Langit senja perlahan meredup. Warnanya memudar terkalahkan cahaya senja yang merah menyala. Mata Revina menatap tajam bayangan wajahnya dalam cermin di kamarnya. Ia mengutuki diri sendiri. Ia mengumpat jati dirinya yang sudah tidak suci lagi. Ia menghina kebusukan hatinya di balik manis wajahnya.
“Aku tidak pantas menjadi istrinya. Aku tidak pantas menjadi pendamping hidupnya. Walapun dia sudah menduda dua tahun, akan tetapi dia terlalu suci bagi saya,” ungkap kesal hati Revina.
Purnama tidak tahu masalah yang dihadapi Revina. Purnama tidak mengerti bahwa Revina kini telah mengandung janin hubungan gelapnya dengan Wawan. Selama ini ayah Revina selalu menutup-nutupi kehamilan anak gadisnya kepada siapa saja termasuk kepada Purnama. Revina khawatir jika suatu saat nanti kehamilannya diketahui oleh orang banyak terutama Purnama.
Revina berusaha menenangkan pikirannya. Dia berusaha mengendalikan emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Ia ingin fokus agar mendapatkan cara yang tepat untuk menuntaskan masalahnya ini. Wawan sudah berterus terang kalau dia tidak mau bertanggung jawab atas perilaku bejatnya. Dia berdalih bahwa peristiwa itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Sekarang tinggal menjelaskan kepada Purnama perihal dirinya yang sebenarnya. Namun, dia kebingungan bagaimana cara menyampaikannya kepada Purnama.
Kalau hal ini dipesankan lewat ayahnya, jelas tidak mungkin karena ayah Revina selama ini belum pernah menceritakan kepada Purnama mengenai kehamilan anaknya. Bahkan, ayah Revina terkesan menutup-nutupi aib yang ditanggung Revina.
“Revina, Nak Purnama nanti malam rencananya akan datang ke sini. Dia akan mengajakmu berjalan-jalan,” kata ayah Revina memberi kabar kepada dirinya.
Revina terperanjat kaget pada kabar yang telah disampaikan oleh ayahandanya. Ia sontak berdiri sambil memastikan kebenaran warta yang telah disampaikan ayahnya.
“Benar, Vin. Masak ayah membohongi anaknya? Ayah ini orang jujur.”
“Jujur apanya? Dengan Purnama yang lugu saja tidak jujur! Malah dia dikibuli kalau saya masih gadis. Padahal, saya telah mengandung janin yang berusia tiga bulan,” gerutu Revina dalam hati.
“Ya, Pak. Saya percaya,” sambung Revina.
Malam benar-benar tiba. Lampu di ruang tamu menyala terang. Kursi, meja, dan perabot rumah tertata dengan rapi. Sebuah vas bunga duduk dengan anggun di pelataran meja tamu. Bunga-bunga plastik beraneka warna disemprot dengan pengharum ruangan. Ruang tamu keluarga Revina kali ini benar-benar seperti istana.
Suara ketukan di pintu depan rumah Revina terdengar dari dalam ruang tengah. Ayah Revina yang baru saja makan malam di ruang makan segera bangkit menuju ruang depan. Tangan basahnya karena baru saja dicuci segera mengais gagang daun pintu. Dari balik pintu tampak wajah lelaki duda yang diidam-idamkan menjadi menantunya.
“O, Nak Purnama! Silakan masuk!” ayah Revina mempersilakan tamunya duduk di kursi. Purnama duduk dengan meremas-remas tangannya sendiri. Ia diliputi rasa ragu. Revina mau atau tidak diajak pergi.
“Vin, Vina!” panggil ayah Revina.
“Ya, Pak!” sahutnya dari dalam.
Revina muncul dengan dandanan yang mencolok mata. Kaos ketat dipadu dengan celana ketat. Rambut diurai sebahu. Wajahnya merona merah karena polesan make up. Mata binalnya menatap wajah Purnama dengan tatapan manja.
“Mas Purnama!” sapanya.
“I,i,iya, Vina. Ini saya,” jawab Purnama dengan gagap.
“Mas Purnama jadi nggak mengajak jalan-jalan Vina?” tanya Revina manja.
“Jadi, Vin. Saya datang kemari karena menjemputmu.”
“Kalau begitu mari, berangkat! Mumpung belum terlalu malam,” ajak Revina.
“Permisi dulu, Pak!” pamit Purnama kepada ayah Revina.
“Silakan, silakan! Hati, hati di jalan!”
Kedua insan yang baru saja diperkenalkan oleh orang tua Revina segera meninggalkan rumah Revina. Mereka berangkat ke sebuah mall dengan mengendarai sepeda motor.
Usai jalan-jalan dan berbelanja di mal, kemudian mereka berhenti di sebuah warung lesehan. Mereka memesan mie ayam solo kuliner kesukaan Purnama.
“Pak, tambah ceker ayam!” pinta Purnama kepada penjual mie ayam.
Baru lima menit mereka memesan mie ayam, penjual mie tersebut sudah menghidangkan dua mangkuk mie ayam di hadapannya.
“Mari, kita nikmati bersama!” ajak Purnama.
“Terima kasih, Mas!”
Bias lampu penjual mie ayam menerpa dua wajah yang saling menjajaki kepribadian masing-masing. Purnama menceritakan jati dirinya. Dia bercerita pernah menikah dengan Sulis, anak pakdenya. Waktu Sulis mengandung tiga bulan, ia divonis mengidap kanker payudara oleh dokter. Akhinrya, penyakit itu merenggut nyawa Sulis sehingga dirinya harus hidup menduda selama dua tahun ini.
Revina terdiam. Dia tak mampu berucap apa-apa. Kedua bibir yang berbalut lipstick terasa berat menceritakan jati dirinya yang sangat hina. Ia pura-pura tidak mengerti kalau sekarang giliran waktunya menceritakan kepribadiannya.
“Vin!”
“Ya, Mas,” sahut Revina sambil sibuk mengunyah cakar ayam.
“Kamu, kok, diam?”
Revina tersipu malu. Dia tak mampu menceritakan pengalaman hitamnya bersama Wawan yang membuahkan janin yang dikandungnya kini. Tapi, jika dia tidak menceritakan jati dirinya yang sesungguhnya kepada Purnama, tentu akan menjadi beban tersendiri bagi dirinya.
Wajah Revina pucat pasi. Dia takut kalau jati dirinya diketahui oleh orang lain. Dia gugup hingga mangkuk mie ayam di tangan kanannya jatuh dan tertumpah di gelaran terpal.
“Vina! Kau tidak apa-apa?” tanya Purnama.
“Saya tidak apa-apa, Mas,” jawab Revina sambil mengelap tumpahan kuwah mie yang tertumpah.
“Kamu sakit?”
“Tidak, Mas.”
“Wajahmu pucat dan berkeringat seperti itu?”
“Tidak apa-apa, Mas. Ini tadi saya mangambil sambal terlalu banyak sehingga saya tak kuasa menahan rasa pedasnya.”
“Kalau begitu, minum es tehnya biar rasa pedanya cepat hilang!” kata Purnama sambil menyodorkan segelas es teh kepada Revina.
“Terima kasih, Mas!”
Purnama heran. Dia melihat ada sesuatu yang ganjil pada diri Revina.
“Dia seperti menyembunyikan sesuatu dari saya,” kata Purnama dalam hati.
“Vin, berterus teranglah padaku! Janganlah kau merahasiakan sesuatu dariku. Dari sorot matamu sepertinya ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepadaku, tatapi kau tidak berani menyampaikannya.”
Revina diam. Dia tidak percaya kalau Purnama bisa membaca mimik mukanya. Memang benar ada sesuatu yang ingin dia ceritakan kepada Purnama, tetapi dia tidak berani. Dia takut kalau Purnama mengurungkan niatnya menikahi dirinya. Bukankah berterus terang itu lebih baik daripada berbohong yang kemudian menimbulkan banyak permasalahan di kemudian hari. Kejujuran merupakan satu-satunya jalan untuk meringankan beban hidup dirinya walaupun pahit rasanya.
Dengan perlahan Revina mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. Revina memberanikan diri untuk menatap wajah Purnama yang sejak tadi menanti ungkapan hatinya. Sekarang dia berkeyakinan lebih baik berterus terang di awal daripada timbul penyesalan di kemudian nanti.
“Mas, saya ingin mengatakan sesuatu tentang diri saya!”
“Silakan, Vin! Ceritakan kepada saya dengan sejujurnya.”
“Tapi, saya takut.”
“Tidak usah takut. Katakan saja!”
“Sebenarnya…, sebenarnya saya enggan mengatakan ini, Mas. Akan tetapi, ini harus kuceritakan karena menyangkut rencana perjodohan kita.
Saya sudah tidak perawan lagi, Mas. Saya saat ini sedang mengandung janin dari mantan pacarku. Dia telah merayu dan membujuk saya melakukan itu karena dia berjanji akan menikahi saya. Kenyataannya sekarang dia tidak bertanggung jawab. Dia berdalih bahwa yang dia perbuat saat itu karena kesalahan saya sendiri. Bahkan dia sekarang mengelak kalau janin yang kukandung ini bukan darah dagingnya.”
Setelah mendengar cerita Revina, jantung Purnama berdegup kencang. Mukanya merah padam. Keringatnya bercucuran menetes di gelaran warung lesehan. Kedua tangannya mengepal lalu dipukulkan ke alas warung lesehan itu.
“Mas, kecewa?” tanya Revina kepada Purnama.
Purnama menghela napas panjang untuk meredakan emosinya. Dia mencoba mengendalikan gemuruh hatinya karena tertampar cerita Revina. Dia tidak mengira kalau Revina saat ini sedang mengandung tiga bulan.
Lelaki yang menduda dua tahun itu tampak tenang lagi. Dia menunjukkan kedewasaannya dalam bersikap. Demi menjaga tali persaudaraan antara almarhum ayahnya dengan ayah Revina. Dia ikhlas menerima Revia dalam keadaan hamil.
“Tidak, Vin. Saya tidak kecewa pada kamu. Itu adalah masa lalumu yang harus kau kubur dalam-dalam. Aku menerimamu sebagai calon istriku. Kita akan menjalani sisa hidup ini dengan membuka lembaran baru kemudian mengukirnya dengan kebajikan-kebajikan.”
Revina tertunduk malu. Dia terharu mendengar jawaban dari Purnama yang menerima dirinya sebagai calon istrinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi wanita baik-baik. Dia juga ingin mejadi istri yang taat kepada suaminya sampai akhir hidup nanti.
end.