SEDANG BELAJAR
HOOEEK!!!.... Hah!!... Hah!!...
Haaahh.... Lambungku kembali terasa kosong tapi kepalaku tidak. Dadaku juga masih terasa berat.
Harapan untuk menjadi idiot setelah menelan alkohol dan membayar mahal tidak tercapai.
Menghisap gulungan tembakau membuat semua hal kembali cerah dalam ingatan. Mungkin dalam hidup memang tidak ada hal yang benar-benar perlu dilupakan.
Setelah beberapa saat, seseorang belajar perbedaan halus antara memegang tangan dan merantai jiwa, dan seseorang belajar bahwa cinta tidak berarti berbaring dan teman tidak berarti keamanan, dan seseorang mulai belajar ... Aku, aku mulai belajar.
Huuuuffftt..... asap mengepul.
Aku mulai belajar bahwa ciuman itu bukan kontrak dan hadiah bukan janji, dan aku mulai menerima kekalahanku dengan kepala tegak dan mata terbuka.
Dan aku belajar membangun semua jalanku hari ini, karena medan besok terlalu tidak aman untuk direncanakan... dan masa depan memiliki cara berantakan di tengah.
KEPALA SIALAN!!! BERHENTI BERPIKIR ATAU AKU AKAN MELEDAKKANMU!!! Huft.... huft... huft.....
Aku... aku akan mati atau menjadi gila. Tidak, tiiiidak... aku tidak mau, tidak! Aku telah belajar.
Setelah beberapa saat aku belajar, aku mengerti jika terlalu banyak, bahkan panas matahari akan membakar.
Jadi, aku menanam kebunku sendiri dan menghias jiwaku sendiri, daripada menunggu seseorang membawakanku bunga.
Dan aku belajar bahwa aku benar-benar dapat bertahan, bahwa aku benar-benar kuat, bahwa aku benar-benar berharga, dan aku belajar dan aku belajar... dan setiap hari aku belajar.
Seiring waktu aku belajar bahwa bersama seseorang karena mereka menawarkan masa depan yang indah berarti bahwa cepat atau lambat aku akan berkeinginan kembali ke masa laluku.
TEMANKU.... HEYYYY!!!! DENGARKAN,... dengarkan ini!
Ini adalah serangkaian kalimat yang ingin aku lempar ke wajah temanku seperti sebuah sendal jepit karet.
Kau pernah berkata bahwa seiring waktu kau mengerti bahwa hanya seseorang yang mampu mencintaimu dengan kekuranganmu, tanpa berusaha mengubahmu, yang bisa memberimu semua kebahagiaan yang kamu inginkan.
Teman, naif... sungguh naif. Kata-katamu itu akan menelan seluruh kebijaksanaan yang ada.
Kenapa, kenapa kau tidak ingin seseorang mencintaimu dengan kecerdasan?
Aku berharap semoga lama kelamaan kau sadar bahwa jika kau berada di samping orang itu hanya untuk menemani kesepianmu, mau tidak mau kau pada akhirnya tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Sekian nasihatku untukmu.
Hmmm... mmm... kembali saja pada diriku yang sedang belajar.
Belajar. Seiring waktu aku memahami bahwa teman sejati dihitung, dan bahwa siapa pun yang tidak memperjuangkan mereka cepat atau lambat akan dikelilingi hanya oleh persahabatan palsu.
Apa aku sedang berpikir tentangmu, teman?
Dimana rokokku? Apa aku telah menelan semuanya? Mereka ada banyak sebelumnya.. Aneh.
Aku akan berhenti memaki.
Seiring waktu aku belajar bahwa kata-kata yang diucapkan pada saat kemarahan dapat terus menyakiti orang yang aku sakiti, seumur hidup.
Seiring waktu aku belajar bahwa siapa pun dapat meminta maaf, tetapi pengampunan hanya untuk jiwa-jiwa besar.
Seiring waktu aku memahami bahwa jika aku telah sangat menyakiti seorang teman, persahabatan kemungkinan besar tidak akan pernah sama lagi.
Seiring waktu aku menyadari, bahkan jika aku bahagia dengan teman-temanku, suatu hari aku akan menangis untuk mereka yang aku lepaskan.
Seiring waktu aku menyadari bahwa setiap pengalaman hidup dengan setiap orang tidak dapat diulang.
Ini adalah pengalaman seiring waktu yang terus aku tuliskan dan mengukirnya di setiap tempat di setiap sudut. Agar aku memgingat dan kau mengetahuinya.
Kini botolnya kosong, begitu juga kotaknya. Hanya tersisa peluru penuh di genggamanku.
Heheheheh... Pelatuk dijariku dan kepalaku sangat dekat.
Aku belajar menyadari bahwa siapa pun yang mempermalukan atau meremehkan manusia, cepat atau lambat akan menderita penghinaan atau penghinaan yang sama berlipat ganda.
Kini aku telah benar-benar belajar membangun semua jalanku hari ini, karena medan besok terlalu tidak pasti untuk direncanakan. Lagi...
Aku memahami bahwa terburu-buru atau memaksa mereka terjadi akan menyebabkan mereka berakhir tidak seperti yang aku harapkan.
Aku menyadari bahwa pada kenyataannya hal terbaik bukanlah masa depan, tetapi saat aku hidup tepat pada saat itu.
Sedang belajar, waktu akan melihat bahwa meskipun aku bahagia dengan mereka yang berada di sisiku, aku akan sangat merindukan mereka yang bersamaku kemarin dan sekarang telah pergi.
Lama kelamaan aku, kau, kita akan belajar bahwa mencoba memaafkan atau meminta maaf, mengatakan bahwa aku mencintai, mengatakan bahwa aku rindu, mengatakan bahwa aku membutuhkan, mengatakan bahwa aku ingin menjadi teman, sebelum kuburan, tidak lagi masuk akal.
Namun sayangnya, seiring berjalannya waktu...
BAAMM!!!....