Rasya menghela nafasnya panjang. Ia menatap wajah cantiknya di cermin. Rambut panjang yang ia gelung di belakang dengan aksesoris menghiasi rambutnya, berpakaian kebaya modern. " Kamu bisa Ra. Semangat !" Gadis itu menyemangati diri sendiri.
Berjalan di antara para tamu orang tua dan kakaknya. Perayaan pertunangan sang kakak Bagas Ardiansyah dan tunangannya Marissa Mayer. Gadis itu mencari tempat untuk bersembunyi karena tak nyaman berpenampilan rapi, feminim dan anggun. Ia harus setor muka dulu baru cabut dari tempat itu.
" Rasya ? Aduh cantik ya, jeng. Coba aku punya anak mantu gini. Aku ajak terus shoping. Jalan-jalan.. " Belum selesai wanita itu bicara ada suara deheman menginterupsi.
" Mhhmm. Ma, aku gabung ke sana ya ?" Suara Reza menatap wajah cantiknya Rasya. Namun gadis itu hanya menunduk mengindari tatapan matanya.
Gadi itu ingat kejadian itu.
" Tolong copet !" Teriakan nyaring dari seorang ibu-ibu yang berlari mengejar dua lelaki di depannya.
Rasya memicingkan matanya jika cowok pertama pasti pelaku jika kedua pasti penolong atau bisa jadi anak ibu-ibu itu. Pikirnya, gadis remaja itu sedang berdiri antri cilok dengan teman-teman seusai pertandingan taekwondo antar sekolah.
" Bang apel satu !" Serunya.
"Tiga ribu neng." Si pedagang menerima uang apel hijaunya. Syuung.. Si pedagang kaki lima itu melongo melihat apel itu terlempar tinggi jauh di sana. Bruukk. Laki-laki itu tersungkur jatuh.
"Wah neng, jago pisan ui .." Serunya bersemangat melihat laki-laki yang dikejar itu tersungkur jatuh. Jarak mereka kurang lebih 5 meter.
Gadis itu berlari cepat sambil mengarahkan tendangannya sekali lompat. Brukk ! Tersungkur lagi laki-laki itu.
" Terimakasih dik. " Reza Rahadian menatap gadis remaja itu. Tertegun sejenak menatapnya.
Gluk." Kak Reza." Batin Rasya yang mundur satu langkah. Gadis itu membalikkan badannya. Antara malu dan takut.
"Reza kau dapat menangkap dia ? Tangkap pak !" Ujar wanita itu dengan petugas pasar. Rasya berjalan cepat menuju tempat teman-temannya.
"Ayo ! Cepatlah kita harus pergi." Bisiknya sambil terus berjalan, teman-teman Rasya berlari mengejar gadis itu.
" Reza kamu kok bengong. Liat siapa ?" Tanya sang ibu. Lelaki itu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya lalu mengikuti petugas tersebut dan mereka kembali ke aktivitas nya.
Flashback. Reza menemani sang ibu ke pasar tradisional modern. Mencari sayuran segar dan bahan pokok lainnya. Karena sang ibu sekalian ke arisan maka dia berdandan, walaupun sederhana namun ia mengenakan perhiasan emas yang berkelas. Makanya terjadilah kejadian naas itu.
"Lain kali pake seragam kebesaran ibu itu, daster !" Sungut Reza dengan mengantarkan sang ibu pulang. Moodnya sang ibu berubah dratis pengin dirumah saja. Wanita itu hanya mengangguk mengerti.
"Seperti nya ibu pernah ketemu anak perempuan itu ya, Za. Anak kenalan ibu kah ? Cantik pandai bela diri ! Bagus !" Puji sang ibu. Tapi tidak Reza. Lelaki itu sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
Cuur.. Air kran mengalir di wastafel. Bukan untuk cuci muka atau cuci tangan. Rasya gelisah. Hari ini ia bertemu lagi dengan orang yang di sukai nya dulu sewaktu masih kecil. Parahnya laki-laki itu melihat sisi berandalan yang ia sembunyikan dari keluarga besarnya.
Nampaknya dia masih ingat, nyatanya ia tak berkedip menatap wajah nya saat mereka bertemu. Dan ia harus menghindar saja. Mungkin ini keputusan yang tepat.