Bengkalis 1986 akhir.
“Ceraikan aku !!!”, seru Siti Zahroh sambil melempar semua isi lemari pakaian ke arah suaminya. Magrib itu di kediaman sederhana milik Ahmad Maulidan terdengar keributan di dalam kamar utama. Siti Zahroh yang belum genap 40 hari melahirkan anaknya yang ke 11 melampiaskan kemarahan pada suaminya. Sang suami yang ketauan main gila dan telah menikah lagi dengan seorang PNS di kota Pekanbaru, hanya terdiam pasrah. Anak ke 9 mereka, yang baru berusia 6,5 tahun, Aqil Anshari terdiam tak mengerti menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Anak ke 10, yang masih berusia 4,5 tahun Aisyah Farhanah ikut kakak-kakaknya ke surau untuk mengaji. Si bungsu Akhdan Ziyad, yang masih merah, tidur nyaman di ayunan.
Adalah Ahmad Maulidan, seorang pekerja serabutan yang memiliki kharisma pemimpin yang luar biasa di kampungnya, sebuah desa kecil di kabupaten Bengkalis. Selain bekerja serabutan, ia juga seorang penceramah dan imam mesjid. Kebanyakan hari-harinya diisi dengan berkumpul dengan sejumlah warga di kedai kopi untuk menampung keluhan masyarakat, dari pagi sampai malam. Untuk kebutuhan sehari-hari, Siti Zahroh bekerja menoreh getah (menyadap getah karet), dan menjual baju-baju bekas yang datang dari negara tetangga. Kalau dibilang memprihatinkan ya begitulah. Tapi hidup harus terus berjalan. Siti Zahroh tanpa mengeluh melakukan perannya sebagai istri dan ibu dari 11 orang anak. Tak pernah ia menampakkan muka masam ketika sang suami pulang malam tanpa membawa apa-apa. Anak-anak yang ditinggal bekerja oleh ibu mereka, tak jarang menahan lapar. Untuk mengganjal perut, sembari menunggu ibu mereka pulang bekerja, anak-anak berinisiatif meminta ubi kepada tetangga yang juga masih ada hubungan kekerabatan dengan mereka. Kalau ada hasil kebun mereka berupa buah durian dan buah manggis, selain bisa untuk mereka makan, sebagian di jual yang hasilnya bisa digunakan untuk hidup sehari-hari.
Sementara bagi anak-anaknya, Ahmad Maulidan adalah sosok ayah yang keras dan otoriter. Sangat jarang ada senda gurau dan tawa di rumah itu, jika sang ayah ada di rumah. Pernah pada suatu ketika Anak pertama mereka Abdillah abqari merasakan kerasnya didikan sang ayah. Ia yang pada waktu itu masih berusia 12 tahun diikat sang ayah di batang pohon durian yang berada di belakang rumah mereka. Sambil dipukul dengan sebilah rotan. Hanya karena ia pergi bermain bersama teman-temannya tanpa izin. Dalam hal mengajar mengaji pun Ahmad Maulidan sangatlah keras. Bibir berdarah dan sabetan rotan adalah hal yang biasa, jika anak-anaknya ada yang salah dalam melafalkan huruf dan bacaan.
Sangat berbanding terbalik dengan sosoknya dimasyarakat. Seorang tokoh yang sangat berwibawa dan disegani.
Kehidupan ekonomi keluarga keluarga pun banyak ditopang sang istri. Sesekali Akhmad Maulidan berangkat berlayar ke Malaysia untuk menjual kelapa, getah karet dan biji pinang. Pulang dengan membawa hasil yang lumayan buat keluarganya.
Semenjak sang suami naik sebagai wakil rakyat, kehidupan berangsur membaik. Namun demikian, Siti Zahroh tak pernah berhenti melakukan rutinitasnya sehari-hari. Menoreh getah (menyadap getah karet) dan berjualan pakaian bekas.
***
Tahun itu adalah periode kedua Ahmad Maulidan menjabat sebagai wakil rakyat. Dengan bekal gaji yang diperolehnya selama 1 periode menjabat anggota dewan daerah, Ahmad Maulidan bisa membeli vespa tipe 50S keluaran tahun 1963. Walau demikian, vespa itu tetaplah kendaraan paling keren di desanya pada waktu itu. Dan pada periode kedua ini pula, entah mengapa, Ahmad Maulidan melakukan kesalahan fatal terhadap istri dan anak-anaknya. Karena terlalu sering melakukan dinas ke ibukota provinsi, ia tertarik dengan seorang janda 1 orang anak yang bermukim di sana. Berita main gilanya sampai juga ke telinga sang istri Siti Zahroh.
Maka begitulah, pertengkaran magrib itu terjadi.
Beberapa hari kemudian pada suatu pagi, matahari sudah menampakkan dirinya. Kicau burung bersahutan di balik rimbunnya dedaunan. Semilir angin bertiup lembut. Ranting muda daun pohon manggis dan durian menari indah mengikuti irama angin. Di bawah pohon durian besar yang ada di belakang rumah, Suhaila Ulya anak ke 4 Ahmad Maulidan sedang memakaikan pakaian rapi ke adiknya Aqil anshari. Memakaikan celana jeans panjang dan kemeja kotak-kotak berwarna biru muda, mengganti pakaian rumahan sang adik. “Nak ke mano, Kak” (mau ke mana kak), tanya Aqil.
“Aqil, ikut Ayah yo. Ayah nak ajak Aqil ke paso” (Aqil ikut Ayah ya, Ayah mau ajak Aqil ke pasar), kata Suhaila.
“Ke paso? Iyo Kak?..” (ke pasar, iya kak? ) tanya Aqil lagi. “Iyo” jawab Suhaila. Setelah selesai mengganti pakaian Aqil, Suhaila buru-buru menuntun adiknya itu, dan berjalan cepat menyusuri kebun durian yang ada di belakang rumah mereka, berputar ke samping rumah. Suasana rumah terlihat sepi. Sang Ayah telah menunggu di tepi jalan di depan rumah. Suhaila menyerahkan Aqil kepada sang ayah.
“Aman?” tanya sang ayah pada Suhaila. “Aman Yah “ jawab Suhaila. “Ayah beghangkat ye. Ingat cakap Ayah semalam “ (ayah pergi dulu. Ingat pesan Ayah tadi malam). “Iyo Yah. Hati-hati di jalan”, ucap Suhaila. Ahmad Maulidan mengambil Aqil dan menaikkan ke atas becak kayuh yang telah menunggu mereka. Becak melaju berlahan menuju pasar. Setelah membayar ongkos becak, Ahmad mengajak sang anak makan di sebuah warung kecil. Ahmad memesan 2 piring mie kuah kacang, segelas milo susu untuk putranya, dan secangkir kopi panas untuk dirinya. Aqil yang memang belum sarapan, makan dengan lahap. Setelah makan, Ahmad mengajak putranya ke pelabuhan yang tak jauh dari pasar, dengan berjalan kaki sambil mengenggam tangan sang putra, memasuki kawasan pelabuhan yang terlihat ramai dengan hiruk pikuk lalu lalang penumpang dan aktifitas bongkar muat barang kebutuhan harian warga.
Sesampai di pelabuhan, Ahmad menuju loket untuk membeli tiket kapal. “Kito nak kemano Yah?” (kita mau kemana Yah?) tanya Aqil polos. “Aqil belum pernah ke Pekan kan?” tanya Ahmad pada putranya. “ Belum Yah “ jawab Aqil. “ Nah, kito nak ke Pekan. Aqil kaghang bisa tengok pesawat, bepusing keliling kota” (Nah kita akan ke Pekanbaru. Nanti Aqil bisa liat pesawat, jalan-jalan keliling kota). “Pesawat?” Aqil menggumam dengan mata berbinar. “Iyo.. Aqil pasti suko “. Bujuk sang ayah. “Tapi Yah, Mak tak tau Aqil pegi “ kata Aqil ragu. “ Mak dah tau. Tadi Ayah dah cakap samo Mak kau. Usah ghisau” (Mak sudah tau. Tadi Ayah sudah bilang dengan Mak. Jangan risau). Aqil hanya diam mendengar perkataan ayahnya. “ Jom... Kito naik kapal“ (Ayo kita naik kapal ). Ahmad menuntun putra kecilnya berjalan menuju kapal. Aqil terkagum-kagum begitu menaiki kapal kayu yang berukuran besar itu. Kapal angkut penumpang yang akan membawa mereka menuju ibukota provinsi.
***
Tak lama setelah kepergian Aqil, Siti Zahroh pulang dari kebun karet. Berniat membersihkan diri, ia tiba-tiba teringat akan putra ke 9 nya yang belum keliatan batang hidungnya.
“Aqil...” panggil Siti. Tidak ada sahutan. “Aqil... “ panggilnya lagi. Siti mencari ke sekeliling rumah. Bolak balik dengan paniknya.
“ Aqil mano Nak..” tanya Siti pada anak-anaknya yang ada di ruang tengah. Tak ada seorangpun yang menjawab. Anak ke 6 nya yang baru pulang dari mencari daun pakis pun bingung. Siti dengan di bantu anak ke 3 dan ke 6 nya mencari berulang ke belakang, samping, depan rumah, dalam kamar sampai memanggil ke arah kebun durian. Namun yang dicari tidak kunjung terlihat. Maka pecahlah tangis Siti.
"Aqil ilang..” ratap Siti. Berlahan tubuh ringkihnya melorot ke lantai dapur yang dingin.
***
Jam 12 siang, kapal Mulia Kencana Ekspres yang katanya ekspres, meninggalkan pelabuhan Bengkalis menuju Pekanbaru. Kapal kayu dengan bobot besar itu, melaju berlahan membelah selat Bengkalis. Angin laut menyapa wajah kecil Aqil. Dengan mata berbinar, ia memandangi luasnya hamparan air.
Rasa bahagia dan senang memenuhi relung hatinya. Bahagia sebab ini kali pertama dia pergi bersama ayahnya menaiki kapal.
“Aqil, jom masuk dalam. Kaghang masuk angin “ (Aqil, ayo masuk ke dalam kapal, nanti masuk angin) ajak Ahmad pada putra nya. Mereka berada di dek belakang kapal. Aqil yang memintanya ke sana. “Kejap lagi Yah “ ( Sebentar lagi, Yah) pinta Aqil.
Ahmad membiarkan putranya menikmati angin laut beberapa saat. Ketika hari mulai gelap, Aqil di ajak masuk ke dalam kapal.
Malam sudah merangkak naik. Kapal legendaris itu berlahan membelah selat bengkalis menuju sungai Siak. Sungai yang pada waktu itu disebut sebagai sungai terdalam di Indonesia yang kedalamannya mencapai 30 meter.
Pukul 12 malam, kapal merapat di pelabuhan sungai duku Pekanbaru. Aqil yang telah tertidur, di gendong ayahnya turun dari kapal.
Begitu turun dari kapal, suasana ramai pun terlihat. Ratusan penumpang dengan tujuan yang sama turun dari kapal dengan teratur. Raut lelah dan kantuk terukir di wajah mereka masing-masing.
***
Kepergian Aqil ke Pekanbaru, ternyata awal dari penderitaan panjangnya. Ibu tiri yang seharusnya memberikan perlindungan dan kasih sayang, ternyata lebih kejam dari ibukota provinsi.
Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja.
Jika ayah di sampingku, ku dipuja dan dimanja.
Tapi bila ayah pergi, ku dinista dan dicaci...
Sepenggal lirik lagu lawas di atas bisa menggambarkan bagaimana penderitaan Aqil selama ikut ayahnya.
***
Nasib Perantau
(Oesman Bengkalis)
Oh bunda... Izinkan ku merantau
Merantau jauh ke negeri seberang
Kalaulah untung nasib di rantau
Dapat menumpang di negeri orang
Kapal berlayar...
Kapal berlayar jauh ke laut dalam
Berlayar hingga...
Aduhai sayang hari berhari
Tinggallah kampung...
Tinggallah kampung tinggal halaman
Kota Bengkalis sayang...
Kota Bengkalis tak tampak lagi
Reff :
Dilambung ombak hamba rasakan
Ditimang-timang belaian gelombang
Hamba bertolak bunda berpesan
Janganlah lama Nak...di rantau orang
Hari pun petang...
Hari pun petang duduk termenung
Mata berlinang aduhai nasib dihati risau
Kalaulah untung....
Kalaulah untung balik ke kampung
Jikalau tidak sayang
Jikalau tidak mati di rantau.
...