Lisa, seorang gadis asal Swedia ini bersekolah di London.
Ia telah lulus SMP dan akan melanjutkan SMA ke London karena permintaan Ayahnya.
Malam itu, Lisa dan Ayahnya pergi menuju bandara untuk segera menaiki pesawat.
Sebenarnya Lisa masih ragu untuk menuruti permintaan Ayahnya karena dia akan berpisah dengan teman lamanya.
Hal itu juga Ayah Lisa minta karena dia akan berbisnis di London.
"Emm... Ayah, kapan kita akan segera berangkat?" tanya Lisa dengan wajah sedih.
"Sebentar lagi kita akan berangkat ke London." balas Ayahnya sembari melihat jam tangan yang ia pakai.
Setelah beberapa saat mereka menunggu, pesawat yang ditumpangi Lisa dan Ayahnya pun memulai penerbangan nya.
17 jam kemudian. Lisa dan Ayahnya telah sampai di London.
Lisa merasa lemas karena semalaman penuh ia menaiki pesawat tanpa menghirup udara luar yang segar.
Ternyata saat itu di London sedang musim salju. Lisa pun kedinginan dan meminta Ayahnya untuk segera memesan hotel.
"Ayah, bisakah kau lebih cepat untuk mencari hotel?" pinta Lisa.
Ayah Lisa yang baik itupun memakaikan jas nya pada Lisa. Dia kemudian mengangguk.
2 hari kemudian, Lisa sudah mulai masuk ke sekolah barunya di London.
Pagi itu Lisa berangkat ke sekolah menggunakan taxi online karena ayahnya sedang sibuk dan tidak bisa mengantarkan Lisa ke sekolah di hari pertamanya.
Sesampainya Lisa disekolah, dia langsung memperkenalkan dirinya pada semua anak dikelas.
Semuanya menjadi terpaku pada Lisa. Mungkin Lisa tidak akan bisa akrab dengan anak baru dengan cepat.
Lisa duduk di bangku paling belakang karena hanya bangku itu saja yang tersisa.
Saat jam istirahat, seorang anak lelaki tampan yang duduk tepat didepan Lisa itu menoleh arah kebelakang.
Dia tersenyum dan meminta nomor telepon Lisa.
Lisa pun memberinya nomor telepon miliknya tetapi dengan syarat hanya mengirim pesan saat ada kepentingan saja.
Anak itupun mengangguk dan pergi keluar kelas.
Hanya tersisa Lisa seorang dikelas. Dia tidak tau harus melakukan apa di jam istirahat.
Tak lama setelah itu, Lisa merasa ingin ke toilet. Dia berlari menuju toilet yang letaknya tak jauh dari arah kelas.
Tetapi Lisa tak sengaja meninggalkan ponselnya di meja tempat duduknya.
Saat Lisa belum kembali ke kelas, ada beberapa anak lelaki satu kelas dengan Lisa yang melihat ponselnya tergeletak.
Hal itu membuat anak anak lelaki itu iseng mengambil ponsel Lisa dan mencatat nomor teleponnya tanpa seizin dari Lisa.
Malam harinya, Lisa terkejut mendapat banyak pesan dari anak lelaki yang menembaknya.
Dia bingung kenapa mereka bisa memiliki nomor teleponnya padahal ia tak memberi nomor telepon pada siapapun kecuali pada seorang anak lelaki tampan yang duduk tepat didepan tempat duduk Lisa.
"Dari mana mereka mendapatkan nomor telepon ku? Apa mungkin... saat aku tak sengaja meninggalkan nya dikelas?" gumamnya.
Tetapi Lisa tidak peduli pada anak anak yang mengirim nya pesan dan menembaknya.
Karena Lisa tidak menyukai percintaan. Apalagi tidak hanya satu atau dua orang yang menembaknya, tetapi ada lebih dari sepuluh.