaknya." ucap Neina berapi-api.
Tanpa sadar Danuar melihat kaki Neina yang nyeker, tidak memakai apa-apa karena sepatunya sengaja ditaruhnya di rak sepatu perpustakaan untuk menjebak orang aneh itu.
"Mau coba saran dariku?" tawar Danuar tiba-tiba dan membisikkan rencananya.
"Eh? Iya juga, kenapa nggak kepikiran begitu ya dari tadi?" entah kenapa Neina terlihat tertarik.
Tak lama kemudian...
"Dia datang!" bisik Neina memberitahu Danuar.
"Psst... " Danuar mengisyaratkan Neina untuk tak berisik.
Terlihat seseorang berjalan keperpustakaan, orang itu memakai topi dan jaket hoodie, jadi tak terlihat jelas wajah orang itu.
"Eh? Loh? Sepatunya nggak ada? Aneh, seharusnya dia ada di perpus kan?" ucap orang itu kebingungan sambil mengintip ke dalam perpustakaan dari jendela kaca.
"Kena kamu!" teriak Neina dan Harun senang, mencengkeram kedua tangan orang itu.
"H-Harun?" kaget Neina saat menyikap topi yang ternyata wajah dibalik topi itu adalah Harun. Harun terlihat salah tingkah.
"Jadi, selama ini kamu orangnya?" tanya Neina, Harun mengangguk mengiyakan.
"Kenapa?"
"Habisnya selama ini kamu selalu menghindar dan nggak mau bicara denganku. Aku juga tahu kenapa kamu menjaga jarak denganku karena kamu takut bakalan dibully Sofia kan? Jadinya aku membuat surat-surat itu untukmu. Soalnya, aku sangat rindu masa-masa kita akrab seperti dulu. Karena itu aku mau membantumu." ucap Harun.
"Membantuku? Maksudmu bagaimana?" tanya Neina bingung. Harun hanya tersenyum tak menjawab.
"Oh iya. Ini, surat ke-14. Surat yang terakhir." ucap Harun tersenyum, memberikan selembar surat pada Neina.
"Terakhir? Harun, kamu kenapa menulis surat pendek-pendek begini sih?" tanya Neina bingung.
"Ehem, aku hanya ingin membuat kesan beda aja sih. Terus, itu bukan surat biasa, itu sebenarnya surat cinta." ucap Harun malu-malu dengan wajah memerah.
"S-surat cinta? Dari mananya?" tanya Neina kaget.
Teng, teng...
Mereka bertiga kaget karena tak sadar bel masuk tiba-tiba berbunyi.
"Sudah bel masuk. Aku duluan, ya." pamit Harun kikuk, berlari pergi meninggalkan Neina dan Danuar yang masih bengong.
"Setidaknya misteri tentang 'orang aneh' itu sudah selesai kan." ucap Danuar menyadarkan Neina.
"Oh, iya juga. Danuar, makasih ya atas bantuanmu tadi. Aku malah jadi merepotkanmu juga." ucap Neina serba salah.
"Nggak papa. Kan aku sendiri yang mau membantumu." ucap Danuar maklum.
Di rumah Neina...
"Hm... Surat cinta dari mananya coba?" tanya Neina bingung pada dirinya sendiri melihat surat-surat yang disusunnya sesuai dengan urutan hari itu diatas tempat tidur. Tapi, tak ada kata-kata cinta yang tertulis disana.
"Oh, apa jangan-jangan..."
Neina tiba-tiba menaruh surat hari kedua diatas surat pertama, surat ketiga diatas surat kedua dan seterusnya sampai surat ke-14 dengan menyisakan satu huruf depan masing-masing surat. Maka terbacalah sebuah kalimat:
AKU CINTA PADAMU
"I-ini... benar-benar surat cinta." baca Neina sambil menutup wajahnya yang tiba-tiba memanas.
"Dasar, Harun. Dari dulu masih saja suka bikin teka-teki kayak gini." ucap Neina tersipu.
Keesokan harinya, seisi kelas heboh menceritakan tentang Sofia yang pindah sekolah secara tiba-tiba.
Jam istirahat, diperpustakaan, Neina dan Harun duduk berseberangan di satu meja.
"Jadi, gara-gara kamu Sofia jadi pindah sekolah?" tanya Neina kaget.
"Iya, soalnya aku kaget dengar kamu juga dibully sama Sofia. Makanya aku pura-pura dekat dengannya supaya bisa mengumpulkan bukti kelakuannya selama ini dan membuatnya mau mengakuinya. Lalu aku menyebar semua itu ke internet." ucap Harun tersenyum puas.
"I-itu terlalu berlebihan. Kenapa kamu melakukan itu demi aku?"
"Neina, kamu itu orang yang penting bagiku. Aku nggak terima kalau kamu diperlakukan begitu olehnya. Lagian, anggap saja semua itu jadi pembelajaran buat Sofia." ucap Harun tegas.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah percaya kalau surat-surat itu surat cinta?" tanya Harun mengalihkan topik.
"I-iya, itu surat cinta." sahut Neina malu.
"Aku suka kamu." ucap Harun.
Hening...
Harun melirik Neina, tak sabar dengan tanggapannya Neina.
"A-aku juga suka kamu." ucap Neina malu-malu. Harun tersenyum senang.
"Tapi, kenapa kamu tiba-tiba suka padaku? Padahal dulu kita menganggap kalau kita cuma teman."
"Tapi nggak bagiku. Sebenarnya aku sudah suka kamu sejak dulu. Dan Neina, walaupun kita nggak bisa lagi dekat sebagai teman, paling nggak kita bisa dekat sebagai pacar kan?" ucap Harun tersenyum. Neina tersipu malu.
"Hei, kalian berdua, jangan berisik diperpustakaan." ucap Danuar kesal dari meja pengurus perpustakaan.
"Ehehe... Maaf." sahut Harun terkekeh. Neina menutup wajahnya malu.
-TAMAT-