Dalam sebuah desa hiduplah seorang gadis bernama Mawar. Parasnya yg cantik menjadikannya wanita yg sombong. Tutur katanya yg kasar, kerap menyakiti orang lain. Pada suatu hari, ada seorang laki-laki datang bersama neneknya yg bernama Sadinah. Ia berniat melamar Mawar. "Nak Mawar.. maksud kedatangan saya kemari hendak melamar nak Mawar untuk menjadi istri Andi" kata Sadinah. "Hai nenek tua. Apa yg kau katakan tadi? Kau ingin melamarku? Hahaha yg benar saja kamu. Lihatlah cucumu yg jelek itu. Kulitnya hitam. Tubuhnya pendek. Pakaiannya kumal. Belum lagi kamu. Udah tua. Punggung bungkuk. Kulit keriput. Gigi ompong. Rambut putih penuh uban. Ditambah lagi kalian miskin. Kalian itu tidak sepadan dgku. Aku tidak mau menikah dgnya." Jawab Mawar sambil menunjuk kearah Andi. "Baiklah.. jika kamu tidak mau aku akan pergi dari sini." Nek Sadinahpun bersama Andi segera melangkahkan kakinya menjauh dari rumah Mawar. Namun tiba-tiba saja Mawar mengambil tongkat nek Sadinah yg langsung membuatnya tersungkur. "Hahaha.. Berjalan sendiri aja gak mampu. Gitu kok mau ngelamarin aku buat cucumu" terdengar tawa Mawar sambil memegang tongkat ditangannya. Andipun sangat marah pada Mawar "hai Mawar.. kenapa kamu kasar sekali dg nenekku. Apa salahnya padamu?" Tanya Andi yg berusaha memapah tubuh neneknya. "Salahnya dia berani kesini melamarku untukmu. Aku tidak suka itu." Jawab Mawar. "Ternyata wajahmu saja yg cantik. Tapi hatimu penuh duri. Cepat kembalikan tongkat nenekku." Pinta Andi. "Ini ambil saja tongkat tidak berguna ini. Dasar nenek tua miskin." Mawar melempar tongkat itu kearah nek Sadinah dan mengenai kepalanya. Hal itu membuat nek Sadinah sedih. "Nak.. kenapa sikapmu seperti ini kepada kami. Apa kamu tidak tau betapa Andi mencintaimu. Dia bahkan rela menggendong nenek saat lelah berjalan hanya demi melamarmu. Tapi apa yg kami dapatkan? Justru kamu menghina kami. Bahkan berani menyiksaku. Aku tidak terima dg semua ini. Aku akan mengutukmu menjadi wanita tua sepertiku. Dan kutukan itu akan hilang jika ada laki-laki yg mau menikahimu dg tulus." Nenek Sadinah kemudian mengarahkan tongkatnya kearah Mawar. Tiba-tiba ada kilatan cahaya yg memancar dari tongkat itu. Dan seketika Mawar berubah menjadi wanita tua. Rambutnya yg panjang terurai, seketika berubah menjadi putih. Kulitnya keriput. Badannya yg tinggi semampai seketika membungkuk. Namun kejadian itu tak mampu mengetuk hati Mawar. "Hai nenek tua, kamu fikir dg perkataanmu itu aku akan memohon kepada cucumu untuk menikah dgku. Tidak akan. Aku akan datang kepada dukun sakti didesa sebelah. Dia akan membebaskanku dari kutukanmu. Aku akan cantik lagi dan menikah dg pria yg tampan dan kaya." Kata Mawar dg sombongnya. Nek Sadinah dan Andi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Mawar.
Hari demi hari telah berlalu. Namun Mawar belum bisa lepas dari kutukan itu. Berbagai dukun telah didatangi. Namun tidak ada satu dukunpun yg mampu menghilangkan kutukan itu. Dalam lelahnya dia berfikir untuk melakukan sayembara. Siapapun yg mau menikahinya dan mampu membuatnya cantik lagi, akan diberikan semua hartanya. Mamun hal itu juga gagal. Ditenggah keputusasaannya dia berniat mencari Andi dan nek Sadinah untuk meminta maaf. Perjalanan yg jauh ditempuhnya dg berjalan kaki. Hal itu membuat tubuhnya yg tua semakin lemah. Tak terasa air matanya luruh begitu saja. "Ya Tuhan.. ampunilah aku.. Sifat sombongku telah menyakiti hati banyak orang. Terutama nek Sadinah. Ternyata perjalanan menuju rumahku sungguh melelahkan bagi seseorang yg telah menua. Aku akan datang meminta maaf kepada nek Sadinah dan cucunya. Walaupun mungkin cinta Andi telah berubah benci kepadaku, tp aku akan tetap berjuang."
Setelah seharian berjalan dan beberapa kali istirahat, sampailah Mawar pada sebuah rumah kecil dipinggiran desa. Kata penduduk desa, itu adalah rumah nek Sadinah. Dengan hati yg diselimuti rasa takut, Mawar memberanikan diri mengetuk pintu nek Sadinah
Tok tok tok "permisi.. nek Sadinah"
"Ya.. tunggu sebentar" terdengar jawaban seseorang dari dalam. "Silahkan masuk" terlihat Andi membukakan pintu. "Kamu? Ngapain kesini? Kenapa rambutmu masih saja putih? Dan lagi kulitmu jg masih keriput. Apa kamu tidak bisa menemukan dukun yg membuatmu cantik lagi?" Kata Andi ditengah kekagetannya. "Tuan.. aku kesini ingin meminta maaf kepada tuan dan nek Sadinah. Aku sungguh menyesali semua perbuatanku. Sekarang izinkan aku untuk bertemu nenekmu" pinta Mawar. "Apa kamu bersungguh-sungguh dg ucapanmu? Nenek sedang sakit. Aku tak ingin engkau menyelakainya lagi." Jawab Andi sinis. "Aku sungguh-sungguh minta maaf tuan. Izinkan aku bertemu nenekmu. Sebentar saja.. Setelah itu kau boleh mengusirku." Jawab Mawar. "Ya sudah.. ayo masuk". Andipun mempersilahkan Mawar masuk.
Melihat keadaan nek Sadinah yg terbaring sakit, Mawar segera mendekat, bersimpuh disamping pembaringan nenek. "Nek.. maafkan semua sikap Mawar yg menyakiti hati nenek.. Sekarang Mawar tau bagaimana susahnya menjadi tua. Sekarang semua lelaki tak ada lagi yg mau menikahiku. Rambutku yg panjang tak ada lagi yg mau memujinya karena beruban. Kulitku yg putih tiada lagi yg mau menyentuhnya karena keriput. Aku sungguh minta maaf nek.. ternyata tiada dukun yg mampu mengembalikan kecantikanku. Hanya kata maaf dari nenek yg aku tunggu." Kata Mawar sambil berlinang air mata. "Baiklah.. aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat." Bukan nek Sadinah yg menjawab tetapi Andi. "Apapun syaratnya aku bersedia. Asalkan aku mendapatkan maaf dari kalian." Jawab Mawar "Baiklah.. aku ingin kau merawat nenekku sampai sembuh."
"Baik tuan.. saya akan melakukannya." Jawab Mawar.
Sejak hari itu Mawar terlihat bersungguh-sungguh merawat nek Sadinah. Setiap pagi sebelum yg lain bangun dia telah sibuk mempersiapkan sarapan. Mencuci pakaian Andi dan nek Sadinah. Membersihkan rumah. Setelah nek Sadinah bangun diapun tanpa ragu melayani semua keperluan nek Sadinah. Termasuk mengantarnya kekamar mandi. Tubuh Mawar yg menua membuatnya sering terlihat letih. Hal itulah yg membuat Andi kembali bersimpati kepadanya.
Berbulan-bulan berlalu, dan kesehatan nek Sadinah semakin membaik. "Nak Mawar.. Nenek sekarang sudah sembuh.. terima kasih karena engkau telah mau merawat nenek tua yg miskin ini. Akan aku terima maafmu." Kata nek Sadinah. "Terima kasih nek.. Nenek sudah mau memaafkan semua kesalahan Mawar. Kalau begitu besok pagi-pagi Mawar akan pulang" Kata Mawar. "Siapa yg mengizinkanmu pulang?" Tiba-tiba Andi datang menghampiri mereka. Wajah Mawar kembali sedih mendengar perkataan Andi. "Nak.. Apa yg kamu katakan. Bukannya kamu telah berjanji kepada Mawar setelah dia merawatku kau akan memaafkannya. Kenapa sekarang kau mengingkari janjimu nak." Kata nek Sadinah penuh kekecewaan. "Kata siapa aku tak memperbolehkannya pulang karena belum memaafkannya. Justru aku tak ingin dia pulang karena aku ingin menikahinya nek.." Jawab Andi yg dibalas senyuman oleh nek Sadinah. "Sekarang apakah kamu mau menikah dgku yg jelek dan miskin ini?" Tanya Andi kepada Mawar "Lalu bagaimana jika kutukan ini akan membuatku terlihat tua selamanya?" Tanya Mawar. "Bukankah nantinya aku juga akan menjadi tua sepertimu?" "Dulu aku ingin menikah dgmu memang karena parasmu yg cantik. Tapi sekarang tidak lagi. Aku jatuh cinta kepadamu karena kebaikan hatimu. Jadi entah nanti kamu berubah menjadi cantik lagi atau tetap tua. Aku akan tetap mencintaimu" kata Andi.
Keesokan harinya Mawar pulang kerumahnya dg hati yg gembira. Dibelakangnya terlihat Andi dan rombongannya yg bersiap melakukan akad nikah. Merekapun menikah dirumah Mawar.
Akad nikahpun dilaksanakan. "Saya terima nikahnya Mawar bin Santoso dg mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai." Air mata Mawar meleleh begitu saja. Dia kemudian mengecup punggung tangan Andi dg takzim. Kemudian Andi mengecup ubun-ubunnya. Namun keajaiban tak kunjung terjadi. Mawar masih saja dg tubuhnya yg tua. Membuat hatinya semakin sedih. "Mawar maafkan aku. Ternyata cintaku tak cukup tulus untuk mengembalikan kecantikanmu." Kata Andi dg raut wajah yg tak kalah sedih. "Jangan bersedih cucuku.. Mawar akan kembali cantik ketika kalian sudah benar-benar saling memiliki." Kata nek Sadinah. Akhirnya mereka menyalami para tamu undangan dg keadaan pengantin wanita yg berambut putih. Walau banyak para tamu yg mencela mereka. Namun Andi tetap tersenyum. Berharap keajaiban itu benar adanya.